Senin, 18 November 2019


Refugia, si Cantik di Tengah Sawah

12 Sep 2019, 17:00 WIBEditor : Yulianto

Pematang sawah yang ditanami refugia jadi lokasi wisata | Sumber Foto:Indarto

Refugia menjadi salah satu alternatif untuk menekan ledakan populasi organisme pengganggu tumbuhan di pertanaman padi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Hama penyakit ibarat tamu tak diundang yang selalu datang mengunjungi tanaman padi milik petani. Untuk membasmi hama dan penyakit tersebut, petani kerap menggunakan pestisida kimia yang kadang volumenya berlebihan.

Akibatnya hama bukan hilang. Justru yang terjadi adalah hama menjadi resisten terhadap pestisida. Sebenarnya untuk perlindungan tanaman dengan cara lebih alami dan ramah lingkungan. Salah satunya dengan menanam tanaman yang menjadi tempat hidup musuh alami dari hama tersebut yakni refugia.

Refugia menjadi salah satu alternatif untuk menekan ledakan populasi organisme pengganggu tumbuhan di pertanaman padi. Tujuan penanaman refugia di lahan pertanian atau sekitar lahan pertanian merupakan salah satu usaha konservasi serangga musuh alami sehingga agroekosistem di lahan tersebut dapat seimbang.

Biasanya yang ditanam adalah jenis tanaman bunga. Sebab serangga yang menjadi musuh alami hama sangat tertarik dengan tanaman yang berbunga. Jenis serangga tersebut diantaranya kepik, kumbang, lalat, lebah, semut, thrips, laba-laba dan kupu-kupu.

Penyuluh Pertanian di BPP Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Abigael Lomo mengatakan, petani di Desa Sumberjo, Kecamatan Wonomulyo biasanya menanam bunga zinnia untuk dikembangkan dalam blok refugia. Pilihan tersebut karena bunga zinnia selalu mekar dan bunganya beraneka warna.

“Bunga zinnia sangat potensial digunakan sebagai refugia pada lahan tanaman padi karena dapat mengundang banyak musuh alami sehingga membantu penerapan pertanian organik yang sedang semarak di Desa Sumberjo,” tuturnya. Keunggulan tanaman antara lain mudah ditanam atau cepat tumbuh, warnanya beragam, bibit mudah diperoleh, regenerasi tanaman tergolong cepat dan berkelanjutan.

Manajemen Tanam Sehat

Upaya pengendalian hama secara alami dengan refugia juga dilakukan di Desa Jatirejoyoso, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Penyuluh Wilayah Binaan Desa Jatirejoyoso, Ferly P. Tambunan mengatakan, pihaknya kini mengajak petani yang bergabung dalam Poktan Sumber Rejeki menerapkan konsep Manajemen Tanaman Sehat (MTS) dengan pengendalian hama terpadu (PHT). Salah satunya dalam pengendalian hama dengan menanam refugia.

“Manajemen Tanaman Sehat dilakukan mulai dari penerapan saat pra tanam sampai panen. Pemilihan varietas tahan wereng (VUTW), penggunaan pupuk organik, pengembalian pH tanah pemakaian kapur tani, sampai pada penanaman Refugia," katanya.

Menurutnya, tanaman refugia sebagai tanaman yang berfungsi sebagai tanaman singgah/persembunyian/inang dan menyediakan makanan bagi serangan musuh alami OPT.  Bahkan kini Poktan Sumber Rejeki sedang merancang untuk memanfaatkan tanaman refugia sebagai modal pengembangan konsep Wisata Edukasi Pertanian. “Tanaman refugia nanti di tata sedemikian rupa untuk menunjang keindahan lokasi lahan pertanian di Dusun Dawuhan,” ujarnya.

Saat ini petani di Dusun Dawuhan, Desa Jatirejoyoso bisa menanam padi tiga kali setahun (IP 300). Poktan Sumber Rejeki berusaha menjaga keseimbangan ekosistem lahan secara kontinu.

Contoh lain daerah yang telah berhasil mengembangkan Manajemen Tanaman Sehat adalah Desa Besur, Kecamatan Sekarang, Kabupaten Lamongan. Salah satu kegiatannya adalah menanam refugia di sekitar lahan pertanaman padi.

Kepala Desa (Kades) Besur, Abd. Harissuhud mengatakan, untuk mencegah OPT, petani memanfaatkan tanaman refugia sebagai tempat musuh alami. Petani juga memanfaatkan burung hantu untuk mengatasi hama tikus.

Bahkan setelah empat tahun mengaplikasikan MTS, lokasi pertanaman padi milik petani menjadi salah satu destinasi agrowisata. MTS yang diaplikasi petani di lahan 100 ha juga berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan petani. Bahkan kini desa tersebut telah mandiri pangan. Petani juga bisa tanam tiga kali setahun dengan produktivitas 7-8 ton/ha.

 

Reporter : Julian
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018