
Layu pada pisang sering disebut penyakit darah
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Petani Pisang di Indonesia masih dibayangi serangan penyakit darah. Seperti apa penanganannya? Agar petani pisang tak terlalu merugi.
Indonesia kaya akan sumberdaya genetik tanaman pisang . Dengan jumlah melebihi 200 varietas, beraneka jenis tanaman pisang bisa dijumpai baik di daerah basah maupun kering. Petani pun disuguhi banyak pilihan, ingin menghasilkan pisang yang bisa langsung dikonsumsi dalam kondisi segar atau juga yang potensial dijadikan produk olahan. Bisa juga yang tahan penyakit tertentu. Semua tersedia bibitnya di pasaran.
Apapun pilihannya, yang penting petani harus waspada karena penyakit terus mengintai pertanaman pisang di tanah air di segala tingkatan usia.
Seperti terungkap di webinar tentang pisang yang digelar Tabloid Sinar Tani dan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan , Rabu (28/7) kejadian penyakit darah ternyata masih merupakan momok bagi sebagian petani pisang di Provinsi Aceh karena berdampak menurunkan hasil panen.

Kondisi ini berbuntut tak mengenakkan bagi industri pengolahan berbasis pisang setempat karena membuat sulit mendapatkan bahan baku pisang untuk keberlanjutan usahanya.
Profesor Sobir, pakar budidaya hortikultura dari IPB University menjelaskan bahwa penyakit darah pisang disebut juga penyakit layu bakteri. "Buah pisang yang terserang penyakit darah dari luar tampak utuh dan segar namun ketika dipotong bagian dalamnya busuk berisi lendir berwarna kuning kemerahan, " bebernya.
Tanaman pisang yang jantungnya enak dikonsumsi menurut prof Sobir umumnya tak tahan terhadap serangan bakteri Pseudomonas solaracearum penyebab penyakit darah. "Tanaman Pisang Kepok dan Pisang Raja Siem tergolong yang rentan terserang penyakit darah. Pisang Ambon yang rasa jantungnya tak enak umumnya malah tahan penyakit darah ," tuturnya.
Penyakit darah dapat ditularkan melalui serangga yang hinggap dari satu pohon ke pohon lain dengan menghisap nektar bunga (jantung ) pisang. Karena itu disarankan kepada petani untuk segera memotong jantung begitu sisir buah terakhir keluar.
Cara preventif lain yang disarankan Prof Sobir adalah sejak awal petani menggunakan bibit tanaman yang bebas penyakit darah. "Dengan upaya demikian tanaman kita akan terbebas dari serangan penyakit darah," tuturnya.
Dalam upaya mencegah tanaman pisang terpapar penyakit, termasuk penyakit darah, banyak petani pisang yang akhirnya segera membungkus jantung pisang dengan plastik begitu mulai muncul.