Friday, 07 August 2020


Emak-Emak Millenial dari Kerinci Kreatif Olah Bawang Goreng

28 Mar 2019, 00:24 WIBEditor : Gesha

Dengan kreativitas dan peluang serta bantuan yang tepat, emak-emak millenial juga bisa mengolah hilirisasi | Sumber Foto:Dyah

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Kerinci --- Siapa yang tidak kenal dengan Gunung Kerinci?  Gunung tersohor dan tertinggi di Sumatera dengan keindahanTaman Nasional Kerinci Seblat. Eits, bukan hanya itu saja lho ! Emak-emak millenial di Kerinci juga kreatif mengolah bawang merah menjadi bawang goreng.

"Selain sebagai sentra produksi hortikultura, daerah ini juga kaya aneka produk olahan hortikultura. Produk olahan memberikan nilai tambah dan daya saing produk hortikultura," beber Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kerinci, Rieke Evriyantos.

Diakui Rieke, Kerinci memiliki agro ekosistem lahan kering dataran tinggi iklim basah sangat sesuai dijadikan kawasan pengembangan hortikultura, khususnya komoditas sayuran dataran tinggi. Namun dengan produksi yang tinggi, sangatlah perlu diimbangi dengan hilirisasi agar stabilitas harga bisa terjaga.

Salah satu pelaku usaha yang sudah stabil dalam berproduksi adalah KUB Sejahtera di Desa Sungai Sikai, Kecamatan Gunung Tujuh Kabupaten Kerinci.

Ketua KUB Sejahtera, Neni Armida menjelaskan bahwa usaha pengolahan bawang merah segar menjadi bawang goreng ini mencapai 160 - 240 kg kering per bulan dengan total kebutuhan bahan baku sekitar 800 - 1.200 kg.

"Kami tidak kesulitan dalam pemenuhan bahan baku karena sebagian anggota merupakan petani bawang merah. Selain itu produksi bawang merah di Kecamatan Gunung Tujuh selalu melimpah sehingga usaha kami selalu full pesanan," ungkapnya semangat.

Neni memaparkan, jika menggunakan harga rata - rata bawang merah basah sekitar Rp 10 ribu per kg, dan KUB menjual seharga Rp 150 ribu per kg dengan konversi basah ke kering 5 : 1.  Maka keuntungan usaha taninya dalam satu bulan untuk kapasitas olahan 1.200 kg basah bisa memperoleh keuntungan Rp 36 juta.

"Nilai ekonomis yang menjanjikan bukan? Selama ini penjualan untuk memenuhi permintaan dari restoran, rumah makan, pasar lokal Kerinci, Tebing Tinggi dan kafe terus meningkat. Untuk itu kami berharap ke depannya kapasitas produksi dapat terus meningkat," harapnya.

Dirinya juga bersyukur dengan bantuan Kementerian Pertanian berupa sarana pengolahan hortikultura sehingga efisiensi waktu dan tenaga kerja dapat meningkat. Dengan demikian biaya produksi dapat ditekan. 

Bantuan Alat

Kasubdit Pengolahan Hasil Hortikultura, Diah Ismayaningrum menjelaskan bahwa pada 2018, KUB Sejahtera mendapatkan alokasi bantuan sarana pengolahan bawang merah berupa mesin perajang bawang, wajan penggorengan, kompor gas, baki, spinner, sealer dan timbangan.

"Peralatan ini sangat membantu kelompok dalam meningkatkan kapasitas usaha pengolahan dan menurunkan biaya tenaga kerja. Tadinya tenaga kerja butuh 10 orang sekarang berkurang dan menjadi tiga orang saja,” ungkapnya.

Ditemui di tempat berbeda, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik menambahkan bahwa bantuan fasilitasi sarana pengolahan yang diberikan memiliki target dan tujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing selain merupakan salah satu solusi panen raya.

"Harapan selanjutnya, kami meminta agar penerima bantuan juga dapat kreatif dan inovatif sehingga bentuk olahan baik mutu, jenis dan kemasannya dapat bersaing dengan produk negara lain," tutupnya.

Reporter : Diah Ismayaningrum
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018