Wednesday, 21 October 2026


CLBK di Warung Juwita

18 May 2021, 05:57 WIBEditor : Ahmad Soim

CLBK

   

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Paimin melangkah pelan ke rumah berpagar besi diikuti Rukanta dan Damiri. Rumah yang agak tinggi di atas jalan itu sedikit berubah. Bentuknya sama seperti dulu, pemiliknya juga sama. Tetapi kelihatan lebih asri karena bersih dan dihiasi banyak bunga sepanjang pagarnya. Sejak dia kenal Juwita, empatpuluh tahun lalu, Paimin tahu bahwa Juwita sudah tinggal di rumah itu bersama orangtuanya. Sekarang dia tinggal di rumah itu bersama anaknya.

Ada warung kecil yang menempel ke bangunan induk. Pintu dan jendelanya lebar, sehingga meja terbuat dari bambu di dalamnya dan segala macam dagangan di atasnya terlihat dari jalan.   

Paimin agak jengah melihat Juwita memandangnya ragu-ragu dari balik pagar rumahnya. Dia tidak mengerti, mengapa tiba-tiba mereka sama-sama merasa malu. Padahal tadi tidak ada sedikit pun ada rasa rindu. Hanya akan bertemu dan bertegur sapa. Itu saja. Tiba-tiba ada perasaan lama yang muncul kembali. Tapi susah untuk menjelaskan perasaan apa itu. 

Paimin tertegun. Juwita juga kikuk. Dia tertunduk setiap  kali Paimin memandangnya. Demikian juga sebaliknya. Paimin segera memindahkan pandangannya ketika Juwita menatapnya. Akhirnya keduanya tersenyum. Kecut. Tak tahu mengapa Paimin saat itu seakan tidak merasa dirinya utuh sebagai laki-laki. Persis seperti bait-bait dalam lagu Yesterday yang dinyanyikan John Lennon pertama kali pada tahun 1965. Mungkinkah dia merasakan hal yang sama dengan dirinya seperti pada saat ini?

Suddenly I’m not half the man I used to be

There’s a shadow hanging over me  

“Mengapa sekarang aku merasa dia adalah bagian dari hidupku?” katanya dalam  hati.

“Ya, serpihan masa lalu itu sedikit terjahit jadi lembaran kain sejarah hidupku. Ada kenangan kisah cinta, walaupun waktu itu aku tak mengerti apa-apa,” kenangnya. 

Paimin melihat wajah perempuan di depannya dengan hatinya. Bukan dengan matanya. Dia mengeluarkan seluruh memori yang ada di dalam kepalanya. Wajah itu ada dalam dadanya. Wajah gadis 15 tahun yang ceria , tapi memerah mukanya setiap kali Paimin memandangnya. Sekarang, di mata Paimin, wajah Juwita sudah dirambahi  garis-garis tanda ketuaan. Ada seraut kelelahan tergambar di dahi dan pipinya. Keriput di bawah matanya menandai kelelahan hidup. 

“Raut tua yang pantas saja sesuai umurnya, tetapi sisa kecantikannya masih membayang.” 

“Pasti dia melakoni hidupnya dengan berat. Kang Samad sudah mengatakan kalau Juwita hidup sendirian membiayai dua anaknya yang sedang berangkat dewasa.”

“Apa kabar Wita?” tanya Paimin suaranya ragu-ragu agak tersangkut di kerongkongannya.

Paimin menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.

“Baik, Kang. Akang gimana?” Juwita menyambut salam.

Suaranya pelan. Pegangan tangannya juga lembek. Paimin harus menggenggamnya lebih kuat agar tidak terlepas.

“Alhamdulillah, Akang sehat. Bagaimana kelihatannya? Tidak muda seperti dulu lagi, ya?” Paimin berusaha memecah kebekuan.

“Ya, kelihatan sehat. Akang awet muda. Beda kalau orang kota, ya.”

“Akang tetap orang kampung, Wita.”

Juwita mengatupkan bibirnya dan memandang tepat di mata Paimin. Pandangan yang menembus jantung. Membuat Paimin gelagapan tak bisa berkata-kata. Bibirnya menyunggingkan senyum kosong. Paimin mencoba untuk bersikap biasa. Tapi tetap saja ada getaran di dadanya. Getaran aneh, setelah dia tidak bertemu dengan kawan sepermainannya itu sekian lama. 

BACA JUGA:

 

Sejak lulus SMP, Juwita dikawinkan orangtuanya dengan si Zaini, manajer perusahaan bus angkutan yang melayani jalur angkutan Luragung-Jakarta.   Seorang pemuda yang cukup perlente dan banyak dikenal sejak bus angkutan tersebut mulai beroperasi melayani jalur pengangkutan sampai ke daerah ini. Ketika itu Paimin merasa sedih dan marah. Tidak tahu mengapa dia harus marah. Toh dia tidak akan mengawini perempuan itu. Tapi Paimin menyayangkan. Mengapa perempuan muda, lugu, cantik dan bersih itu kawin dengan orang yang sekelas Zaini. Yang keras, kasar dan penuh dengan kehidupan jalanan. Menurut Paimin, Zaini bukan orang yang bisa dipercaya. Dia terlalu berpengalaman sehingga akan cenderung memperdayakan. Indera ke enamnya mengatakan, Juwita tidak akan bahagia hidup dengan laki-laki itu. Umurnya juga terpaut jauh. Itu pula sebenarnya yang menjadi salah satu alasan mengapa Paimin ingin pindah ke Jakarta.

 Sekarang gadis periang itu sudah jadi perempuan tua yang terlihat berwibawa dan penuh dengan pengalaman hidup. Dia berdiri menyambutnya di depan pintu rumah. Mengenakan kain sarung Cirebonan warna meriah didominasi warna biru, dan kebaya longgar dengan bordiran kecil di sepanjang belahan depannya. Rambutnya disanggul sederhana dan dikuatkan dengan sumpit panjang seperti sanggul perempuan Jepang. Menarik. Tanpa asesoris macam-macam. Tapi justru menunjukkan kesahajaan dan kedewasaan.  

Paimin menatapnya dengan penuh kekaguman, sampai tiba-tiba pikirannya buyar ketika seorang anak muda berumur sekitar 20 tahun, ke luar dari pintu rumah. Dia sekilas saja menatap Paimin, lalu mendekat dan menyalaminya tanpa menunjukkan sikap hormat. Paimin sudah menduga bahwa anak ini adalah anaknya Juwita.

“Ini Rifat, anak saya yang pertama. Sudah lepas SMA tapi tidak bisa meneruskan sekolah lagi. Sekarang bekerja di Warnet, Kang,” Juwita mengenalkan anaknya.

“Dia kursus komputer lalu langsung bekerja.”

“Bagus,” kata Paimin sambil tak henti memperhatikan anak muda itu.

Rifat acuh tak acuh. Dia tidak suka dengan kedatangan Paimin ke rumahnya. Ada semacam perasaan curiga yang mengganggu pikirannya. Instink. Paimin berusaha memberikan kesan dan perhatian kepada anak muda ini. Tapi Rifat segera berlalu sebelum Paimin mengatakan sesuatu kepadanya.

“Berapa anakmu, Wita?”

“Dua, Kang. Kakaknya Rifat perempuan. Si Milah. Jamilah namanya. Sekarang dia sudah kawin dan tinggal di desa tetangga.”

“Anak Akang juga dua, kan. Laki-laki semua?”

“Kamu tahu?”

“Ya, Kang Samad cerita.”

Paimin mengangguk. Rupanya perempuan yang pernah ada di hatinya, dulu pada masa kanak-kanaknya itu, sudah mencari tahu tentang dirinya. Ada tanda-tanda rindu di mata Juwita. Anehnya Paimin seolah sedang melakukan dosa besar saat mengobrol dengan Juwita. 

“Maaf Linda, aku tak akan lama bersama dia. Hanya mengenang sekilas saja. Harap ini tidak mencederai rasa cintaku padamu,” desah Paimin.

Di matanya terbayang isteri dan anak-anaknya jauh di sana di Jakarta. Sementara saja, dia membiarkan dirinya terbuai dalam kenangan lama. Walaupun hanya kenangan cinta monyet. Tapi itulah cinta pertama. Bagian yang monumental walaupun mungkin hanya bangunan kecil saja dari seluruh istana kehidupannya. Di bangunan yang monumental itu, hatinya gampang sekali berdebar, walau tanpa ada sentuhan fisik. Walaupun hanya dengan memandangnya. Hanya dengan sentuhan mata. Bahkan jujur saja, sejak dia mengenal Juwita, belum pernah menyentuh tangannya sekali pun. Masa itu, hanya dengan melihat, memandang atau membayangkan mukanya, sudah membuat hatinya berdebar-debar susah dikontrol. 

Diliriknya diam-diam Rukanta dan Damiri dengan ujung matanya. Mereka masih duduk di bangku kayu sambil mengobrol. Mereka menjauh darinya. Seolah sengaja memberi kesempatan buat Paimin dan Juwita untuk bicara pribadi. Mereka tahu bagaimana Paimin dan Juwita dulu sering dijodoh-jodohkan. Masa SMP yang penuh kenangan. Masa gembira, masa yang bodoh, ketika keduanya menaruh hati tapi untuk bertemu saja merasa takut. Kini perempuan itu ada di hadapannya. Tak ada seorangpun yang mengikatnya. Dia perempuan bebas. Paimin merasakan dadanya berdebar semakin hebat. 

“Apakah aku sedang berselingkuh?” pikirnya.

Juwita, anak guru SD di desa itu adalah anak yang cerdas. Dia juga cantik. Entah bagaimana mulanya, tetapi kawan-kawan Paimin selalu mengganggu mereka berdua. Paimin disebut sebagai pacarnya Juwita. Juwita mencintai Paimin. Jawa berpacaran sama Sunda. Dua teman ini merasa sedang dijodohkan. Ada rasa malu, kagok dan rupa-rupa rasa lainnya. Apalagi saat Paimin dan Juwita secara tidak sengaja bertemu di balik rumah dan bicara berdua, saling mengadukan kelakuan kawan-kawannya yang membuat mereka selalu malu kalau bertemu. Tiba-tiba serombongan kawan-kawannya datang dan berteriak “Horeee…. Ketahuan….. Lagi ngapain kalian…..” 

Itu seakan membuktikan bahwa mereka menangkap basah. Membuktikan bahwa kedua anak ingusan ini sedang pacaran.

“Bagaimana dengan anak-anakmu Wita?”

“Bagaimana….. maksudnya bagaimana, Kang?”

“Maksudku, kamu membesarkannya sendirian.”

“Bapakku membantu sepenuhnya sampai dia meninggal lima tahun lalu. Ayah anak-anak gak tahu ada di mana sekarang.”

“Ya, aku dengar dari kang Samad.” 

“Sudah 12 tahun dia pergi. Mulanya aku sedih, lalu marah, tapi akhirnya aku tak peduli. Bapakku sudah menguruskan permintaan ceraiku dan sekarang sudah diputuskan oleh pengadilan agama.”

“Aku bersimpati.”

“Itu salahku sendiri, Kang.”

“Ini nasibku,” kata Juwita melanjutkan.

“Kamu masih akan terus sendiri?” Paimin bertanya sambil dadanya berdebar.

“Perempuan mana yang tidak ingin punya keluarga yang bahagia, Kang?”

Paimin mengangguk. Dia salah memilih bahan percakapan.

“Belum berpikir ke sana, Kang. Aku takut.”

“Dan aku sudah tua. Akang kelihatan lebih muda,” Juwita menatap, bibirnya menyunggingkan senyum, menanti jawaban Paimin. 

“Kalau mobil kan keluaran lama, cuma catnya baru,” Paimin mencoba bergurau.

“Masih bagus kalau bisa dicat baru.”

“Ada yang bisa aku bantu?” Paimin bertanya tanpa sadar.

Dia tidak tahu apa yang sebenarnya bisa dia lakukan untuk menolong Juwita. Dadanya semakin meledak. Dia setengah berbisik. Takut Rukanta dan Damiri mendengar pembicaraannya. 

“Assalamualaikum,” sapa seorang perempuan tua yang mendatangi warungnya.

“Wa alaikumussalam… ceu Minah. Mangga silahkan.”

 Perempuan itu membeli beberapa ikat kangkung yang digelar. Juwita menyapa ramah dan melayani. Macam-macam sayuran digelar di meja bambu. Labu Siam dan mentimun ditumpuk di baskom plastik, dan kacang panjang berjuntai-juntai di sebelahnya. 

Menanggapi tawaran Paimin, Juwita mengangguk. Lalu menggeleng.

“Aku nggak tahu, Kang. Tapi lebih baik tidak usah. Jangan sampai maksud baik ini mengganggu keluarga Akang. Aku sanggup hidup sendiri.”

“Aku pikir, aku sangat tabah, Kang. Aku berhasil membesarkan anak-anakku dengan baik. Dua-dua anakku lulus SMA. Cita-citaku tinggi, ingin menyekolahkan mereka ke perguruan tinggi. Mereka juga pintar-pintar.”

“Aku percaya. Aku tahu ibunya pintar.”

Juwita memandangnya sambil tersenyum.

“Tapi keuangan tidak memungkinkan. Keadaan juga semakin sulit.”

“Apa yang terjadi?”

“Warungku.”

“Dulu warungku lumayan bagus. Tapi sesudah ada toko serba ada di dekat balai desa, warungku bangkrut. Semuanya tersedia di toko itu, sehingga semua langgananku pindah ke sana.”

“Rencana kamu gimana, Wita?”

“Anak-anakku sudah besar. Aku pikir usahaku cukup sampai di sini saja, Kang.”

“Pak lurah Jamain, pamanku, menganjurkan aku buka salon potong rambut, karena yang ada di desa tetangga laku sekali. Tapi aku merasa tidak sesuai dengan hatiku. Banyak orang beranggapan miring tentang salon. Pemilik salon di desa tetangga itu jadi isteri kedua pejabat kecamatan. Jadi muncul cerita yang bukan-bukan, yang menyakitkan. Aku akan teruskan warung kecil ini saja. Menjual barang yang tidak tersedia di toko serba ada itu.”

“Misalnya apa?” tanya Paimin.

“Sayuran, bahan makanan segar, bumbu-bumbu, dan ikan segar. Untung bapak mewariskan tanah lumayan luas dan beberapa kolam. Itu cukup menghidupi keluargaku.”

“Syukurlah, Wita. Aku senang sekali.”

“Aku pisahkan ikan yang besar di kolam kecil. Jadi bisa dijual kapan saja dalam keadaan segar.”

“Aku ingin melihat warungmu.”

Tanpa menunggu jawaban Paimin masuk. Ruangan yang cukup luas, apik dan bersih. Sambil berlindung di balik dinding, menghindar dari pandangan dua kawannya yang duduk di luar, Paimin memegang kedua tangan Juwita. Digenggamnya lama. Itu tidak pernah dilakukannya pada saat di SMP. Ini yang pertama kali. Mereka saling pandang, sampai akhirnya Juwita menundukkan kepalanya. Hatinya berdebar. Seperti deburan ombak yang keras membentur batu karang di pantai selatan. 

“Sudah, Paimin. Ini sudah memasuki daerah bahaya. Cukup,” bisiknya pada dirinya sendiri.

“Jangan, Kang,” pinta Juwita ketika Paimin akan memeluknya.

“Itu hanya akan membuatku bimbang.” 

Paimin melepaskan pegangannya. Juwita masih terpaku. Berdiri tanpa bisa bergerak. Pelan-pelan Paimin membimbingnya ke luar dan dengan berat hati dia pamitan. 

“Aku hanya sayang padanya, seperti seorang kakak kepada adik. Bukan cinta. Tidak ada gairah nafsu. Hanya sayang dan kasihan. Tapi berdebar juga dadaku,” gumamnya, tanpa sampai pada kesimpulan, apa sebenarnya yang sedang terjadi pada dirinya. 

Paimin menangkap kehidupan sosial yang rumit, yang tidak bisa dijelaskannya dengan baik. Juwita telah menjadi korban. Kesewenang-wenangan laki-laki yang tidak bertanggungjawab. Kasus itu menjadi hal yang umum terjadi di pedesaan. Bahkan berkembang menjadi kasus kawin kontrak dan kawin siri yang marak di beberapa daerah. Perempuan tidak menyadari. Hal ini merugikan diri mereka, dan bahkan menyudutkan mereka pada kesulitan dalam membesarkan keturunannya. 

“Juwita hanyalah salah satu kasus. Tidak tahu kepada siapa dia harus mengadu. Dan hukum apa yang mampu melindunginya dari kesewenang-wenangan semacam itu?”  

Paimin merasa dirinya terlibat dalam persoalan Juwita. Sejak dulu. Ketika kecewa waktu dia kawin dengan Zaini. Lalu sekarang. Karena dirinya terlibat dalam sejarah masa lalu, seperti lagu Yesterday yang dinyanyikan The Beatles. Dalam kisah kasih selama mereka masih jadi monyet-monyet kecil. Aneh. Mengapa masa lalu yang sudah dilupakannya itu dirasakannya lagi begitu bertemu dengan Juwita. Sesudah menyaksikan kesedihan perempuan itu. Dan sesudah dia menampakkan garis-garis ketuaan di wajahnya.

Keberadaan toko serba ada menurut Samad telah banyak menguntungkan masyarakat. Tapi ada beberapa sudut kecil di desa itu yang mendapat dampak sedih dengan keberadaan toko itu. Dan itu menimpa Juwita. Ini menyangkut perasaan dirinya. Paimin merasakan akibatnya. Langsung maupun tidak langsung.  

“Dia perempuan yang sangat tabah,” kata guru Rukanta dalam perjalanan menuju rumah kuwu Imang, seperti dia mengerti betul perasaan Paimin.

“Orang yang tegar. Sangat percaya diri. Semua orang mengaguminya,” imbuh Damiri, seolah mencoba mengobati luka hati Paimin.

  === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/ 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018