Saturday, 08 August 2026


Lirik Peluangnya, Inilah Produk Hilirisasi Kelapa

23 Jul 2026, 14:02 WIBEditor : Yulianto

Pelepasan ekspor kelapa oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Indonesia berpeluang menjadi raja kelapa di dunia. Beberapa produk hilirisasi kelapa kini telah menjadi penyumbang devisa negara yang sangat besar. Apa saja produk turunan kelapa tersebut?

Ketua Harian Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI), Rudy Handiwidjaja, dalam webinar bertajuk Hilirisasi, Ungkit Nilai Tambah dan Daya Saing Kelapa Nasional yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Rabu (22/7) mengatakan, kopra masih menjadi bahan baku utama industri minyak kelapa nasional.

Berdasarkan data 2024, produksi minyak kelapa Indonesia mencapai sekitar 831 ribu ton atau setara 24 persen produksi minyak kelapa dunia. Dari jumlah tersebut, ekspor minyak kelapa mencapai 656,08 ribu ton dengan nilai sekitar 866,2 juta dollar AS.

Tidak hanya digunakan sebagai minyak pangan, minyak kelapa kini telah menghasilkan berbagai produk hilir bernilai tinggi seperti biodiesel, margarin, mayones, gliserin, hingga berbagai produk oleokimia yang memiliki pasar ekspor luas. Sementara itu, ekspor kopra Indonesia mencapai sekitar 192 ribu ton dengan nilai 29,25 juta dollar AS.

Produk hilirisasi lain yang terus berkembang adalah desiccated coconut (DC). Produksi nasional meningkat secara konsisten, dari sekitar 147 ribu ton pada 2022 menjadi 152 ribu ton pada 2023, kemudian mencapai sekitar 157 ribu ton pada 2024 atau sekitar 29,23 persen dari total produksi global.

Indonesia juga mengekspor sekitar 122,79 ribu ton desiccated coconut dengan nilai mencapai 316,3 juta dollar AS ke berbagai negara seperti Jerman, Brasil, Argentina, Turki dan sejumlah negara lainnya.

Menurut Rudy, permintaan pasar dunia terhadap desiccated coconut terus tumbuh sekitar 3–4 persen setiap tahun. Bahkan, pasar Eropa dan Amerika Utara menunjukkan peningkatan permintaan terhadap produk desiccated coconut organik yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

”Dari produk tersebut juga dihasilkan tepung kelapa (coconut flour), yang kini semakin diminati sebagai bahan pangan sehat karena kaya serat dan bebas gluten,” kata Rudy.

Selain DC, santan juga menjadi salah satu produk unggulan ekspor Indonesia. Produksi santan nasional mencapai sekitar 205,8 ribu ton dengan nilai ekspor sebesar 408,9 juta dollar AS. Indonesia bahkan menjadi eksportir santan terbesar kedua di dunia setelah Thailand.

Berbagai inovasi produk juga terus dikembangkan, mulai dari santan cair, santan bubuk, krim santan hingga whipping cream berbasis santan yang dinilai mampu menggantikan produk berbahan susu sapi. Selain itu, santan juga telah dikembangkan menjadi bahan baku yogurt dan berbagai produk makanan olahan lainnya.

Potensi hilirisasi juga terlihat pada air kelapa. Indonesia mengekspor sekitar 6,89 ribu ton air kelapa dengan nilai 5,6 juta dollar AS, sedangkan coconut water concentrate mencapai 7,24 ribu ton senilai 27,6 juta dollar AS. Berbagai inovasi seperti coco vinegar, coconut water powder, hingga bahan baku kosmetik berbasis air kelapa juga mulai berkembang.

Sementara itu, tempurung kelapa telah diolah menjadi arang, karbon aktif dan briket. Pada 2024, produksi arang tempurung mencapai sekitar 676 ribu ton atau setara 28,12 persen produksi dunia. Nilai ekspor arang tempurung mencapai 268 juta dollar AS, sedangkan karbon aktif menghasilkan devisa sekitar 28,05 juta dollar AS dan briket sekitar 13,04 juta dollar AS.

Tidak hanya itu, sabut kelapa juga memberikan nilai tambah melalui produk serat kelapa, media tanam, hingga bioetanol. Indonesia juga mencatat ekspor gula kelapa sekitar 9,4 ribu ton dengan nilai mencapai 19,49 juta dollar AS.

Dengan berbagai potensi hilirisasi tersebut, menjadi peluang besar untuk terus dikembangkan.

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018