Tuesday, 18 August 2026


Petik Timbang Bayar, Green House Jabal Nuur Panen Melon Organik

06 Aug 2026, 17:37 WIBEditor : Herman Pratikno

Green House Jabal Nuur Panen perdana melon Organik

TABLOIDSINARTANI.COM,  Cilacap --- Green house Jabal Nuur di Desa Panisihan, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, sukses menggelar panen perdana melon organik. Tidak sekadar menghasilkan buah berkualitas, kebun ini juga menghadirkan konsep wisata petik melon yang menjadi daya tarik baru bagi masyarakat.

Sebanyak 750 tanaman melon dari tiga varietas unggulan, yakni Sweet Lavender, The Blues, dan Honey Globe, tumbuh subur di dalam green house berukuran 15 x 20 meter. Seluruh tanaman dibudidayakan secara organik menggunakan media tanam campuran tanah dan kotoran kambing yang telah difermentasi di dalam polibag.

Untuk menjaga pertumbuhan tanaman, petani menggunakan pupuk organik cair (POC) yang diaplikasikan melalui penyiraman (kocor) dan penyemprotan secara berkala. Sistem irigasi sederhana memanfaatkan paralon dan selang untuk memastikan kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi.

Pengelola Green House Jabal Nuur sekaligus Bendahara Kelompok Tani Jabal Nuur, Solachudin Ali Rido, mengatakan keberhasilan panen perdana menjadi bukti bahwa budidaya melon organik mampu menghasilkan buah berkualitas tanpa ketergantungan pada bahan kimia.

"Kami berkomitmen menghasilkan melon yang sehat, aman dikonsumsi, ramah lingkungan, dan memiliki kandungan nutrisi yang baik. Alhamdulillah, mulai dari penanaman, perawatan hingga panen berjalan dengan baik," ujar Solachudin.

Menurutnya, konsep wisata petik melon menjadi strategi pemasaran yang diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung.

"Pemasaran dilakukan melalui wisata petik melon. Semoga dalam satu minggu ke depan semakin banyak masyarakat yang datang membeli langsung ke Green House Jabal Nuur," katanya.

Keberhasilan panen pertama juga menjadi motivasi untuk segera memulai musim tanam berikutnya.

"Bismillah, kami akan kembali menanam melon organik. Untuk penanaman berikutnya, biaya produksi jauh lebih ringan karena hanya membutuhkan bibit, pupuk organik cair, dan tambahan kotoran kambing sebagai media tanam," tambahnya.

Sementara itu, Direktur Hayati Nusantara Farm sekaligus konsultan riset dan pengembangan produk, Sahal Muanan, menjelaskan seluruh pupuk dan pestisida yang digunakan merupakan hasil racikan sendiri sehingga budidaya tetap mengedepankan prinsip organik.

"Pupuk susulan diberikan dengan dosis sekitar 250 cc pupuk organik cair per tanaman setiap empat hari sekali hingga menjelang panen," jelas Sahal.

Ia mengungkapkan, biaya budidaya pada musim tanam pertama mencapai sekitar Rp21 ribu per tanaman hingga panen dengan umur tanaman sekitar 65 hari. Pada musim tanam berikutnya, biaya produksi akan lebih rendah karena sebagian besar sarana sudah tersedia.

Melon yang dipanen memiliki bobot rata-rata sekitar 1,3 kilogram per buah dengan harga jual Rp35 ribu per kilogram. Budidaya dilakukan melalui pola kemitraan bersama Kelompok Tani Jabal Nuur dengan sistem bagi hasil yang disepakati kedua belah pihak.

"Kami membuka kemitraan dengan kelompok tani untuk mengembangkan budidaya melon organik secara berkelanjutan," ujarnya.

Senada, bagian pemasaran Hayati Nusantara Farm, Rasyid Sarwono, mengatakan pihaknya masih membuka peluang kerja sama dengan petani maupun kelompok tani yang memiliki green house tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.

"Kami menawarkan sistem kerja sama bagi hasil sesuai kesepakatan sehingga dapat menjadi peluang usaha yang saling menguntungkan," katanya.

Antusiasme masyarakat mulai terlihat sejak panen perdana. Salah seorang pengunjung, Mami, mengaku sengaja datang bersama keluarganya untuk mencoba sensasi memetik melon langsung dari kebun. Ia membeli lima buah dari tiga varietas yang tersedia.

"Baru pertama kali membeli melon organik di sini. Tadi setelah mencicipi, rasanya manis dan segar," tuturnya.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wilayah Binaan Desa Panisihan, Andiyanta, menilai keberhasilan budidaya ini tidak lepas dari sinergi antara Kelompok Tani Jabal Nuur, Hayati Nusantara Farm, serta dukungan berbagai pihak.

Menurutnya, tanaman melon sangat cocok dibudidayakan di kawasan tersebut karena memiliki suhu yang relatif panas, sementara kebutuhan air tetap dapat dipenuhi berkat lokasi green house yang berada di bantaran Sungai Serayu.

"Melon menyukai suhu hangat, namun kebutuhan air tetap harus terjaga. Lokasi ini sangat mendukung sehingga tanaman mampu tumbuh optimal," jelasnya.

Ia optimistis konsep open farm yang dipadukan dengan promosi melalui media sosial akan semakin meningkatkan minat masyarakat untuk berkunjung.

"Model pemasaran melalui wisata petik melon membuat masyarakat penasaran untuk datang. Apalagi dipromosikan lewat media sosial, tentu akan semakin menarik dan berpotensi menjadi destinasi agrowisata baru di Kabupaten Cilacap," pungkasnya.

Reporter : Wasis
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018