
Rakor LTT Provinsi Jawa Tengah
TABLOIDSINARTANI.COM, UNGARAN --- Menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau tahun ini, Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia bergerak cepat dengan meningkatkan kewaspadaan dan mengakselerasi program Percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) padi di berbagai daerah, terutama di Provinsi Jawa Tengah.
Sebagai bentuk keseriusan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan RI menggelar Rapat Koordinasi LTT dan Antisipasi El Nino 2025 di Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jawa Tengah, Ungaran.
Rakor ini menjadi forum strategis untuk memperkuat sinergi antarinstansi dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional, khususnya komoditas padi.
Kegiatan ini menghadirkan jajaran penting dari berbagai instansi, mulai dari kepala dinas pertanian dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah, Bulog, BMKG, Kepolisian Daerah Jawa Tengah, BBWS, serta akademisi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Diponegoro (UNDIP).
Turut hadir pula perwakilan dari Kementan pusat seperti Sekretaris Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Dr. Ir. Hermanto, MP, serta Direktur Hilirisasi Hasil Tanaman Pangan, Mulyono, SP., MM. Pihak TNI juga hadir melalui Letkol Inf. Akhmad Alwi dari Kodam IV Diponegoro.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, SP., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan komitmen kuat Pemprov Jateng untuk terus menjaga peran strategis daerahnya sebagai lumbung pangan nasional.
Menurutnya, kolaborasi antarwilayah dan percepatan tanam pada musim kemarau basah harus menjadi fokus utama untuk memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga.
Rapat ini menghasilkan sejumlah langkah konkret yang segera diterapkan di lapangan, mulai dari penguatan pendampingan petani, optimalisasi sistem irigasi dan pompanisasi, hingga pemanfaatan bantuan APBN untuk pengadaan sarana dan prasarana pertanian.
Tak hanya itu, upaya cetak sawah baru dan optimalisasi lahan juga menjadi bagian penting dari strategi menghadapi dampak El Nino.
Rapat juga membahas pentingnya intervensi bantuan dari Kementan berupa alat dan mesin pertanian, serta irigasi dan pipanisasi, yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik di setiap kabupaten/kota.
Survei investigasi desain lahan sawah yang melibatkan para akademisi dari UNDIP dan UNS turut menjadi bagian dari rencana teknis percepatan tanam dan peningkatan produktivitas.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sebelumnya menegaskan bahwa pihaknya telah menargetkan penanaman padi seluas 250 ribu hektare pada April 2025, sebagai bagian dari Gerakan Tanam Serentak yang diinstruksikan Presiden RI Prabowo Subianto.
Hingga pertengahan April, sebanyak 156 ribu hektare telah ditanami, dan target dipastikan akan tercapai.
Menjelang musim kemarau, Gubernur Luthfi menginstruksikan para bupati dan wali kota untuk terus mendorong percepatan tanam, agar target produksi padi sebesar 11 juta ton sepanjang 2025 bisa tercapai. Saat ini, Jawa Tengah telah memproduksi sekitar 4,9 juta ton padi.
Dalam pernyataannya, Luthfi menekankan pentingnya menjaga stabilitas produksi pangan secara merata di seluruh wilayah, terutama di daerah-daerah yang rawan kekeringan. Ia juga memastikan bahwa daerah-daerah tersebut akan mendapat prioritas pengairan.
“Jawa Tengah ditargetkan pemerintah pusat untuk menopang ketahanan pangan nasional. Maka sinergi antardaerah dan respons cepat menghadapi tantangan pertanian sangat diperlukan, apalagi menjelang musim pancaroba,” ujar Gubernur.