Saturday, 08 August 2026


Teknologi PM-AAS Perlu Benih Lebih Banyak, SHS: Perencanaan Lebih Panjang

05 Aug 2026, 16:27 WIBEditor : Yulianto

Benih padi unggul menjadi syarat keberhasilan program PM-AAS

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Keberhasilan implementasi Program Pertanian Modern Advance Agricultural System (PM-AAS) tidak hanya ditentukan teknologi budidaya, tetapi juga ketersediaan benih unggul dalam jumlah yang memadai. Dengan kebutuhan benih yang lebih banyak dalam penerapan teknologi tersebut, sehingga perlu perencanaan lebih panjang.

Menjawab tantangan tersebut, PT Sang Hyang Seri (SHS) menegaskan komitmennya untuk menjadi salah satu tulang punggung penyediaan benih padi nasional. Komitmen tersebut disampaikan VP Supply Chain Management PT Sang Hyang Seri, Dias Agriana, dalam webinar bertajuk "Pertanian Modern Advance Agricultural System (PM-AAS): Revolusi Budidaya Padi" yang diselenggarakan Tabloid Sinartani bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia, Rabu (5/8).

Menurut Dias, penerapan PM-AAS dengan pola tanam berjarak rapat, termasuk berbagai sistem jajar legowo, membutuhkan volume benih yang jauh lebih besar dibandingkan pola budidaya konvensional. Karena itu, kesiapan industri perbenihan menjadi faktor penting agar program tersebut dapat berjalan sesuai target.

"Kebutuhan benih untuk PM-AAS memang sangat tinggi. Kami di Sang Hyang Seri siap mendukung program ini, terutama dalam penyediaan benih, bersama produsen benih lainnya yang selama ini juga mendukung berbagai program pemerintah," ujarnya.

Sebagai BUMN yang bergerak di bidang produksi benih, terutama benih padi, SHS memiliki jaringan produksi yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Perusahaan juga didukung kawasan produksi utama di Sukamandi seluas 3.162 hektare yang secara khusus didedikasikan untuk memproduksi benih padi.

Saat ini SHS memiliki 42 unit pabrik benih. Pada 2026, sebanyak 27 unit telah diaktifkan kembali dan beroperasi di berbagai daerah, termasuk unit baru di Merauke, Papua Selatan, untuk memperkuat pengembangan perbenihan di kawasan timur Indonesia.

Perencanaan Panjang

Dias mengakui kebutuhan benih PM-AAS sangat besar sehingga membutuhkan perencanaan jauh hari. Produksi benih tidak dapat dilakukan secara instan karena harus diawali dengan penyediaan benih sumber, proses penangkaran, hingga sertifikasi sebelum siap disalurkan kepada petani.

"Perbenihan memerlukan waktu. Karena itu kami berharap dukungan penyediaan benih sumber dari BRMP agar varietas yang diproduksi sesuai rekomendasi dan kebutuhan petani. Persiapan untuk kebutuhan Semester I Tahun 2027 bahkan harus dimulai sejak musim tanam saat ini," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya sinkronisasi antara rekomendasi varietas dengan kebutuhan di lapangan. Karena itu diharapkan penyuluhan kepada petani mengenai varietas-varietas unggul yang direkomendasikan perlu terus diperkuat agar benih yang diproduksi produsen dapat terserap secara optimal.

"Benih yang kami produksi mengacu pada CPCL petani. Karena itu pengenalan varietas kepada petani menjadi sangat penting agar produksi dan kebutuhan di lapangan benar-benar sejalan," ujarnya.

Bagaimana kesiapan PT SHS memproduksi benih untuk program PM-AAS? Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018