Selasa, 17 September 2019


Tambah Alsintan

28 Jan 2019, 12:45 WIBEditor : Yul

Dryer atau mesin pengering bantuan Kementerian Pertanian

Selain terus melakukan sosialisasi ke petani untuk mengoptimalkan alsintan yang dimiliki, manajemen UPJA Karya Bersama juga berusaha untuk menambah jumlah alsintan. Sebab, seiring bertambahnya minat petani yang menyewa alsintan di UPJA, dengan jumlah alsintan yang ada sudah tak cukup.

“Saat ini kami sudah mulai menambah jumlah alsintan. Seperti rice transplanter yang semula hanya dua unit, saat ini sudah bertambah 1 unit. Sehingga, petani yang tanam padi tak perlu antri lagi,” kata Muhson.

Muhson menganggap, menambah jumlah alsintan seperti traktor dan combine harvester sangat penting untuk pengembangan usaha UPJA. Tercatat, sampai saat ini UPJA Karya Bersama sudah memiliki traktor roda 4 (TR 4) 1 unit, TR 2 4 unit, dan combine harvester (CH) 2 unit.

“Khususnya combine harvester ini kami harapkan tahun ini bisa nambah satu lagi. Dengan bertambahnya alsintan seperti combine harvester, kami bisa lebih leluasa untuk mengembangkan sewa alsintan ke daerah lain,” jelas Muhson.

Muhson juga mengatakan, pada Januari 2019 sejumlah petani di Desa Megonten, Kec. Kebonagung, Demak sudah tanam padi. Nah, padi yang ditanam petani rata-rata sudah berumur 40-45 hari, sehingga diperkirakan pada awal Maret petani sudah mulai panen.

Agar combine harvester yang dimiliki UPJA tak menganggur, Muhson mengatakan, pihaknya sudah mulai menyewakan alat tersebut ke petani Demak bagian utara yang kebetulan saat ini sudah panen. Sementara itu, untuk rice transplanter memang masih ada sebagian petani di Desa Megonten yang menyewa. Sedangkan, untuk olah tanah dengan traktor pada awal tahun ini sudah jarang sekali.

“Kalau untuk di desa kami dan Kecamatan Kebonagung saat ini belum ada yang memanfaatkan combine harvester. Pemanfaatan combine harvester kami perkirakan akan terjadi waktu panen pada awal Maret tahun ini,” jelas Muhson.

Ia mengatakan, karena banyak petani di Kecamatan Kebonagung tak menggunakan combine harvester, mesin pemanen padi ini sampai Februari 2019 akan diarahkan ke daerah lain. Diantara daerah yang akan menjadi sasaran adalah petani di Kecamatan Gajahan dan Karanganyar, Kabupaten Demak bagian utara.

Ongkos sewa CH yang diberlakukan di luar Kecamatan Kebonagung dipatok dengan harga Rp 1,4 juta/bahu. “Kami tak berani mematok dengan harga terlalu tinggi karena sudah banyak pesaing dari sejumlah swasta atau kelompok lain yang menyewakan alat panen tersebut,” papar Muhson.

Di Kabupaten Demak (khususnya Demak bagian utara), lanjut Muhson, saat ini sudah panen padi rata-rata 1-3 ha/hari. Namun kendati petani di Desa Megonten sudah semuanya selesai tanam padi, meski masih ada sebagian petani lainnya yang beru mulai tanam. Petani yang mulai tanam di pertengahan Januari 2019 jumlahnya tak banyak dan lahannya juga tak terlalu luas. “Artinya, rice transplanter yang kami miliki pun masih dimanfaatkan petani meski intensitasnya sudah berkurang,” ujar Muhson.

Menurut Muhson, meski sudah memiliki mesin penggilingan padi dan dryer, UPJA Karya Bersama sampai saat ini masih fokus menyewakan alsintan. Mengapa demikian? Menurut Muhson, karena usaha sewa alsintan ke depan sangat prospektif. “Semakin hari semakin banyak petani yang sadar pentingnya mekanisasi pertanian. Sehingga, petani yang olah tanah, tanam sampai panen banyak yang menggunakan alsintan. Sebab, memang lebih efektif dan efisien,” kata Muhson.

Reporter : Idt
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018