Monday, 16 March 2026


Pemerintah Serbu Pasar Induk, Jinakkan Fluktuasi Harga Cabai

19 Feb 2026, 12:47 WIBEditor : herman

Pemerintah siap redam fluktiasi harga cabai

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Fluktuasi harga cabai rawit merah (CRM) kembali terjadi menjelang Ramadan 2026. Namun pemerintah memastikan kondisi ini bukan karena kekurangan stok, melainkan dampak curah hujan tinggi yang membuat petani enggan memanen.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan pasokan cabai sebenarnya tersedia melimpah di tingkat tanaman siap panen (standing crop). Hanya saja, intensitas hujan tinggi membuat proses panen tersendat.

“Ini hujan yang menyebabkan. Barang sangat banyak di standing crop-nya, tapi tidak ada yang berani memetik karena hujan. Begitu hujan tinggi, tidak ada cabai yang bisa dipanen. Ini menjadi tantangan tersendiri,” ujar Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, di Jakarta.

Untuk meredam lonjakan harga, pemerintah menyiapkan langkah cepat yaitu menjembatani distribusi cabai dari sentra produksi langsung ke pasar induk utama seperti Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Tanah Tinggi.

Pasokan ini berasal dari Champion Cabai binaan Kementerian Pertanian yang tersebar di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Enrekang (Sulawesi Selatan), NTB, Solok (Sumatera Barat), hingga Aceh.

Langkah ini ditargetkan mampu mendinginkan harga di tingkat pasar induk terlebih dahulu, sebelum berdampak ke konsumen.

Rencananya harga di tingkat petani Rp45.000/kg, diserap pedagang pasar induk Rp50.000/kg dan dijual ke konsumen: Rp60.000–65.000/kg. Pemerintah menargetkan pasokan minimal 2 ton per hari selama dua pekan ke depan.

“Kalau tidak kita serbu seperti ini, harga bisa tetap di Rp75 ribu sampai Rp80 ribu. Bahkan di hilir bisa tembus ratusan ribu. Dua pasar ini harus kita dorong dulu supaya bisa turun Rp10 ribu sampai Rp15 ribu,” jelas Ketut.

Data terbaru Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata harga cabai rawit nasional pada minggu kedua Februari 2026 berada di Rp67.038/kg. Kenaikan Indeks Perubahan Harga (IPH) terjadi di sekitar 58,33 persen wilayah Indonesia.

Namun jika dibandingkan awal Ramadan 2025, kondisi tahun ini dinilai lebih terkendali. Pada minggu pertama Maret 2025, harga cabai rawit bahkan sempat menyentuh Rp85.694/kg, dengan kenaikan IPH terjadi di 65 persen wilayah.

Pemerintah kala itu berhasil menurunkan harga pasca-Idulfitri menjadi Rp76.793/kg pada minggu kedua April 2025, disertai penurunan IPH di hampir separuh wilayah Indonesia.

Di Februari 2026 ini, dari 210 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH, sekitar 30 persen masih berada dalam batas Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen maksimal Rp57.000/kg.

Stabilisasi harga pangan strategis menjadi perhatian serius pemerintah. Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan arahan ini sejalan dengan komando Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Amran, Presiden secara intens memantau perkembangan harga pangan menjelang Ramadan hingga Idulfitri.

“Dengan segala kerendahan hati, mari kita jaga harga pangan di bulan suci Ramadan. Bapak Presiden bahkan bisa tiga kali sehari menelepon menanyakan harga pangan. Pesannya selalu sama: jaga rakyat dan terus berpihak pada rakyat,” ujar Amran.

 

Reporter : Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018