Monday, 28 September 2020


Pelajaran Berharga Pengembangan Biofuel dari Brasil, Indonesia Bisa dari Sawit

11 Sep 2020, 07:01 WIBEditor : Ahmad Soim

Webinar pengalaman berharga dari pengembangan Biofuel Brasil | Sumber Foto:Ahmad Soim

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Profibilitas Pabrik Gula bisa dipertahankan dengan produk sampingnya Biofuel dari Ethanol. Agroindustri ini bisa menghemat devisa Brasil dari impor energi fosil. Semua itu menjadi pelajaran berharga dari pengembangan biofuel berbasis Bioethanol yang dilakukan Brasil untuk pengembangan biofuel Indonesia berbasis kelapa sawit.

Dalam Webinar yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional, Kementerian Riset dan Teknologi tentang “Lesson learned from the development of brazilian bioethanol - based biofuel” (9/9), Menteri Riset dan Teknologi  (Menristek) Prof Bambang Brojonegoro menjelaskan bahwa biofuel di Indonesia bisa dibuat dengan menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku.

“Berkat adanya penemuan baru oleh ITB , maka teknologi pembuatan  biodiesel menjadi lebih baik karena ada inovasi,” tambahnya.

BACA JUGA:

Siapa Pengembang Biodiesel Pertama di Indonesia?

Bungaran Saragih : Sinergikan Kebijakan Replanting dengan Biofuel
Tenang, Harga B100 Tidak Akan Mahal Jika Dijual Komersil

Menristek juga mewacanakan ke depan bahwa Indonesia akan menghasilkan B 100, biofuel yang seratus persen dari sawit. “Pertamina  akan memegang peranan penting dalam melaksanakan program ini,” tambahnya.

Pengembangan perkebunan sawit baru yang produksinya semata mata untuk bahan baku biodiesel, menurutnya bisa dilakukan terutama di daerah perbatasan.  Kalau dilakukan berarti membuka lembaran baru karena akan berkembang industri kelapa sawit yang selain menghasilkan CPO juga produk produk yang berasal dari hulu maupun hilir produk sawit.

Pelajaran Brasil

Penggunaan biofuel di Brasil jelas Soedjai Kartasasmita Ketua Umum Badan Kerja Sama Perusahaan Perkebunan Se-Sumatera (BKS PPS) yang ikut dalam Webinar ini sudah dilakukan sejak tahun 1975 . “Ternyata hasilnya baik sekali karena dapat menghemat devisa dalam jumlah  yang sangat signifikan,” ungkapnya.

Ethanol di Brasil dihasilkan oleh pabrik-pabrik gula sebagai produk sampingan. Kalau harga gula naik produksi ethanol dikurangi dan sebaliknya kalau harga ethanol melonjak maka produksi gula kristal dikurangi.

Dengan demikian tingkat profitabiitas industri gula bisa terjaga. Hal ini terjadi secara menyolok pada tahun 2020.  Harga ethanol anjlok produksi gula digenjot sehingga terjadi oversupply di pasar dengan akibat harga gula merosot sampai 9 cent/pound.

“Sekarang harga gula stabil antar 11 n 12 cent/pound. Sedang harga pasar ethanol juga mengalami peningkatan. Bagi Brazil strategi seperti ini tidak terlalu menjadi masalah,” ungkapnya.

Untuk dimaklumi produksi gula Brazil sekarang sudah mencapai kurang lebih 39 juta ton sedang Indonesia 2,5 juta ton.

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018