
Varietas benih ubi jalar
Mas Dar mengakui, tantangan utama dalam pengembangan ubi jalar bukan terletak pada ketersediaan lahan, sumber daya manusia, maupun teknologi budidaya, melainkan pada penyediaan benih atau bibit unggul yang memadai. Ada beberapa varietas unggul ubi jalar yang telah dilepas.
Misalnya, Beta 1, varietas ubi jalar ini memiliki daging umbi berwarna merah. Varietas ini pertama kali ditemukan pada tahun 2009, memiliki potensi hasil 35,7 ton/ha. Umur panen yaitu 4 hingga 4.5 bulan setelah tanam. Kandungan gula 8 persen, serat 4 serat, dan pati basah 73.25 persen.
Ada juga varietas Beta 2 merupakan hasil pemuliaan tanaman lanjutan dari beta 1. Cirinya, kulit pada varietas beta 2 berwarna ungu dan daging umbinya berwarna oranye. Dapat dipanen pada umur 4 hingga 4.5 bulan dengan potensi hasil per hektare sebanyak 34,7 ton. Kandungan gula 5 persen, serat 3.5 persen, amilosa 23 persen dan pati basah 17.8 persen. Mirip seperti Beta 1, varietas Beta 2 juga memiliki ketahanan terhadap penyakit kudis dan boleng.
Karena itu, Mas Dar menganggap, percepatan pelepasan varietas hasil penelitian menjadi langkah penting untuk mendukung perluasan pengembangan komoditas tersebut.
“Kami siap mendukung pengembangannya dalam skala besar. Paling penting adalah memastikan ketersediaan bibit unggul agar petani memiliki akses terhadap varietas yang produktif dan sesuai kebutuhan pasar,” tegasnya.
Kementan optimistis pengembangan ubi jalar dapat menjadi salah satu model pembangunan pertanian berbasis inovasi yang mampu memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus meningkatkan daya saing komoditas lokal Indonesia di tingkat global.
Dukungan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan mampu mempercepat lahirnya varietas unggul dan pengembangan kawasan budidaya ubi jalar secara berkelanjutan.