Tuesday, 18 August 2026


Titik Kritis Budidaya Padi PM-AAS

21 Jul 2026, 13:15 WIB

Pengamatan OPT

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kementerian Pertanian saat ini terus memasifkan inovasi baru dalam budidaya padi. Namanya, Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS). Bahkan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman telah menggelar dua kali rapat koordinasi dengan daerah untuk memperkenalkan lebih lanjut metode budidaya ini.

Pertama, Rapat Koordinasi Perluasan Pelaksanaan PM-AAS secara hybrid, Jumat (26/6). Kemudian kedua pada Kamis (9/7) yang berlangsung di gedung Kementerian Pertanian. Bukan hanya itu, saat gelaran akbar Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan ke XVII di Gorontalo, metode ini diperkenalkan dalam Gelar Teknologi. Bahkan sempat dikunjungi Presiden Prabowo Subianto.

Ternyata PM-AAS merupakan hasil riset dan pengujian lapangan selama hampir dua tahun. Model ini memadukan pengalaman penerapan sistem jajar legowo di Indonesia dengan praktik budidaya modern di Arkansas, Amerika Serikat, serta pemanfaatan teknologi pertanian presisi yang berkembang di China.

Apa yang membuat inovasi budidaya ini dianggap unggul? Salah satu karakteristik utama PM-AAS adalah peningkatan populasi tanaman dalam 1 hektare (ha). Pada sistem konvensional, populasi tanaman umumnya hanya kisaran 160 ribu rumpun/ha. Melalui pengaturan jarak tanam yang lebih rapat, PM-AAS ada peningkatan populasi menjadi sekitar 800 ribu hingga 1,2 juta rumpun/ha.

Dengan meningkatkan populasi diharapkan terjadi peningkatan produktivitas tanaman. Jika selama ini produktivitas padi hanya sekitar 5-6 ton/ha, maka dengan metode ini pemerintah berharap bisa mencapai 9-10 ton/ha. Peningkatan produksi tersebut akan menambah pasokan beras di dalam negeri.

Namun konsekuensi model PM-AAS yang perlu mendapat perhatian adalah meningkatnya kepadatan populasi tanaman akan menimbulkan kelembapan yang lebih tinggi dalam pertanaman. Padahal lingkungan yang lembab dapat mempercepat perkembangan sejumlah penyakit, terutama jika petani tidak memantau secara rutin.

Dalam sistem PM-AAS, beberapa penyakit wajib mendapat perhatian khusus karena berpotensi berkembang lebih cepat pada populasi tanaman yang tinggi. Salah satunya, hawar daun bakteri (kresek) yang berpotensi muncul lebih tinggi apabila kelembapan di dalam pertanaman meningkat.

Selain hawar daun bakteri, petani juga perlu mewaspadai penyakit blas, serta serangan busuk batang yang dapat berkembang pada kondisi lingkungan yang mendukung. Di sisi lain, sejumlah hama utama seperti wereng batang cokelat, penggerek batang, tikus sawah, dan keong mas tetap menjadi perhatian selama musim tanam.

Untuk itu, pemantauan lapangan dilakukan secara rutin sehingga tindakan pengendalian dapat dilakukan sebelum populasi OPT (organisme pengganggu tumbuhan) berkembang menjadi ledakan serangan. Apalagi saat musim kemarau panjang, biasanya akan ada peningkatan hama dan penyakit.

Karena itu, model PM-AAS ‘wajib’ menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang menekankan pemantauan populasi OPT secara berkala sebelum tindakan pengendalian. Jadi pengendalian hama dan penyakit berdasarkan hasil pengamatan lapangan. Sedangkan penyemprotan pestisida menjadi jalan terakhir dalam pengendalian organisme penganggu tumbuhan.

Disinilah peran penyuluh pertanian untuk mengingatkan petani yang akan menerapkan PM-AAS.

Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018