Kamis, 15 November 2018


Indonesia Berbagi Pengalaman Penanganan Zoonosis untuk 42 Negara

09 Nov 2018, 12:14 WIBEditor : Gesha

Sebanyak 42 negara belajar langsung ke BBVet Denpasar untuk penanganan zoonosis | Sumber Foto:HUMAS PKH

Penanganan Zoonosis harus dilakukan bersama dunia

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Nusa Dua ---- Menindaklanjuti Pertemuan Tingkat Menteri Global Health Security Agenda (GHSA) 2018 Ministerial Meeting, sebanyak 42 negara melakukan kunjungan ke Balai Besar Veteriner (BB-Vet) Denpasar. Disana, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) sebagai delegasi Indonesia berkesempatan berbagi pengalaman penanganan zoonosis.

Pada kunjungan tersebut beberapa negara telah menyatakan ketertarikan dan keinginannya untuk dapat belajar dan bertukar informasi tentang cara kerja dan keberhasilan BB-Vet dalam memitigasi dan menangani beberapa penyakit zoonosis.  

BB-Vet Denpasar sendiri merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis dibawah Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian  yang mengimplementasikan standar internasional dalam melakukan kegiatan surveilans, investigasi, monitoring, metode, dan pelaporan (peta bencana) di bidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner.

Dengan kelengkapan laboratorium (lab) di bidang virologi, bioteknologi, bakteriologi, parasitologi, patologi, dan kesmavet (kesehatan masyarakat veteriner) para peserta kunjungan kerja diajak melihat secara langsung proses dan metode kerja lab yang digunakan  khususnya yang berkaitan dengan penyakit zoonosis (ditularkan melalui hewan).

Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian,  Fadjar Sumping Tjatur Rasa menuturkan semenjak ditetapkan sebagai Balai Besar, BB-Vet Denpasar telah menerima kunjungan belajar resmi dari berbagai institusi lintas negara, baik lembaga setingkat kementerian, saintifik, akademik, maupun lembaga-lembaga lab dari berbagai penjuru dunia. 

BB-Vet menjadi benteng terdepan dalam tindakan pencegahan, pendeteksian, dan penanggulangan penyakit zoonosis di kawasan Indonesia Tengah yang meliputi wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).  BB-Vet Denpasar telah mengantungi sertifikat ISO-17025 (2008) dan ISO-9001 (2015).

Di Indonesia saat ini terdapat 3 BB-Vet, masing-masing adalah BB-Vet Denpasar, BB-Vet Wates (Jawa Tengah), dan BB-Vet Maros (Sulawesi Selatan) serta Balai Veteriner (BVet) masing-masing di Medan (Sumatera Utara), Bukittinggi (Sumatera Barat), Lampung, Subang (Jawa Barat), dan Banjarbaru (Kalimantan Selatan).

BB-Vet Denpasar, menjadi rujukan utama lab nasional untuk penyakit Jembrana (infeksi lentivirus) pada sapi Bali (Bos sondaicus) dan Septicaemia Epizootica: infeksi bakteri di hewan ternak, kerbau, dan babi.  BB-Vet Denpasar juga telah, sedang, dan akan melakukan pemusnahan penyakit yang bersumber dari hewan, yaitu: Brucellosis di Pulau Sumba, NTT (2015); Rabies NTB dan Haemoragic septicaemia (2017); Jembrana Bali (2019-2022); dan Rabies Bali (2019-2020).

“Kunjungan kerja delegasi negara anggota dan peserta GHSA Ministerial Meeting 2018 tidak saja penting dalam perspektif kemampuan Indonesia mencegah (prevent), mendeteksi (detect), dan menanggulangi (respond) penyakit yang bersifat zoonosis, tetapi juga menunjukkan penerapan fungsi lab yang signifikan dalam menjaga kesehatan hewan, manusia, serta lingkungan,” ungkap Fadjar Sumping.

Menurutnya, tantangan besar dalam peternakan dan kesehatan hewan yakni meningkatnya kepedulian global terhadap penyakit hewan lintas batas / penyakit menular yang muncul sehingga laboratorium hewan memiliki peran yang sangat penting dalam sistem kesehatan. 

“Kapasitas laboratorium merupakan prasyarat untuk respons yang efektif dan efisien terhadap penyakit hewan lintas batas termasuk zoonosis”, kata Fadjar Sumping. “Kami akan terus tingkatkan kapasitas untuk menyediakan layanan "laboratorium melalui program kesehatan hewan nasional di Indonesia, serta kerjasama dengan mitra pembangunan di tingkat regional”, pungkasnya.

Delegasi GSHA mengapresiasi kesediaan BBVet Denpasar untuk berbagi pengalaman ini, salah satunya datang dari Menteri Kesehatan Uganda, Jane Aceng yang tertarik dengan fasilitas laboratorium milik Indonesia yang sangat baik, menurutnya penerapan biosafety dan biosecurity telah dilakukan sehingga potensi bahaya yang mungkin akan ditimbulkan dapat diantisipasi. 

Lebih lanjut,  Gluseppe Ruocco,  Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Italia menyampaikan apresiasi kepada Indonesia yang telah memberikan informasi tentang kesehatan hewan yang sangat bermanfaat.

Karena itu, adanya pertemuan GHSA dan kunjungan lapang ini bisa membangun dunia yang aman dari ancaman penyakit menular melalui kerja sama antar negara dengan meningkatkan komitmen untuk mencapai ketahanan kesehatan global, regional, dan nasional sekaligus sebagai bentuk upaya berbagi pengalaman dalam upaya mencegah, mendeteksi, dan merespons cepat berbagai penyakit menular berpotensi wabah.

 

Reporter : Kontributor

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018