
Alat panen kacang tanah berbasis mekanis karya mahasiswa Polbangtan Bogor mampu memangkas waktu panen hingga 79 persen
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Alat panen kacang tanah berbasis mekanis karya mahasiswa Polbangtan Bogor mampu memangkas waktu panen hingga 79 persen, menghadirkan efisiensi baru dan mendorong produktivitas petani di tengah tantangan tenaga kerja.
Di tengah tanah yang merekah dan akar-akar kacang yang selama ini dicabut satu per satu dengan tenaga penuh, sebuah perubahan mulai berdenyut.
Panen yang dulu identik dengan peluh panjang kini perlahan bergeser, lebih cepat, lebih ringkas, dan terasa seperti lompatan kecil menuju masa depan pertanian modern.
Inovasi tersebut hadir lewat tangan muda Irsyad Ginanjar dari Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor.
Ia merancang alat panen kacang tanah tipe lifting mekanis yang mampu menggabungkan dua proses sekaligus: pengangkatan tanaman dan perontokan hasil.
Selama ini, petani harus bekerja dua kali—mencabut tanaman dari tanah, lalu memisahkan kacang dari batangnya.
Proses yang terpisah ini tak hanya menyita waktu, tapi juga menguras tenaga dan biaya.
Di sinilah alat ini hadir sebagai jawaban sederhana atas persoalan lama yang seolah tak pernah usai.
Mengandalkan motor 35 watt, sistem puli dan v-belt, serta rangka besi yang kokoh, alat ini bekerja seperti tangan tambahan yang tak kenal lelah.
Sekali jalan, tanaman terangkat, tanah rontok, dan kacang terpisah lebih cepat. Ritmenya seperti denyut baru di lahan pertanian, lebih stabil, lebih pasti.
Hasil uji coba menunjukkan angka yang mencuri perhatian: efisiensi kerja mencapai hingga 79 persen.
Artinya, waktu panen bisa dipangkas drastis, sementara produktivitas melonjak tanpa harus menambah beban tenaga kerja.
Namun di balik angka itu, ada cerita yang lebih dalam.
Inovasi ini lahir dari pengamatan langsung di lapangan, dimana dirinya melihat bagaimana petani bergulat dengan waktu, tenaga, dan keterbatasan alat.
Dari situlah desain dirancang, alat dibuat, lalu diuji hingga benar-benar bisa digunakan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa mekanisasi menjadi kunci dalam transformasi pertanian nasional.
Menurutnya, alat dan mesin pertanian bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi untuk meningkatkan efisiensi dan kesejahteraan petani.
“Alat panen kacang tanah ini menjadi solusi nyata untuk menekan biaya tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas,” ujarnya.
Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti juga menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam menghadirkan inovasi berbasis kebutuhan nyata.
Ia menilai, pendekatan seperti ini mampu menjembatani kesenjangan antara teknologi dan praktik di lapangan.
Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor Yoyon Haryanto menambahkan bahwa inovasi ini menjadi bukti nyata keberhasilan pendidikan vokasi.
Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga menyentuh langsung realitas petani.
Sementara itu, Kapusdiktan Muhammad Amin menekankan bahwa inovasi seperti ini perlu terus dikembangkan dan diperluas.
Replikasi teknologi menjadi langkah penting agar manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak petani di berbagai daerah.
Meski begitu, jalan ke depan masih menyimpan tantangan.
Stabilitas alat dan penyempurnaan sistem perontokan menjadi catatan penting untuk pengembangan berikutnya.
Tapi seperti benih yang ditanam di tanah, inovasi ini sudah mulai tumbuh dan menjanjikan hasil yang lebih besar di masa depan.
Dari lahan kacang tanah yang sederhana, lahir harapan baru.
Bahwa pertanian Indonesia tak harus berjalan lambat.
Dengan sentuhan teknologi yang tepat, panen bisa lebih cepat, kerja lebih ringan, dan hasil lebih maksimal.
Dan di antara akar-akar yang terangkat dari tanah itu, terselip satu pesan yang tak kasat mata, bahwa perubahan, sekecil apa pun, selalu punya cara untuk tumbuh dan menyebar.