Friday, 07 May 2021


Kenapa Harus Sapi Monster Belgian Blue?

26 Apr 2021, 12:09 WIBEditor : Gesha

Sapi Belgian Blue menjadi salah satu cara pemenuhan protein asal ternak | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

Oleh : Rochadi Tawaf --- Komite Pendayagunaan Petani

 

Tiga pejabat pemerintah terkesima melihat performa sapi ”monster” Belgian Blue (BB). Dimulai dari respons Menteri Pertanian (2014-2019), Amran Sulaiman yang serta merta meminta jajarannya untuk mengimpor bibit sapi ini pada 2016, kemudian melakukan kajian teknis di BET Cipelang dan kini telah terbit lisensi untuk disebarkan ke seluruh Indonesia. Kemudian  Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, bahkan langsung menuju Belgia melihat sendiri dan merancang untuk mengembangkannya di Jabar. Kini, Erick Tohir Mentri BUMN, di media masa menyatakan akan membeli peternakan sapi BB di Belgia untuk meningkatkan produksi sapi di dalam negeri.

Tapi, sadarkah kita? Mengapa negara-negara pengahasil sapi dunia seperti Brazilia, Australia, Amerika Serikat dan negara lainnya, tidak mengembangkan sapi BB ini?. Jawabnya sederhana, artinya ada masalah mengenai sapi ini.

Sapi BB yang berukuran super besar lebih dikenal dengan nama “monster cattle” merupakan bangsa sapi bos Taurus hasil perkawinan antara sapi Shorthorn atau Durham dengan sapi lokal Belgia. Sapi persilangan ini memiliki warna kulit “kebiruan” sehingga disebut dengan Belgian Blue. Melalui metode seleksi yang ketat dan jangka waktu yang lama, diperolehlah sapi dengan penampilan perototan yang super, layaknya binaragawan. Pada sapi ini, perototan yang menonjol tampak pada hampir diseluruh tubuhnya. Sehingga, sapi ini disebut pula Double Muscle Belgian Blue (DM-BB). 

Sifat double muscle pada DM-BB diperoleh dari mutasi gen myostatin (MSTN) yang fungsinya mengontrol tumbuh kembang otot. Mutasi MSTN menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan otot menjadi tidak terkontrol, sehingga terbentuklah perototan ganda. Maka apabila seekor sapi DM-BB dikawinkan dengan sapi normal maka pedet keturunannya (F1) akan mewarisi gen MSTN hasil mutasi. Selanjutnya apabila F1 kawin dengan sesama F1, atau F1 dikawinkan dengan sapi DM-BB maka peluang munculnya pedet sapi DM akan meningkat.

Sapi DM-BB memiliki kemampuan produksi karkas yang mencapai 80?n meat yield 85%. Performans ini merupakan produksi tertinggi dibandingkan dengan sapi jenis lainnya. Bobot sapi DM-BB jantan dewasa berkisar antara 1,1 – 1,25 ton dengan tinggi badan sekitar 1,45 – 1,50 m. Tidak jarang juga ditemukan sapi dengan bobot hidupnya lebih dari 1,3 ton. Sapi BB betina dewasa bisa mencapai bobot hidup (850 – 900) kg dan tingginya bisa melebihi 1,40 m. Ukuran ini sekitar 2-3 kali lipat ukuran rata-rata sapi yang ada di Indonesia.

Kelemahan Sapi BB

Sapi DM-BB memiliki beberapa kendala sekaligus merupakan kelemahannya, yaitu: walaupun sapi ini berkemampuan mengkonversi pakan yang sangat baik, namun, dia memerlukan pakan berkualitas tinggi yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan tubuhnya yang besar. Dari segi dukungan lingkungan, Sapi DM-BB juga membutuhkan lingkungan yang ideal, manajemen pakan dengan dengan kualitas super untuk memunculkan tampilan yang diharapkan.

Menurut para ahli, ada beberapa kelemahan dalam pengembangan sapi DM-BB yakni kesulitan dalam melahirkan dan memerlukan tindakan sesar, sehingga memerlukan perhatian khusus dalam manajemen pemeliharannya. Kesulitan dalam melahirkan pada sapi DM-BB ini.

Secara fisiologis, terutama disebabkan karena terjadi pula trend pertumbuhan yang sama (double muscle) pada seluruh bagian-bagian tubuhnya; seperti jantung dan saluran didalam tubuh seperti saluran pencernaan dan juga saluran reproduksi. Sebagai contoh, dinding uterus DM-BB betina menebal sehingga terjadi pengecilan ukuran saluran reproduksi yang berakibat pada kesulitan kelahiran, disamping itu ukuran pedet yang besar sehingga tidak dapat lahir secara normal (distochia).

Inilah yang menyebabkan hampir setiap sapi DM-BB yang dilahirkan perlu dilakukan operasi sesar karena besarnya pedet yang dikandungnya. Jika ini dilakukan terus menerus maka secara fisik seekor sapi betina hanya mampu digunakan untuk produksi pedet sebanyak 3-4 kali saja. Padahal sapi-sapi indukan lokal mampu menghasilkan pedet hingga 10 kali beranak.

Selain hal tersebut, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam upaya meningkatkan keberhasilan dalam pengembangan sapi DM-BB, yaitu: Peternak harus memiliki tingkat pengetahuan dan keahlian (skill) yang prima ditambah perlu metoda pemeliharaan dan penanganan yang intensif bagi pedet yang baru lahir sampai umur 6 bulan.

Tak hanya itu, sapi-sapi DM-BB memerlukan temperatur dingin, sementara suhu udara di kita yang cenderung lebih panas bila diperbandingkan dengan di tempat aslinya. Termasuk perlu dukungan infrastruktur sarana kesehatan hewan seperti laboratorium, obat-obatan, paramedic, dan peralatan bagi penanganan proses melahirkan. Kesemua kendala ini belum ada jawaban dari hasil kajian yang mampu mendukung keberhasilannya terutama dari aspek non teknis dan pemasaran hasilnya.

Solusi

Kini, pemerintah melalui Balai Inseminasi Buatan telah memproduksi straw (mani beku) yang berasal dari sapi DM-BB Cipelang dan akan mulai diintroduksikan kepada peternakan rakyat. Mengapa harus sapi Belgian Blue?

Berdasarkan kendala sekaligus kelemahannya, dan belum dilakukannya kajian dari aspek sosial dan ekonomi khususnya pemasaran yang sangat diperlukan. Kiranya kebijakan introduksi sapi DM-BB pure breed jangan dilakukan dulu sebelum lengkapnya hasil kajian non teknis dimaksud Pasalnya, bahwa 98 % peternak sapi kita adalah peternak rakyat dalam kondisi tradisional. Dimana, system perkawinan yang dilakukan menggunakan Inseminasi Buatan (kawin suntik) untuk menghasilkan pedet.

Jika saja sapi-sapi DM-BB ini di introduksikan, diduga kuat akan terjadi depopulasi sapi potong. Pasalnya, indukan yang biasanya bisa melahirkan minimal 8 kali, akan menjadi maksimal 4 kali saja, karena ketidak siapan infra struktur yang diperlukan. Selain faktor iklim yang akan mempengaruhi lemahnya daya adaptasi ternak tersebut, serta efsiensi biaya pemeliharaannya.

Jika saja yang dikawin silangkan F1-BB, ternyata DM-BB nya tidak diturunkan, artinya keunggulan DM nya tidak diturunkan ke anaknya. Hal ini, sesuai dengan penelitian Jakaria dkk (2021). Sesungguhnya, persilangan F-1 dengan sapi lokal sama saja hasilnya dengan persilangan sapi premium lainnya (Limousine atau simental). Jadi sesungguhnya mengapa kita harus memaksakan sapi BB yang penuh dengan resiko.  Kiranya, artikel ini menjadi bahan pertimbangan para pihak.... semoga

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018