
Harga pangan global kembali melejit ke level tertinggi sejak 2022. El Nino, cuaca ekstrem, hingga konflik geopolitik mulai mengancam pasokan dunia.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Harga pangan global kembali melejit ke level tertinggi sejak 2022. El Nino, cuaca ekstrem, hingga konflik geopolitik mulai mengancam pasokan dunia.
Harga pangan dunia kembali menunjukkan tekanan.
Sejumlah komoditas pangan utama mengalami kenaikan pada Agustus 2026, membuat indeks harga pangan global mencapai posisi tertinggi dalam hampir empat tahun.
Data Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan FAO Food Price Index berada di level 133,3 poin pada Agustus 2026.
Angka itu naik dari 130,8 poin pada Juli 2026.
Posisi tersebut menjadi yang tertinggi sejak November 2022.
Meski belum menyamai rekor 160,2 poin yang tercatat pada Maret 2022, kenaikan terbaru menjadi sinyal bahwa tekanan harga pangan dunia kembali menguat.
Kenaikan tidak hanya terjadi pada satu komoditas.
Kelompok sereal, minyak nabati, gula, daging, hingga produk susu sama-sama mencatat peningkatan harga.
Kondisi pangan global semakin rumit karena sejumlah gangguan terjadi secara bersamaan.
Cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor yang menekan produksi.
Gelombang panas dan kekeringan di Eropa mengganggu prospek produksi jagung serta gula bit.
Di Asia, ancaman El Niño turut membuat pasar khawatir terhadap pasokan minyak sawit dan gula.
Masalah tidak berhenti di sektor produksi. Jalur perdagangan pangan juga menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik.
Perang Rusia-Ukraina kembali mengganggu distribusi biji-bijian melalui kawasan Laut Hitam.
Sementara konflik Amerika Serikat dan Iran ikut memberikan tekanan terhadap rantai pasok pupuk dan ongkos produksi pertanian.
Kombinasi persoalan tersebut membuat pasokan pangan dunia berada dalam kondisi yang semakin rentan.
Gula menjadi salah satu komoditas yang mengalami lonjakan paling besar pada Agustus.
Indeks harga gula FAO tercatat melonjak 11,9 persen secara bulanan.
Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak Juni 2025.
Kenaikan terutama berkaitan dengan penurunan produksi di wilayah sentra Brasil serta kekhawatiran terhadap kondisi cuaca di Eropa dan Asia.
Sementara itu, indeks harga sereal naik 2,2 Persen dari bulan sebelumnya.
Levelnya menjadi yang tertinggi sejak Mei 2024.
Harga gandum juga mengalami kenaikan sekitar 15 persen secara tahunan.
Gangguan pengiriman dari kawasan Laut Hitam menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan tersebut.
Tekanan juga terjadi pada minyak nabati, dimana Indeks harga minyak nabati FAO naik 0,6 persen pada Agustus 2026, sekaligus mencapai level tertinggi sejak Juni 2022.
Pasar masih mencermati potensi gangguan pasokan akibat kondisi cuaca.
Ancaman El Niño menjadi salah satu perhatian karena dapat memengaruhi produksi minyak sawit di kawasan Asia.
Pergerakan tersebut menjadi perhatian bagi negara-negara produsen dan konsumen minyak nabati, termasuk Indonesia yang memiliki industri sawit besar.
Tekanan pasokan semakin terlihat setelah FAO memangkas perkiraan produksi sereal dunia untuk 2026.
Proyeksi produksi dikurangi 3,4 juta ton menjadi 2,98 miliar ton. Jumlah tersebut sekitar 2 persen lebih rendah dibandingkan 2025.
Penurunan tahunan itu bahkan menjadi yang terbesar sejak 2018.
Meski begitu, produksi 2026 masih diperkirakan menjadi yang terbesar kedua sepanjang sejarah.
Persoalan lain muncul dari sisi persediaan.
FAO memangkas proyeksi stok sereal dunia pada akhir musim 2026/2027 sebesar 1,1 persen menjadi 947,2 juta ton.
Penurunan stok ini menunjukkan ruang pengaman pasokan pangan global mulai menyempit.
Jika produksi kembali terganggu sementara permintaan tetap tinggi, tekanan terhadap harga berpotensi semakin besar.
Kenaikan harga pangan dunia perlu menjadi perhatian Indonesia, terutama untuk komoditas yang kebutuhan domestiknya masih mengandalkan pasokan dari luar negeri.
Gandum dan gula menjadi dua komoditas yang patut dicermati.
Ketika harga global naik, biaya bahan baku bagi industri makanan dan minuman juga berpotensi ikut terdorong.
Jika tekanan tersebut berlangsung lama, kenaikan biaya produksi bisa berujung pada harga jual produk yang lebih tinggi di tingkat konsumen.
Dengan ancaman El Niño, cuaca ekstrem, konflik geopolitik, serta gangguan perdagangan yang masih berlangsung, pasar pangan global menghadapi periode yang tidak mudah.
Kenaikan indeks FAO pada Agustus pun menjadi alarm bahwa tekanan harga pangan dunia belum sepenuhnya mereda.