Minggu, 14 April 2024


Petani Menantikan Akses Langsung ke Benih Bioteknologi

07 Mar 2024, 07:56 WIBEditor : Gesha

Petani menggunakan benih bioteknologi dari Bayer Indonesia | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Dalam dunia pertanian yang terus berkembang, petani menantikan akses yang lebih luas terhadap benih bioteknologi. Dengan teknologi ini, mereka berharap untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen mereka, serta menghadapi tantangan seperti perubahan iklim dan penyakit tanaman dengan lebih efektif.

Duta Petani Milenial, Sandi Octa Susila, menyatakan minat tinggi dari para petani milenial untuk mendapatkan akses ke benih bioteknologi menjadi hal yang menonjol. Mereka tidak hanya mengharapkan untuk segera memperoleh akses, tetapi juga sangat antusias untuk membeli benih bioteknologi tersebut. 

Sandi menegaskan hal ini bukan masalah penolakan atau kekhawatiran terhadap mitos-mitos seputar benih bioteknologi atau PRG, melainkan sebaliknya, mereka malah menantikan kapan benih bioteknologi ini akan tersedia secara luas di pasar. 

Petani yang telah memiliki akses ke benih bioteknologi seperti padi biofortifikasi (Padi Inpari IR Nutrizinc) dan tebu yang tahan terhadap kondisi wilayah kering (Tebu N11 4T) juga mengakui, dengan menggunakan benih bioteknologi ini, produktivitas mereka meningkat secara signifikan dan risiko gagal panen dapat ditekan. 

“Harapan kami dari sisi petani, sedianya pemerintah bisa mendukung terus pengembangan benih bioteknologi dan komersialisasi di pasaran, supaya teman-teman petani bisa ikut merasakan dampak positif seperti di negara lain, tegas Sandi.

Keinginan serupa juga diungkapkan Wakil Sekjen KTNA Zulharman Djusman. Menurutnya, teknologi bioteknologi merupakan inovasi yang mempunyai kemampuan mengatasi perubahan iklim.

Teknologi biotek, lanjutnya, bisa dirakit sesuai kebutuhan petani misalnya untuk lahan kering, lahan banjir, untuk lahan asam, lahan gambut, maupun lahan pasang surung serta tahan hama penyakit.

"Hasil temuan perguruan tinggi dan instansi pemerintah sudah banyak tinggal menunggu finalisasi perizinan dari pemerintah. Petani sudah sangat berharap bioteknologi bisa diterapkan di Indonesia," ujar Zulharman.

Menurutnya, perlu dipilih benih atau tanaman apa yang dapat ditanam petani guna meningkatkan kesejahteraan adalah hak petani.

"Oleh karena itu kami menunggu agar diberikan kesempatan menggunakan teknologi pertanian termutakhir, dalam hal ini teknologi perbenihan yang ada pada tanaman bioteknologi," katanya.

Ketua KTNA Nasional Yadi Sofyan Noor juga memiliki keyakinan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045 mendatang.

Menurut Yadi, untuk mewujudkan visi tersebut, perhatian khusus perlu diberikan kepada sejumlah sentra pertanian di Indonesia, seperti Sulawesi, Sumatra, dan Kalimantan. 

Yadi juga menegaskan bahwa petani Indonesia saat ini telah diperkenalkan dengan berbagai teknologi modern, mulai dari teknik budi daya hingga pascapanen.

Salah satu aspek penting yang disorot oleh Yadi adalah pemanfaatan benih unggul berkualitas dan benih bioteknologi, yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian di Indonesia untuk mencapai tujuan menjadi lumbung pangan dunia.

Menurutnya, Bioteknologi memungkinkan peneliti membuat solusi bagi banyak problem. Misalnya padi dengan vitamin A, tomat yang memiliki cita rasa lebih manis dan produk lainnya.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018