
Rektor IPB University, Arif Satria
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Rektor IPB University, Arif Satria menyoroti pentingnya bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pusat produksi semata. Baginya, yang lebih esensial adalah mendorong industrialisasi serta modernisasi ekonomi secara inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
"Indonesia jangan hanya menjadi tempat pabrik yang tidak berkaitan dengan masyarakat. Kalau industri dibangun tanpa masyarakat, maka yang terjadi adalah ketimpangan. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Indonesia jangan sampai menjadi tempat pabrik tanpa ada strategi yang berkualitas," tegas Arif dalam acara Reuni Akbar 60 Tahun IPB University yang terlaksana di Sentul International Convention Center (SIC), Bogor, Jawa Barat.
Menurut Arif Satria, transformasi ekonomi harus beriringan dengan perubahan sosial yang adil dan sejahtera bagi masyarakat. Baginya, pertumbuhan ekonomi harus mengakomodasi kesejahteraan masyarakat.
Arif menekankan bahwa hilirisasi industri tidak boleh terbatas hanya pada sektor nikel. Beliau berpendapat bahwa pembangunan sektor agromaritim juga sangat penting, mengingat ketahanannya di tengah tantangan ekonomi yang melanda Indonesia.
"Sementara nikel penting, namun bukan segalanya. Kita harus memperluas arti hilirisasi, bukan hanya terfokus pada nikel. Perlu kita dorong gagasan agro industrialisasi yang berbasis agromaritim untuk pertumbuhan ekonomi yang bermutu," ungkapnya.
Arif juga menyoroti pentingnya sektor agromaritim saat krisis. Sejak tahun 1997, 2009, hingga masa pandemi Covid-19, sektor ini telah menunjukkan pertumbuhan yang positif. Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya memuji sektor ini saat krisis, namun juga mengembangkannya secara berkelanjutan.
"Kalau pada saat krisis agromaritim dielu-elukan, menjadi sektor yang menyelamatkan Indonesia. Jangan pada saat krisis dielu-elukan, disanjung-sanjung, setelah itu diabaikan,"sesalnya.
Melalui peluncuran 'Buku Putih Gagasan Besar Alumni IPB untuk Kedaulatan Indonesia di bidang Pendidikan, Desa, Kewirausahaan, dan Agromaritim', Arif berharap pemerintah mempertimbangkan inklusi sektor agromaritim dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.
Namun, hingga saat ini, ia mencatat bahwa sektor agromaritim belum terlihat dalam RPJPN 2025-2045. Arif mendesak pemerintah untuk menegaskan posisi sektor agromaritim sebagai salah satu motor penggerak pembangunan Indonesia.
"Perlu penegasan, namun dari dokumen yang ada, belum terlihat. RPJPN 2045 belum menegaskan fokus pembangunan kita. Kami mendorong hilirisasi di semua sektor, terutama agro maritim, sebagai kekuatan masa depan," tegasnya.
Buku Putih Agromaritim
Sebagai bagian intelektual masyarakat, Alumni Institut Pertanian Bogor (sekarang IPB University) meluncurkan Buku Putih Agro maritim untuk pemimpin Indonesia selanjutnya yang akan mulai memimpin 2024 mendatang.
Ketua Umum DPP HA IPB, Walneg S Jas, mengumumkan, para alumni IPB University siap meluncurkan 'Buku Putih Gagasan Besar' untuk memperkuat kedaulatan Indonesia dalam Pendidikan, Desa, Kewirausahaan, dan Agromaritim.
Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa buku ini menjadi bagian dari sumbangsih IPB University untuk mewujudkan visi Indonesia Emas pada tahun 2045.
"Tema besarnya adalah bagaimana kedaulatan agromaritim jadi pondasi utama untuk Indonesia Emas 2045" ucap Walneg.
Menurut Walneg, peluncuran buku tersebut dikarenakan pemerintah harus secara intens mengembangkan sektor agromaritim. Konsep ini muncul karena pertumbuhan pesat jumlah penduduk Indonesia yang membuat kebutuhan pangan meningkat.
Dalam kondisi sumber daya yang terbatas, sektor agromaritim menjadi solusi utama karena membahas kesinambungan antara laut, darat, dan udara.
"Tanpa fokus pemerintah pada agromaritim, akan sangat sulit. Dengan pertumbuhan penduduk yang pesat, kebutuhan pangan yang meningkat, dan sumber daya yang terbatas, penting untuk mendukung agromaritim secara sungguh-sungguh," ujarnya dengan tegas.
Dalam bukunya, Walneg menyatakan bahwa akan ada total 25 penulis yang terdiri dari profesor, praktisi, dan ahli, yang mayoritas merupakan alumni IPB. Rinciannya mencakup 16 tim pengarah dan sembilan anggota di tim penyusun.
Para penulis ini adalah alumni IPB yang memiliki pengalaman dan pernah menjabat di posisi penting. Di antaranya adalah Rektor IPB, Profesor Arif Satria; Ketua Majelis Wali Amanat IPB, Profesor Tridoyo Kusumastanto; Mantan Wakil Menteri Perdagangan periode 2011-2014, Bayu Khrisnamurthi; serta Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, Sunarso.
"Dalam buku tersebut terdapat Profesor Arif, Profesor Tridoyo, Profesor Bayu yang dulunya menjabat sebagai Wakil Menteri Perdagangan dan sekarang berada di Bulog. Ada juga Ir Sunarso yang menjabat sebagai Direktur Utama BRI dan nama-nama lainnya," ungkapnya dengan antusias.
Walneg menyebut bahwa buku tersebut mencakup sembilan tema yang beragam, mulai dari pendidikan, pertanian, kelautan, lingkungan hidup, kehutanan, perdagangan, perindustrian, UMKM, koperasi, hingga pembangunan pedesaan dan perencanaan nasional.
Harapannya, buku putih ini menjadi referensi bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan Indonesia. Bahkan, diharapkan menjadi bacaan dan pertimbangan bagi Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden pada Pemilu 2024.
Peluncuran buku tersebut direncanakan pada malam puncak Reuni Akbar 60 Tahun IPB University yang berlangsung pada Sabtu (25/11) di Sentul International Convention Center (SIC), Bogor, Jawa Barat.
"Dalam buku ini, kami merumuskan masalah utama, solusinya, serta strategi untuk mencapainya. Kontribusi ini kami berikan demi kemajuan bangsa dan negara, terutama bagi calon pemimpin. Kami berharap Pemilu akan berjalan damai, dan yang penting, kami berharap agar calon presiden membaca buku putih ini. Siapapun yang terpilih, kami ucapkan selamat, namun kami berharap konsep dan gagasan kedaulatan agromaritim untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045 dapat dipertimbangkan dengan baik," tandasnya