Thursday, 30 June 2022


Wabah PMK, Jangan Salah Pilih Hewan Kurban

20 Jun 2022, 14:52 WIBEditor : Gesha

Artis Raffi Ahmad ketika memilih hewan kurban | Sumber Foto:PR Bandung

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Hari Raya Idul Adha sudah tinggal hitungan hari, namun bayang-bayang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) membuat sohibul qurban sedikit bingung lantaran harus ekstra dalam memilih hewan kurban yang sehat, bebas PMK. Tentunya sesuai Syariat Islam.

Meski PMK ini tidak ditularkan ke manusia, namun penyakit ini menular antar ternak dengan cepat. Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati dalam memilih hewan kurban dan sebaiknya memastikan ternak yang dibeli sehat dan memenuhi syarat.

Direktur Pusat Kajian Halal Fakultas Peternakan UGM Nanung Danar Dono PhD menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam membeli hewan kurban di tengah-tengah wabah PMK. Lantas bagaimana caranya memilih hewan kurban?

Nanung menyarankan, sebaiknya sohibul qurban membeli hewan kurban di pedagang besar, karena akan lebih aman. Sebab, mereka akan sangat menjaga kesehatan ternaknya agar tidak sampai tertular penyakit karena bisa menyebabkan kerugian yang cukup besar.

Baca Juga : Siaga PMK, Panitia Kurban Wajib Pahami Proses Penyembelihan

Khusus Zona Merah PMK, Ini Proses Pemotongan Kurban di RPH

Idul Adha Sebentar Lagi, Pemotongan Kurban Sebaiknya di RPH

Lalu, usahakan membeli hewan kurban pada pedagang yang mau memberikan jaminan atau garansi pada ternak yang diperjualbelikan. Misalnya, jika ternak yang dibeli nantinya menunjukkan gejala sakit, mereka bersedia untuk mengganti dengan ternak lain yang sehat. Nanung juga mengingatkan untuk membeli hewan kurban mendekati hari raya. Hal tersebut untuk meminimalisir risiko hewan  tertular penyakit. “Jangan lupa, untuk memastikan atau mengecek kondisi ternak,” katanya.

Jadi lanjut Nanung, tidak hanya dibuktikan dengan surat keterangan kesehatan hewan. Namun, juga memastikan hewan tidak bergejala dan lingkungan sekitar tidak ada wabah PMK. Apalagi penyebaran PMK begitu cepat. “Hindari untuk survei ternak dengan berkunjung dari kandang ke kandang karena berpotensi memperluas penularan PMK,” tambahnya.

Untuk diketahui, penularan PMK pada ternak dapat terjadi melalui kontak langsung antar ternak, kandang bersama, lalu lintas hewan tertular, kendaraan angkutan, udara, air, pakan/ minum, feses ternak terjangkit, serta produk maupun orang yang terkontaminasi virus PMK. Menurut Nanung ada beberapa syarat sah hewan kurban yakni hewan sehat, tidak cacat seperti buta, pincang, serta tidak terlalu kurus. Ia juga mengingatkan masyarakat tidak mencuci daging dan jeroan di sungai, karena tidak higienis. Alasan lain, bisa mencemari lingkungan dan berpotensi menularkan penyakit ke hewan yang sehat di tempat lain.

Syarat Disembelih

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan Fatwa MUI Nomor 32 Tahun 2022 tentang Hukum dan Panduan Pelaksanaan Ibadah Kurban Saat Kondisi Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Dalam fatwa tersebut, MUI memaparkan syarat hewan yang sah untuk dijadikan hewan kurban.

Pertama, hewan yang terkena PMK dengan gejala klinis kategori ringan seperti lepuh ringan pada celah kuku, kondisi lesu, tidak nafsu makan, dan keluar air liur lebih dari biasanya hukumnya adalah sah dijadikan hewan kurban.

Kedua, hewan yang terkena PMK dengan gejala klinis kategori berat seperti lepuh pada kuku sampai terlepas, pincang, tidak bisa berjalan, dan menyebabkan sangat kurus, maka hukumnya adalah tidak sah dijadikan sebagai hewan kurban.

Ketiga, hewan yang terkena PMK dengan gejala klinis kategori berat dan sembuh dari PMK dalam rentang waktu yang dibolehkan kurban (10-13 Dzulhijjah), ternak tersebut sah menjadi hewan kurban.

Keempat, hewan yang terkena PMK dengan gejala klinis kategori berat dan sembuh dari PMK setelah lewat rentang waktu yang dibolehkan berkurban (10- 13 Dzulhijjah), penyembeliahn hewan tersebut dianggap sedekah bukan hewan kurban.

 

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018