Senin, 18 November 2019


Sudjatmono Toni Bersama Balifood Memberdayakan UKM dan Agen Pangan

14 Okt 2019, 15:19 WIBEditor : Ahmad Soim

Sudjatmono Toni | Sumber Foto:Koleksi Pribadi

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor – Arini (51), penjual jamu keliling di Kompleks Yasmin Bogor. Dengan menggunakan sepeda onthel, Ibu ini juga jualan Balifood. Tak disangka omsetnya bisa Rp 300 ribu dalam sehari.

“Sudah 3 tahun lebih saya jualan Balifood, seperti bakso, rendang dan kebab siap saji dalam kemasan, sekalian jualan jamu keliling. Sama sama untuk kesehatan,” kata wanita asal Solo Jawa Tengah ini.

Adalah Sudjatmono Toni yang mengembangkan bisnis pangan olahan halal, berkualitas dan menyehatkan ini. “Melalui Bogor Agro Lestari, kami konsen  pada pengembangan peternakan sapi lokal dalam negeri, yakni sapi Bali dan sapi perah, sebagai pabrik daging dan susu sapi,” jelasnya kepada Sinar Tani.

Industri peternakan sapi lokal menurutnya potensial untuk  dikembangkan guna mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor daging dan susu sapi. “Unit produksinya kami kembangkan bersama usaha kecil menengah (UKM) sebagai pemberdayaan masyarakat,” tutur alumni Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor ini.

 

Dari unit produksi itu, Toni membangun Balifood (industri olahan pangan barbasis sapi bali dan sapi perah) yang menghasilkan yoghurt, bakso, rendang dan kebab olahan, siap saji,  dalam kemasan, sehat, aman dan kaya manfaat. Semuanya bersertifikat halal.

Agen UKM

Ide bisnis ini jelasnya muncul pada sekitar tahun 2014. “Pada  saat itu kami mulai lepas dari ketergantungan bank, satu per satu hutang bank kami lunasi.   Kami melakukan perampingan besar besaran, unit produksi kami buat mandiri, karyawan tidak digaji tapi sistem kerjasama usaha, berbagi tugas dan berbagi hasil,” urainya.

Distribusi produk atau penjualannya memakai sistem penjualan langsung (direct selling), dari produsen – agen – konsumen. “Kami menghindari jalur outlet / supermarket / hypermarket, yang ujung-ujungnya adalah jumlah diperbesar, harga ditekan serendah rendahnya, tapi pembayarannya baru 2 bulan kemudian, dan akhirnya kami harus berhutang ke bank untuk menjalankan bisnis seperti ini,” katanya.

Direct selling ini mendapat sambutan dari UKM.  Pasar yang sudah terbentuk adalah penjualan ke agen agen  di wilayah Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Lampung. “Kami ingin merapatkan penyebaran produk di Pulau Jawa, Lampung dan Sumatera Selatan,” tuturnya.

Agen diberi marjin sekitar 20 persen dari penjualan.  “Sejalan dengan pengembangan pasar, terutama di Pulau Jawa, kami membutuhkan rekanan Usaha Kecil Menengah (UKM) sebagai agen, kami akan memberikan profit marjin yang menarik, sebesar +/- 20%, bonus target, dan juga berkesempatan mengikuti program pengembangan pemasaran yang akan mendapatkan keuntungan +/- 45% modal agen yang diputar per bulan,” jelasnya.

Direct Selling (DS) yang dijalankannya ini menurutnya bukan Multi Level Marketing (MLM). “DS adalah sistem pemasaran yang menjual produk langsung kepada konsumen, dengan pola ini maka konsumen akan menikmati produk Balifood yang berkualitas dengan harga yang relatif lebih murah.” Selain itu, sistem DS akan memangkas mata rantai pemasaran dan mereduksi biaya promosi yang tinggi.

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018