Petani di saluran irigasi yang kekeringan
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---El Nino moderat yang berpotensi menguat membuat mayoritas wilayah Indonesia terancam mengalami musim kemarau lebih panjang dan lebih kering pada 2026. Kondisi tersebut menjadi ancaman bagi sektor pertanian yang memang sangat tergantung dengan alam. Namun di tengah tantangan, tetap ada peluang yang bisa dimanfaatkan.
Ancaman musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino mulai menjadi perhatian serius pemerintah. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.
Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan besar dalam menjaga produksi pangan nasional dan mempertahankan swasembada pangan. Karena itu, berbagai langkah antisipasi mulai disiapkan, mulai dari penyediaan air irigasi, pupuk, benih hingga upaya mengendalikan serangan hama dan penyakit tanaman.
Ketua Tim Kerja Prediksi Indeks Iklim Direktorat Perubahan Iklim BMKG, Indra Gustari, mengatakan informasi prediksi iklim menjadi sangat penting sebagai dasar pengambilan kebijakan, mitigasi dan langkah antisipasi di berbagai sektor, terutama pertanian.
"Langkah intervensi, mitigasi dan kebijakan tentu harus melihat bagaimana kondisi iklim ke depan dan bagaimana perkembangan El Nino ke depan," kata Indra dalam Webinar Menjaga Produksi Pangan Saat El Nino Datang yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PT Pupuk Indonesia, Rabu (10/6).
Indra mengatakan Indonesia sudah beberapa kali mengalami El Nino kuat, yakni pada 1997, 2015, 2019 dan 2023. Dari pengalaman tersebut, BMKG mencatat El Nino kuat dapat memicu defisit curah hujan hingga 50-80 persen di sebagian besar wilayah Indonesia.
Tantangan dan Peluang
Menurut dia, dampak fenomena ini tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga meluas ke sektor sumber daya air, lingkungan hingga kesehatan masyarakat. Pada sektor pertanian dan pangan, El Nino berisiko memicu gagal panen (puso), menggeser musim tanam hingga satu sampai dua bulan, serta meningkatkan ketergantungan terhadap cadangan beras nasional maupun impor.
Dampak serupa juga mengancam sektor sumber daya air dan energi. Kondisi kekeringan dapat menyebabkan waduk mengalami penyusutan, debit sungai untuk kebutuhan irigasi menurun, kapasitas pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berkurang, hingga memicu krisis air bersih di sejumlah daerah.
Selain berbagai dampak tersebut, El Nino kuat juga berpotensi mendorong kenaikan harga pangan. Pengalaman sebelumnya, BMKG mencatat harga beras dapat melonjak sekitar 15-25 persen akibat tekanan inflasi pangan bergejolak seiring berkurangnya produksi akibat kekeringan.
Meski membawa berbagai risiko, BMKG menilai fenomena El Nino tidak selalu berdampak negatif. Kondisi cuaca yang lebih kering justru membuka sejumlah peluang yang dapat dimanfaatkan petani melalui penyesuaian pola tanam dan pemilihan komoditas yang tepat.
“Musim kemarau yang lebih panjang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan tanaman palawija dan komoditas yang relatif tahan terhadap kekeringan, seperti sorgum, singkong, tembakau, serta beberapa tanaman perkebunan,” tuturnya.
Sejumlah komoditas hortikultura, terutama buah-buahan berpotensi menghasilkan kualitas yang lebih baik pada kondisi cuaca yang lebih kering. Kondisi minim hujan juga mendukung proses panen dan pengeringan hasil pertanian menjadi lebih cepat, sehingga dapat menekan risiko kerusakan produk. Tingkat kelembapan yang lebih rendah pun berpotensi mengurangi serangan penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur maupun bakteri.
"El Nino memang memberikan dampak negatif seperti gagal panen, pergeseran kalender tanam dan peningkatan hama tertentu. Namun demikian, ada peluang yang bisa dioptimalkan dengan pengaturan waktu tanam serta memperhatikan ketersediaan air," kata Indra.
Karena itu, ia mengingatkan seluruh pemangku kepentingan, khususnya di sektor pertanian, untuk menjadikan informasi iklim sebagai dasar dalam menyusun strategi produksi pangan. Langkah antisipasi yang tepat sangat menentukan kemampuan Indonesia menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman kemarau panjang.
Dengan potensi El Nino yang diperkirakan masih berlanjut hingga akhir 2026, kesiapsiagaan menjadi faktor penting agar produksi pangan tetap terjaga, meski sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan kering dibandingkan kondisi normal.
Kemarau berlangsung sejak April dan diperkirakan sampai Oktober. Mana saja wilayah yang terdampak. Baca halaman sebelumnya.



