
Direktur RSPO Indonesia, Tiur Ruomdang sedang memaparkan pentingnya industri sawit berkelanjutan
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Industri Kelapa Sawit sering disorot dengan isu lingkungan. Padahal sebagai pemasok produk sawit terbesar dunia, Indonesia menyadari pentingnya sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
RSPO didirikan tahun 2004 sebagai pendekatan berbagai pemangku kepentingan industri sawit untuk memenuhi permintaan produksi dengan cara yang lebih tepat secara sosial dan lingkungan.
"RSPO juga menjadi modal utama bagi Indonesia, dalam mengembangkan minyak sawit berkelanjutan di masa depan," kata Direktur RSPO Indonesia, Tiur Rumondang, dalam diskusi bertema "Sukses Sawit Berkelanjutan", di Jakarta, Kamis (25/10).
Menurut Tiur, RSPO turut memperjuangkan keberadaan minyak sawit Indonesia agar bisa dikonsumsi pasar global.
Produsen sawit yang menggunakan logo keberlanjutan RSPO dipastikan produk minyak sawitnya telah dikenal sebagai produk berkelanjutan.
"Sertifikat RSPO yang diberikan kepada perkebunan sawit Indonesia, berlandaskan hasil audit independen yang telah dilakukan lembaga sertifikasi nasional,” jelasTiur menjelaskan.
Keberadaan RSPO, lanjut Tiur, merupakan bagian dari kepentingan bersama akan keberadaan minyak sawit yang kian meningkat konsumsinya.
Minyak sawit berkelanjutan menjadi satu-satunya minyak nabati global yang telah berhasil melaksanakan prinsip dan kriteria berkelanjutan secara universal.
"Karena itu, minyak sawit merupakan satu-satunya minyak nabati berkelanjutan yang ada di dunia yang mampu dihasilan oleh perusahaan perkebunan dan petani kelapa sawit,” papar Tiur.
Tiur juga menjelaskan petani sawit mendapatkan banyak keuntungan dari sertifikat RSPO yang mereka dapatkan.
Berdasarkan data RSPO, minyak sawit berkelanjutan yang berhasil diproduksi dunia mencapai 14,31 juta ton. Dari jumlah tersebut sebanyak 7,46 juta ton atau sekitar 52%, lebih berasal dari produksi sawit Indonesia.
Tentunya, hal tersebut menjadi prestasi besar Indonesia, sebagai produsen terbesar CPO dunia. "Kini predikat terbesar produsen minyak sawit berkelanjutan, juga melekat kepada Indonesia," ujarnya.
Menurut Tiur, sebagai produsen sawit terbesar dunia, Indonesia tak hanya mengembangkan bisnis minyak sawit semata.
Keberadaan industri sawit diharapkan bisa menjadi bagian dari pembangunan nasional yang berkelanjutan yang bertujuan untuk menyejahterakan kehidupan masyarakat.
Data menyebutkan, lahan perkebunan sawit nasional pada tahun 2017 sekitar 12 juta ha. Dari jumlah tersebut sebanyan 42% lebih dimiliki petani sawit.
Untuk itu, industri sawit bisa menjadi bagian dari pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dunia (SDGs).