Tuesday, 03 August 2021


Gara-Gara Anthurium Berparasit, Kunyit Jahe Indonesia Ditolak Masuk Jepang

16 Jun 2021, 14:24 WIBEditor : Gesha

Tanaman hias dengan nematoda parasit Radopholus similis | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Tokyo --- Ekspor Florikultura Indonesia ke Jepang hingga akhir tahun 2020 silam ternyata mandek. Bahkan per tanggal 11 November 2020, produk Pertanian hortikultura lain seperti kunyit dan jahe sempat ditolak masuk Jepang, sebagai buntut dari lolosnya Anthurium dengan nematoda parasit, Radopholus similis. 

"Pemerintah Jepang (melalui Kementerian Pertanian dan Perikanan Jepang) telah mengeluarkan notifikasi untuk menghentikan semua importasi dari Indonesia untuk jenis-jenis tanaman yang menjadi inang Radopholus similis. Sekalipun sudah dilengkapi oleh Sertifikat Phytosanitary,"tegas Atase Pertanian di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Sri Nuryanti saat Focus Group Discussion (FGD)Peluang dan Tantangan Ekspor Florikultura yang digelar Tabloid SINAR TANI, Rabu (16/6). 

Sri menjelaskan, Radopholus similis merupakan nematoda parasit tanaman, dan merupakan hama dari banyak tanaman pertanian. Inangnya terbagi menjadi tanaman Florikultura dan Non Florikultura. Ada 9 jenis tanaman yang secara clear disebutkan sebagai tanaman inang yang berasal dari Florikultura seperti Pinang (Arachea catechu), Cedar Putih Meksiko (Cupressus lusitanica), Anthurium, Calathea, Maranta, Philodendron, Beta, dan Bucefalandra sp. 

"Asal muasalnya adalah dari Anthurium sp. yaitu jenis Florikultura dedaunan yang memang kini tengah digandrungi. Dampaknya, komoditas hortikultura lainnya seperti jahe, kunyit, juga tidak bisa lagi masuk ke Jepang karena adanya temuan Radopholus similis pada Anthurium,"jelasnya.

Baca Juga : 

Kenali dan Kendalikan OPT Anthurium Sedini Mungkin

Pemerintah Jepang meminta eksportir untuk prosedur Phytosanitary tambahan dari tanaman inang Radopholus similis tersebut, termasuk jahe dan kunyit. Mulai dari tempat produksi (fasilitas pertumbuhan tanaman) dalam media tumbuh dan bagian bawah tumbuhan. 

"Jadi sejak di fasilitas pertumbuhan tanaman harus dinyatakan bebas dari Radopholus similis, baik yang belum diketahui maupun sudah diketahui. Jadi sebelum ditanam, sebelum dibawa bibitnya sudah harus dipastikan tidak ada Radopholus similis, " tegasnya. 

Jika telah dibudidayakan dan panen, pada sertifikat Phytosanitary disebutkan secara tegas bebas Radopholus similis dengan diperiksa dalam pengujian nematologis. 

Sri menambahkan, meskipun sudah memiliki sertifikat Phytosanitary, jika tanaman tersebut termasuk inang Radopholus similis akan langsung dimusnahkan. Sampai pemerintah Indonesia melakukan perbaikan (investigasi penyebab, pencegahan infeksi baru, dan melakukan perbaikan lainnya) sebagaimana yang diminta pemerintah Jepang. 

"Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati sudah mengemukakan upaya perbaikan salah satunya dengan metode ultrasonik untuk ekstraksi Radopholus similis  dan juga melakukan hot water treatment. Nanti, kita akan lakukan pertemuan dengan pemerintah Jepang untuk melakukan resume guna membuka kembali ijin impor tanaman inang seperti jahe dan kunyit untuk bisa masuk ke Jepang, " bebernya. 

Baca Juga

Eksportir Florikultura Taatilah Peraturan Karantina

Inilah Strategi Rebut Pasar Florikultura di Jepang

Untuk diketahui, sebelum temuan Radopholus similis pada Anthurium tersebut, custom inspection atau prosedural karantina untuk Florikultura hanya berupa plant quarantine (karantina tumbuhan). Namun kini, Karantina Jepang memeriksa akar, batang, bunga, daun, dan biji (jika ada) sebagai prosedural baru pemeriksaan Florikultura maupun produk asal tumbuhan dari Indonesia. 

Negara Jepang merupakan negara yang concern mengenai kualitas produk maupun tanaman. "Jepang telah memasukkan 1200 notifikasi SPS ke WTO. Hampir setiap 2 bulan sekali mengirimkan notifikasi mengenai kualitas produk maupun tanaman yang diperjualbelikan di negaranya,"tuturnya.

Karena itu, dirinya berharap agar petani Florikultura maupun eksportirnya untuk berlaku jujur dalam penerapan Good Agriculture Practice/GAP maupun Good Handling Practise /GHP serta menaati seluruh persyaratan ekspor. sehingga bisa dihasilkan produk yang sehat dan bebas OPTK. 

"Dokumentasikan semua kegiatan dengan baik dan benar mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pascapanen, pengemasan, hingga pengiriman bisa ditelusuri," pesannya. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018