Sunday, 09 August 2020


Teknologi Resapan Biopori: Untuk Konservasi Tanah dan Air, serta Perbaikan Lingkungan Hidup (3)

26 Jul 2020, 18:58 WIBEditor : Ahmad Soim

Penempatan lubang biopori | Sumber Foto: Kamir R Brata

Kamir R. Brata Innovator dan Motivator Teknologi  Resapan Biopori (e-mail: kamirbrata@gmail.com; HP: 087872381085)

 

TABLOIDSINARTANI.COM

 

4. Membuat Lubang Resapan Biopori

Pembuatan LRB tergolong mudah dan dapat diaplikasikan dari skala rumah tangga hingga skala lebih luas. Membuat lubang kecil vertikal kedalam tanah merupakan upaya pemanfaatan tanah lebih efisien untuk memperluas permukaan dimana air sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang lebih dekat bersentuhan dengan permukaan tanah. 

Permukaan vertikal yang terbentuk dapat dimanfaatkan oleh organisme yang hidup di permukaan tanah (epigeik) dapat masuk ke dalam lubang memanfaatkan dinding lubang vertikal sebagai tempat hidupnya, sambil berlindung dari kejaran pemangsa dan teriknya matahari dalam tumpukan sampah dalam lubang yang tidak terlalu tebal. Demikian juga air yang masuk ke dalam lubang dapat meresap melalui perluasan permukaan vertikal ke segala arah secara horizontal dengan beban resapan yang cukup rendah (25 liter/m2 atau setara 2,5 cm tinggi air).  Rendahnya beban resapan, dan terbentuknya biopori oleh aktivitas keanekaragaman hayati, mengakibatkan terpeliharanya laju peresapan air ke dalam tanah di sekitar LRB.

BACA JUGA:

Teknologi Resapan Biopori: Untuk Konservasi Tanah dan Air, serta Perbaikan Lingkungan Hidup (1)

Teknologi Resapan Biopori: Untuk Konservasi Tanah dan Air, serta Perbaikan Lingkungan Hidup (2)

 

Alat yang digunakan

Alat yang digunakan untuk membuat lubang resapan adalah bor biopori yang terbuat dari besi. Bor ini sudah didesain khusus dengan mata bor berdiameter tertentu sesuai dengan ukuran LRB yang dianjurkan untuk kawasan permukiman. Hal ini untuk mempermudah pembuatan LRB dengan mengurangi gesekan mata bor dengan tanah, sehingga dapat mengurangi tenaga untuk memutar bor dan mempermudah pelepasan tanah dari mata bor. Dengan bor tersebut pembuatan 1 lubang sedalam sekitar 1 m dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 5 - 10 menit, bahkan seorang ibu rumah tangga pun dapat melakukannya dengan mudah. 

Bor juga dapat digunakan untuk memanen kompos hasil pelapukan sampah organik di dalam LRB. Apabila tidak ada bor biopori, maka dapat digunakan beberapa alat pembuat lubang yang lain sebagai alternatif, seperti linggis, potongan bambu, dan potongan pipa besi. Namun, tidak dianjurkan untuk menggunakan alat-alat tersebut karena selain tidak akan menghasilkan bentuk lubang yang bagus, juga sulit membuat lubang dengan alat demikian, dan diperlukan waktu yang relatif lebih lama dibandingkan dengan menggunakan bor. Selain itu, pemanenan kompos akan sulit dilakukan.

Selain bor biopori sebagai alat utama pembuatan LRB, diperlukan alat bantu lainnya untuk memudahkan dan menyempurnakan kondisi lubang yang dibuat,  antara lain:

- Cangkul untuk membuat alur air

- Golok atau pisau belati/sangkur atau bilah bambu yang ditipiskan menyerupai pisau. Alat ini berfungsi untuk membersihkan/melepaskan tanah dari mata bor.

- Ember dan gayung sebagai tempat air yang diperlukan untuk menyiram tanah yang akan dibor sehingga tanah menjadi lunak dan mengurangi gesekan mata bor dengan tanah. 

- Pengki atau wadah untuk mengumpulkan dan mengangkut tanah yang tergali, sehingga tidak mengotori permukaan tanah sekitar lubang bor.

- Ember dan sendok adukan untuk menyiapkan adukan semen-pasir yang digunakan untuk memperkuat mulut lubang.

- Potongan pipa paralon berdiameter 10 cm dan kertas untuk membungkus salah satu ujungnya yang dipakai sebagai pencetak adukan penguat mulut lubang 

- Pahat beton atau linggis untuk memecahkan perkerasan dasar alur air yang diperkeras.

 

Bahan

Dalam pembuatan LRB, diperlukan sampah organik sebagai bahan pengisinya. Sampah organik merupakan sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti sisa tumbuhan dan bangkai binatang. Sampah organik tersebut berfungsi sebagai pakan bagi fauna tanah yang mampu bekerja membuat biopori. 

Sebelum sisa tanaman melapuk ia berfungsi untuk: (1) menjaga dinding saluran tidak mudah longsor, (2) mencegah penyumbatan pori dalam tanah oleh sedimen halus yang tertampung, dan (3) menghindari penyumbatan permukaan resapan (dinding lubang) oleh pertumbuhan lumut. Hasil pelapukan nantinya dapat dimanfaatkan sebagai kompos. 

Beberapa jenis sampah organik yang dapat dimasukkan berasal dari sampah dapur dan pekarangan, di antaranya:

- pangkasan rumput dari halaman

- daun-daun yang berguguran

- ranting kecil

- kertas bekas

- potongan kardus

- potongan sayur

- kulit buah

- sampah dapur lainnya

 

Cara Pembuatan LRB:

1. Siapkan peralatan untuk membuat lubang, seperti bor, golok, semen, kawat jaring, sampah organik, wadah untuk tanah, serta gayung dan seember air.

2. Buat alur air atau menggunakan alur air yang sudah ada.

3. Siram bagian dasar saluran yang akan dibor. Penyiraman tanah perlu dilakukan supaya tanah menjadi lunak dan tidak melekat pada saat melakukan pemboran.

4. Buat lubang silindris ke dalam tanah dengan menggunakan bor biopori. Caranya sebagai berikut:

a. Posisikan mata bor pada permukaan tanah.

b. Tegakkan tangkai bor secara vertikal.

c. Putar stang bor ke arah kanan sambil menekan bor ke dalam tanah.

d. Setelah bor masuk sedalam 20 cm atau setelah mata bor terlihat penuh dengan tanah, angkat bor tersebut keluar sambil memutar bor tetap ke kanan. 

e. Keluarkan tanah dari mata bor dengan menggunakan pisau atau sepotong kayu/bambu atau sendok semen, sehingga bersih dari tanah. 

f. Lanjutkan kembali pemboran. 

g. Setiap kali mata bor penuh terisi tanah atau setiap kali bor menembus 20 cm, angkat dan keluarkan tanah dari mata bor dengan menggunakan golok atau pisau belati/sangkur. Begitu seterusnya hingga mencapai kedalaman yang diinginkan, yaitu 100 cm atau kurang bila permukaan air bawah tanahnya lebih dangkal dari 100 cm. 

5. Tanah galian dikumpulkan dan diangkut ke tempat lain agar tidak mengotori lokasi pemboran.

6. Perkuat mulut lubang dengan adukan semen dan pasir berukuran lebar 2-3 cm dan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang. Caranya sebagai berikut:

a. Masukkan potongan PVC diameter 10 cm (4 inci) ke dalam LRB sedalam 3-5 cm.  Sebelum dimasukkan pipa PVC, bagian bawah dilapisi kertas bungkus semen atau koran bekas, agar semen tidak melekat langsung pada pipa.

b. Setelah pipa tepat diposisinya, sisipkan adukan semen dan pasir di sekeliling pipa.

c. Ratakan permukaannya hingga sejajar dengan permukaan di sekitarnya. 

d. Sebelum adukan mengeras pipa PVC bisa dicabut dari tempatnya dan digunakan untuk mencetak penguat di lubang yang lain.

7. Setelah lubang LRB siap, masukkan sampah organik ke dalam lubang sampai penuh tapi jangan terlalu padat agar tidak mengurangi jumlah oksigen di dalam tanah. Bila sampah organik belum tersedia dalam jumlah memadai untuk memenuhi lubang, cukup gunakan sampah tersebut untuk menyumbat mulut lubang. Tujuannya untuk mencegah tanah permukaan masuk lubang.

8. Tambahkan sampah organik ke dalam lubang jika isinya sudah menyusut akibat proses pelapukan. Kompos yang terbentuk dari hasil pelapukan sampah tersebut dapat dipanen pada setiap akhir musim kemarau.

(Bersambung)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018