Wednesday, 21 October 2026


Budidaya Pisang Indonesia Menggiurkan, Nilai Ekspor 2018 Naik 70,4 Persen

04 Mar 2019, 13:35 WIBEditor : Gesha

Ekspor pisang kini semakin bergairah dan memberikan peluang usaha yang menggiurkan

Volume pisang 2018 sebanyak 30.373 ton, naik 67 persen dari 2017 yang hanya 18.192 ton. Dari volume ini, nilai ekspornya mencapai Rp 204,54 miliar, naik 70,65% dibanding 2017 sebesar Rp 119,86 miliar.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi mengungkapkan budidaya pisang di Indonesia menunjukkan kinerja yang membanggakan dalam memberikan kontribusi terhadap pendapatan negara. Volume dan nilai ekspor pisang 2018 dibanding 2017 meningkat tajam.

Melansir data BPS, volume pisang 2018 sebanyak 30.373 ton, naik 67 persen dari 2017 yang hanya 18.192 ton. Dari volume ini, nilai ekspornya mencapai Rp 204,54 miliar, naik 70,65% dibanding 2017 sebesar Rp 119,86 miliar.

"Ini membuktikan, pengembangan budidaya pisang Indonesia semakin meluas dan produktif, menggiurkan dalam memberikan keuntungan besar. Tentu tidak hanya sekedar dilihat dari meluasnya dalam skala kecil atau kerakyatan, tapi dikembangkan dengan investasi yang cukup besar oleh beberapa perusahaan besar," demikian diungkapkan Suwandi usai menjadi penguji disertasi mahasiswa Pascasarjana Universitas Brawijaya di Malang.

Dalam usaha budidaya pisang, investasi awal yang dibutuhkan senilai 32 juta per hektar. Sentra pengembangan pisang Indonesia sudah menjamur di banyak daerah. Bahkan budidaya pisang banyak dikembangkan perusahaan besar yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga diekspor.

"Sentra pisang di Jawa Timur meliputi Kabupaten Lumajang, Malang. Kemudian Provinsi Lampung ada di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Barat, dan Pesawaran," sebutnya.

BACA JUGA :

Manggis Bogor Melenggang Masuk Negeri Tirai Bambu

Dengan Budidaya Organik, Buah Naga Banyuwangi jadi Kinclong!

Infus Tanaman Membuat Buah Lebat dan Lebih Efisien



Provinsi Jawa Barat pun merupakan sentra budidaya pisang, yaitu Kabupaten Cianjur, Sukabumi, Tasik, Ciamis. Sentra pisang lainnya yakni Purbalingga, Kutai Timur, Deli Serdang, Majene dan Kabupaten Pidie.

"Perusahaan besar yang kembangkan pisang di Indonesia adalah group Great Giant Pineaple di Lampung. PTPN VIII pun tanam pisang di Sukabumi," ucap Suwandi.

Lebih lanjut Suwandi mengungkapkan luas panen pisang nasional mencapai 89.615 hektar, dalam 1 hektar terdapat 1.000 rumpun. Berdasarkan data statistik produksi hortikultura 2017 yang dirilis Direktorat Hortikultura 2018, produksi nasional 7,16 juta ton, dengan produktivitas rata-rata 79,93 ton per hektar.

Virus Kerdil

Dari luasan budidaya pisang, serangan organisme peengganggu Tumbuhan (OPT) juga sudah menurun. Tercatat, di tahun 2017 hanya 2.644 hektar dan di 2018 turun menjadi 2.299 hektar.

"Total serangan ini terdiri dari tingkat serangan ringan 70 persen, sedang 20 persen dan berat 10 persen," sambung Suwandi.

Selain OPT utama pada tanaman pisang seperti layu fusarium, layu bakteri, bercak sigatoka, ulat penggulung daun, OPT yang perlu diwaspadai adalah virus kerdil pisang (Banana Bunchy Top Virus -red).

Virus kerdil pisang ditularkan oleh serangga vektor Aphid Pentalonia nigronervosa. Tidak hanya di kebun budidaya, virus kerdil sudah menyerang pada pisang di hutan liar di lokasi riset. Meskipun total luas terserang virus kerdil itu 2 persen dari total serangan penyakit pisang.

Walaupun virus kerdil ini baru ditemukan di Kabupaten Kutai Kertanegara, belum menyebar di kabupaten lain. Selama ini bagi kebun yang terserang, petani mengendalikan virus kerdil dengan mengendalikan serangga vektornya, pengendalian mekanis dan hayati termasuk dibantu dari predator Aphid.

“Sedangkan untuk pencegahan dengan cara kebun membuka secara steril, benih unggul bersertifikat, merawat kebun sesuai kaidah good agriculture practices, intinya adalah mencegah lebih baik dari mengobati,” pungkas Suwandi.

Reporter : Dessy Puspitasari
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018