Senin, 19 Agustus 2019


Ahmad Gandrung Beternak Kelinci karena Pasarnya Terbuka

09 Apr 2019, 12:27 WIBEditor : Yulianto

Ahmad di tempat peternakan kelincinya | Sumber Foto:Hairul S

Hitungan Ahmad, dirinya kini meraup untung Rp 4 juta/bulan hanya dengan memelihara induk 20 ekor. Bahkan saat ini masih ada 30 ekor induk cadangan dan dara

TABLOIDSINARTANI.COM, Hulu Sungai Tengah---Meski yang dipelihara adalah ternak kecil, seperti kelinci, tapi siapa sangka keuntungannya besar. Itulah yang durasakan Ahmad, peternak kelinci di Desa Sumanggi Seberang, Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Peternak milenial itu berusia 27 tahun nampaknya sangat antusias memelihara ternak kelinci miliknya. Ahmad menggeluti ternak kelinci baru sekitar 2 tahun setelah termotivasi melihat temannya yang begitu sibuk memberi makan kelinci miliknya.

Sepulangnya dari tempat temannya, ia langsung melakukan persiapan untuk mencoba memelihara dan membudidayakan kelinci. Awalnya Ahmad hanya memelihara sembilan ekor anak kelinci. Namun seiring bergulirnya waktu, kurang lebih satu bulan akhirnya kelinci yang diperlihara melahirkan. 

Selama Ahmad memelihara kelinci, satu ekor induk ada yang melahirkan 4 ekor, 8 ekor, 10 ekor bahkan ada yang melahirkan 12 ekor anak. Melihat induk kelinci yang melahirkan sampai 12 ekor anak ini membuat Ahmad menjadi semakin gandrung mengembangkan usahanya. “Saat ini jumlah kelinci saya sudah mencapai 90 ekor, sebanyak 50 ekor induk dan 40 ekor anak,” katanya.

Ahmad mengakui, beternak kelinci saat ini sangat menguntungkan dan menjanjikan karena pasar sudah terbuka lebar, bahkan pasar sudah tersedia sampai keluar provinsi. Hitungan Ahmad, dirinya kini meraup untung Rp 4 juta/bulan hanya dengan memelihara induk 20 ekor. Bahkan saat ini  masih ada 30 ekor induk cadangan dan dara.

“Saya lebih semangat lagi beternak kelinci, karena satu ekor induk kelinci bisa melahirkan 12 ekor anak.  Jadi kalau saya ingin mendapatkan 100 ekor anak kelinci, maka saya cukup memelihara induk sekitar 20 ekor,” tuturnya.

Ahmad juga memanfaatkan limbah kelinci berupa air kencing sebagai pupuk organik plus. Ia mengumpulkan air kecing tersebut ke dalam galon untuk diserahkan kepada yang berminat dengan meminta jasa mengumpulkan air kencing tersebut Rp 1.000/liter.

Sampai saat ini selain petani yang memanfaatkan limbah kelinci tersebut beberapa penyuluh juga memanfaatkannya untuk keperluan tanaman pekarangan seperti sayuran dan buahan. Dari hasil analisa usaha, Ahmad kini memperoleh keuntungan atau laba sekitar Rp 100 ribu/hari dengan hanya melowongkan waktu kurang lebih 1 jam dalam sehari.

Berdasarkan analisa usaha beternak kelinci saat ini dengan jumlah ternak kelinci sebanyak 90 ekor.

Pembiayaan selama 1 bulan :

A.   Biaya pakan terdiri dari :

1.    Ampas tahu 4 karung (50kg)  x Rp 30.000 = Rp 120.000

2.    Dedak halus 8 blek  x   = Rp 10.000 = Rp. 80.000

3.    Mineral 1kg = Rp 10.000

B.   Pembuatan kandang,

Nilai Awal - Nilai Akhir  =  3.500.000- 500.000 =  Rp  50.000

Jangka usia ekonomis 60 bulan

C.   Jumlah biaya =  A + B = Rp 210.000 + Rp 50.000 = Rp 260.000

Penjualan  :

Penjualan  100 ekor anak kelinci (umur sekitar 1 bulan) = 100 x Rp  40.000

= Rp. 4.000.000,-

Keuntungan :

Keuntungan yang diperoleh = Hasil penjualan – biaya = Rp 4.000.000 – Rp 260.000 = Rp 3.740.000

 

 

Reporter : Hairul Safii
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018