Friday, 16 April 2021


Ragam Food Estate dan Model Penyuluhannya dari IPB University

04 Apr 2021, 08:20 WIBEditor : Ahmad Soim

Presiden Joko Widodo meninjau kawasan food estate di Sumba Tengah NTT | Sumber Foto:Dok Sinar Tani

 

 TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta - Ada beberapa ragam food estate yang bisa dikembangkan. Di antaranya, food estate di lahan kawasan baru yang luas. Namun mungkin saja, food estate dikembangkan dengan melakukan konsolidasi lahan pertanian yang ada.

Struktur dan strategi bertani jelas Prof Sumardjo Guru Besar Komunikasi dan Penyuluhan Pembangunan Fakultas Ekologi Manusia IPB University, perlu memperhatikan sumbedaya insani petaninya, karena ini yang disebut penyuluhan. Human kapital itu penting dan sangat mutlak. Juga modal sosial. Sosial kapital menjadi penting, yakni informasi tepat guna, ide, gagasan dan terobosan terobosan yang local spesifik, cocok, dan tepat guna. Itu yang diterapkan di Food Estate.

Keberhasilan pengembangan food estate menurutnya perlu memperhatikan tantangan agribisnis berkelanjutan yang selama ini dihadapi di Indonesia dan mengambil solusi yang tepat. Tantangannya  adalah usaha tani skala kecil, petaninya berpendidikan relatif rendah, areal kecil, rendah modal dan produktivitas rendah. “Ini yang perlu kita atasi,” tambahnya. Kondisi ini berdampak pada rendahnya efisiensi dan kualitas produk yang rendah. Juga memperngaruhi lemahnya harga di pasar produk.

Pada sisi lain, upaya pemerintah dalam pembangunan pertanian masih dilakukan dalam bentuk tidak berkelanjutan, proyek dan tidak mengembangkan sumberdaya insantai secara konsisten. Tekadnya sudah ada tapi di lapangan kelembagaan pembangunan di daerah belum tepat. Akibatnya, upaya pembangunan pertanian jadi gagal, karena tidak adanya strategi pengembangan kelembagaan yang memadai.

 

Ragam dan Modelnya

“Kita perlu mengatasi kelemahan pertanian pangan tersebut,” tegasnya. Untuk mengatasinya dalam food estate itu disediakan pendidikan yang berkualitas untuk pelaku utama dan pelaku usaha. Kalau disitu lahan yang baru, maka disitu disediakan calon calon penyuluh swadaya yang dia lulusan perguruan tinggi, lahanya kalau perlu diberi hak pakai 5-10 ha. Ini akan menjadi penyuluh swadaya yang akan menyambungkan ke masyarakat yang vocal, kayak transmigrasi dan dia menjadi lokomotif, jadi champhion. Kita disain begitu. Dan penyuluhnya ya professional, karena ini memindahkan lulusan Polbantan yang pendidikannya tinggi, maka penyuluh itu harus betu betul professional.

Kalau di luar lahan kawasan yang luas itu, maka konsolidasi lahan itu penting. Seperti di Cianjur, ada generasi milenial, sarjana, ia yang mengkonsolidasikan lahan itu. Petani menjadi karyawannya kemudian nanti  ada bagi hasil karena dia kontribusi dalam lahan.

Kalau itu lokasi khusus maka penyediaan lahan ini menjadi penting.  Saya sarankan lahan itu hak pakai,  kalau niatnya jangka panjang. Karena kalau hak milik itu, begitu jadi hak milik dijual bebas, tapi kalau hak pakai, kalau dipakai dia punya hak, kalau dijual hilang haknya secara otomatis. Sehingga berkelanjutan.

Kemudian sumberdaya insani dan kelembagaan petani yang kuat, penyediaan saprotan, permodalan dan pemasaran itu bisa ditingkatkan. Menurut saya yang paling rendah kelembagaan petani gapoktan. Kalau Poktan sudah tidak sesuai dengan konsep dan teori. Ini harus kuat dan kemudian mengembangkan indutri dan jasa terkait dengan pertanian. Didisain  demikian rupa untuk mendukung pertanian. Sehingga hulu hilir akan mengalir, tidak terjadi stagnasi atau persaingan harga dan sebagainya.

BACA JUGA:

Selanjutnya pengembangan integrated farming sistem dengan teknologi tepat guna, dengan muatan   sumberdaya lokal. Misalnya   mengembangkan peternakan sapi di lokasi petani menanam tanaman pangan. Kencing dan kotorannya dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan. Sehingga pupuk organiknya tersedia di situ. Jangan sampai kita anjurkan pola organik, tapi bahannya tidak ada.

 Setidaknya mesti diperhatikan dalam kelembagaan agribisnis berkelanjutan itu empat hal berikut. Pertama, kesiapan sumber daya insani dan kelembagaannya (Human & Social Capital). Kedua, pelesterian potensi sumberdaya Alam/ lingkungan (Natural Capital). Ketiga, pengelolaan sumberdaya ekonomi (Economic Capital). Mencakup: manajemen produksi agribisnis yakni pengadaan input, proses produksi, pengolahan hasil/ packaging, pemasaran; Pemasaran dan Distribusi Produk Agribisnis; Manajemen Risiko Agribisnis, dan Manajemen Teknologi Inovatif Agribisnis. Keempat, kelembagaan pendukung agribisnis.  

 

Food Estate Era Industri 4.0

Program food estate ini berbeda dengan rice estate atau pengembangan beras.   Pola pertaniannya tidak satu jenis komoditas saja. Food Estate merupakan konsep pengembangan produksi pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan, bahkan peternakan yang berada di suatu kawasan lahan yang sangat luas. Food estate dijadikan lumbung pangan dalam skala besar. Peruntukannya adalah menjaga ketahanan pangan secara nasional.

Kalau Food Estatenya berkaitan dengan padi, lanjut Prof Sumardjo sebaiknya ada lumbung yang menampung produk supaya produk yang disimpan di lumbung itu tidak mudah rusak. Sedangkan kalau berkaitan dengan produk horti, seperti sayuran perlu ada sarana seperti colstorage  untuk penyimpanan.

Hasil hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan dan keberlanjutan komoditi unggul agribisnis dipengaruhi secara signifikan oleh: faktor dan kondisi permintaan (kebutuhan konsumsi dan bahan baku industry), dukungan industri dan jasa terkait (pentingnya agropolitan ~ Industri dan Jasa pendukung pertanian), Persaingan pasar (akses sistem agribisnis & dukungan komunikasi digital), dan struktur dan strategi usaha petani (sumberdaya insani/ human capital & social capital, inovasi tepat guna). 

Dukungan industri dan jasa penting untuk mewujudkan agropolitan yakni pengembangan kota pertanian. Bukan pertanian mendukung industri jasa, melainkan industri dan jasa yang mendukung pertanian. “Ini kata kunci yang selama ini tidak digunakan, tapi menurut saya itu yang diperlukan,” tambah Prof Sumardjo.

Persaingan pasar, akses sistem agribisnis dan dukungan komunikasi digital mau tidak mau pada era industri 4.0 ini diperlukan. Aksesnya kalau tidak ada sinyal, perlu diusahakan agar ada sinyal. Fasilitas BPP akses digital cukup baik, dia melayani kosultasi online dan bisa terlayani dengan baik.

Kita lanjutnya  perlu berpikir dan berorientasi global, bertindak secara local artinya sumber daya local yang ada, sosial, manusia dan lahan. Itu yang harus kita kembangkan dari yang ada. Sebagian besar negara dapat mencapai pembangunan ekonomi berkelanjutan bila sektor pertanian maju didukung sektor industri dan jasa. Ini bisa kita lihat, pengekspor pangan terbesar itu Jepang, Canada, AS dan Australia. Karena mengembangkan konsep itu. Jadi pertanian perlu dikelola secara proporsional dan arif, secara local, adaptif dan akan memberikan multiplayer effect yang nyata dan luas serta didukung sektor ekonomi yang prosfektif untuk meningkatkan kesejahteraan  masyarakat. 

--+ 

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018