
BPP Kecamatan Kroya, Indramayu
TABLOIDSINARTANI.COM, Indramayu--Proyek Integrated Parsipatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP) menjadi salah satu upaya pemerintah mengungkit kapasitas dan kelembagaan petani. Setidaknya ada tiga progam utama dalam proyek tersebut yakni, sekolah lapang (SL), memperbaiki rantai pemasaran dan literasi keuangan untuk petani.
Proyek yang merupakan kerjasama Pemerintah Indonesia dengan ADB-IFAD ini berlangsung sejak 2017-2022. Program yang dilakukan secara simultan selama 5 tahun ini diharapkan dapat menyentuh 4 juta petani penggarap dan pemilik lahan di 74 Kabupaten dalam 16 Provinsi dengan luas 2,5 juta hektar (ha).
Untuk mendukung IPDMIP, Indonesia mendapat bantuan pendanaan dari ADB/AIF sebesar 600 juta dollar AS dan dari IFAD sebesar 100 juta dollar AS. Bantuan ADB/AIF untuk mendanai kegiatan rehabilitasi, peningkatan infrastruktur irigasi dan pengelolaan sistem irigasi. Sedangkan pendanaan IFAD untuk kegiatan peningkatan program penyuluhan, akses pelayanan keuangan, efisiensi pola tanam dan rantai hasil.
Setelah hampir berjalan lima tahun, kegiatan IPDMIP kini mulai dirasakan petani manfaatnya. Seperti Wasikin. Ketua Kelompok Tani Cayut Indah yang tinggal di Desa Suka Salamat, Kecamatan Kroya, Indramayu ini mengaku, menjadi bagian program IPDMIP merupakan berkah sendiri untuk petani dan kelompoknya. Petani yang awalnya tidak mengetahui bagaimana mengelola lahan, kini mulai tersadarkan bagaimana memperlakukan tanah dengan baik.
“Ada dampak positifnya (program IPDMIP,red). Sebelumnya saya tidak tahu apa itu pH tanah, kadang semau petani menggarap tanahnya. Tapi, sekarang petani tahu pH tanahnya ternyata di bawah 4. Ini yang membuat air cepat hilang saat ada hujan,” tutur Wasikin dengan logat Indramayunya saat Tabloid Sinar Tani berkunjung ke BPP Kroya, beberapa waktu lalu.
Bukan hanya dalam mengelola tanah, Wasikin mengakui, petani juga mulai mengerti dalam memberikan pupuk dan mengendalikan hama. Sebab, dalam sekolah lapang IPDMIP petani diajarkan membuat pupuk organik dan pengendalian hama nabati.
Apalagi ia mengakui, pasokan pupuk subsidi sangat langka. Karena katergantungan petani dengan pupuk kimia sudah tinggi, petani membeli pupuk non subsidi yang harganya jauh lebih mahal. Akibatnya biaya usaha tani menjadi mahal. Namun bagi petani yang tidak memiliki dana cukup, hanya memberikan pupuk seadanya sesuai ‘kantong’.
Dalam proyek IPDMIP ungkap Wasikin, petani juga mendapat pelajaran mengatasi hama dan penyakit. Bagaiman mendeteksi hama sebelum menyebar dan melakukan pencegahan sedini mungkin. Dengan SL IPDMIP, kini produktivitas padi juga mulai terdongkrak naik.
“Harapan saya, program ini dapat dilanjutkan karena bermanfaatan bagi petani, termasuk bagaimana mengajarkan manajemen keuangan. Sekarang ini yang terjadi dalam mengelola keungan, masih besar pasak dari tiang,” ujarnya.
Perbaikan kapasitas petani juga dirasakan Nurdin, Ketua Kelomopok Tani (Poktan) Mandiri, Kecematan Gabus, Kabupaten Indramayu. Baca halaman selanjutnya.