Jumat, 16 Januari 2026


Air Hujan Mengandung Mikroplastik, Apa Penyebabnya?

11 Nov 2025, 16:29 WIBEditor : Yulianto

Hujan di kota besar disinyalir mengandung mikroplastik

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Akhir-akhir ini masyarakat dibuat khawatir dengan adanya temuan air hujan mengandung mikroplastik. Meski hasil belum ada penelitian yang mengungkap bahwa mikroplastik menyebabkan penyakit tertentu, tapi tetap perlu diwaspadai bahayanya.

Hujan yang terus mengguyur beberapa wilayah Indonesia, meski saat musim kemarau menjadi fenomena cuaca yang terjadi tahun ini. Bagi pertanian, khusus petani tanaman pangan menjadi berkah tersendiri. Di balik tingginya curah hujan, masyarakat perlu berhati-hati. Pasalnya, ditemukan air hujan yang mengandung mikroplastik.

Peringatan telah disampaikan Kementerian Kesehatan agar masyarakat mewaspadai dampak kesehatan dari penyebaran partikel plastik yang ikut terbawa ketika hujan turun, khususnya di wilayah kota-kota besar seperti DKI Jakarta.

“Fenomena ini perlu diwaspadai, bukan ditakuti. Ini sinyal bahwa partikel plastik sudah tersebar sangat luas di sekitar kita," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman.

Menurutnya, keberadaan mikroplastik di air hujan tidak berarti air hujan berbahaya langsung bagi kesehatan, tetapi tetap perlu diwaspadai. Berbagai penelitian mengungkap manusia dapat terpapar mikroplastik lewat dua jalur utama. Melalui makanan dan minuman serta melalui udara, karena serat sintetis dari pakaian atau debu perkotaan dapat terhirup.

Beberapa studi menunjukkan paparan jangka panjang dalam jumlah besar dapat berpotensi memicu peradangan jaringan tubuh. Bahan kimia seperti bisphenol A (BPA) dan phthalates yang menempel di mikroplastik juga dapat mengganggu sistem hormon, reproduksi, dan perkembangan janin. “Meski begitu, para ahli menegaskan hingga kini belum ada bukti ilmiah kuat bahwa mikroplastik secara langsung menyebabkan penyakit tertentu," katanya.

Guru Besar IPB University dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Prof Etty Riani menjelaskan, fenomena ini secara ilmiah memang sangat mungkin terjadi. Mikroplastik, terutama yang berukuran sangat kecil atau nanoplastik, memiliki massa sangat ringan sehingga mudah terangkat ke atmosfer.

Sumber Mikroplastik

Menurutnya, sumber mikroplastik di udara perkotaan seperti Jakarta sangat beragam, mulai dari degradasi berbagai jenis sampah plastik, gesekan ban kendaraan, hingga pakaian sintetis. Sementara itu, faktor lingkungan seperti suhu tinggi dan kondisi udara kering turut mempercepat proses pelapukan plastik serta memudahkan partikel halus tersebut beterbangan ke atmosfer.

Saat partikel mikroplastik berada di udara, ia dapat terbawa arus angin dan akhirnya turun kembali ke bumi bersama air hujan. “Hujan berperan seperti pencuci udara. Mikroplastik yang melayang di atmosfer akan menyatu dengan tetesan air hujan. Karena ukurannya sangat kecil, partikel itu tidak terlihat, sehingga seolah-olah air hujan bersih,” ungkap Prof Etty seperti dikutip dari laman IPB University

Ia mensiyalir, tingginya penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi akar masalah. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, manusia tidak lepas dari plastik. Akhirnya, plastik akan terurai menjadi mikroplastik dan nanoplastik.

Untuk itu, Prof Etty mengingatkan, perlu ada langkah nyata dari pemerintah dan masyarakat. Ia mendorong upaya perubahan gaya hidup menuju pola yang lebih ramah lingkungan. “Kita perlu hidup lebih sederhana dan kembali ke alam. Kurangi penggunaan plastik, hindari produk perawatan tubuh yang mengandung mikroplastik, dan biasakan memilah sampah sejak dari rumah,” ujarnya.

Selain itu, Prof Etty menekankan pentingnya penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dan pemberian sanksi bagi pihak yang tidak mendukung kebijakan pengurangan plastik. Plastik menurutnya, bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga kesehatan. Di dalamnya ada bahan aditif berbahaya yang bisa memicu gangguan hormonal dan meningkatkan risiko kanker.

Hasil penelitian BRIN, gaya hidup jadi pemicu. Baca halaman selanjutnya?

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018