
Jumlah pekurban di Indonesia tahun 2025 diprediksi turun drastis akibat gelombang PHK massal dan lesunya ekonomi nasional, bahkan lebih rendah dibanding masa pandemi Covid-19.
TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA -- Jumlah pekurban di Indonesia tahun 2025 diprediksi turun drastis akibat gelombang PHK massal dan lesunya ekonomi nasional, bahkan lebih rendah dibanding masa pandemi Covid-19.
Menjelang Hari Raya Iduladha 1446 H, data terbaru dari lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) mengungkap fakta mengejutkan: potensi jumlah pekurban di Indonesia pada tahun 2025 merosot signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Lesunya perekonomian nasional, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), dan menurunnya daya beli masyarakat menjadi pemicu utama melemahnya semangat berkurban tahun ini.
Peneliti IDEAS, Tira Mutiara, menjelaskan dalam rilis resminya bahwa terjadi penurunan tajam jumlah masyarakat yang berkurban pada tahun ini.
"Pada 2024 terdapat sekitar 2,16 juta orang yang berkurban. Sementara di tahun 2025 ini jumlahnya turun menjadi sekitar 1,92 juta orang. Artinya, ada penurunan sekitar 233 ribu pekurban hanya dalam waktu satu tahun," jelasnya.
Tidak hanya jumlah pekurban yang menurun, potensi nilai ekonomi kurban pun ikut terkikis.
IDEAS memperkirakan bahwa nilai ekonomi kurban nasional tahun ini hanya mencapai Rp27,1 triliun, lebih rendah dibanding Rp28,3 triliun pada tahun 2024.
Lebih Rendah dari Pandemi
Ironisnya, meskipun Indonesia tidak sedang menghadapi kondisi krisis sebesar masa pandemi COVID-19, jumlah pekurban 2025 justru lebih rendah daripada saat pandemi.
Sebagai perbandingan, pada 2021 jumlah pekurban mencapai 2,11 juta orang dan naik menjadi 2,17 juta orang pada 2022.
“Perbedaannya adalah, pada masa pandemi, meski kondisi ekonomi sulit, sektor keuangan tetap stabil, harga komoditas naik drastis, dan pemerintah menggelontorkan stimulus besar. Kelas menengah atas masih terlindungi,” ujar Tira.
Sebaliknya, krisis 2025 banyak dipicu oleh kejatuhan industri padat karya, terutama sektor manufaktur yang menyebabkan PHK besar-besaran dan lonjakan pengangguran.
Sepanjang tahun 2024 saja, tercatat 77.965 orang mengalami PHK, dan angka ini terus bertambah pada 2025.
Per 20 Mei 2025, sudah ada 26.455 pekerja kehilangan pekerjaan.
Jakarta menjadi wilayah dengan jumlah PHK terbanyak (17.085 orang), diikuti Jawa Tengah (13.130 orang), Banten (13.042 orang), dan Jawa Barat (10.661 orang).
Wilayah-wilayah ini selama ini dikenal sebagai pusat distribusi daging kurban dan basis masyarakat kelas menengah atas yang aktif berkurban.
"Kondisi ini tentu berdampak langsung pada partisipasi kurban, terutama dari kelas menengah yang kini lebih fokus pada pengeluaran kebutuhan pokok," kata Tira.
Ekonomi Melambat
Tidak hanya PHK, perlambatan ekonomi nasional semakin memperparah situasi.
IDEAS mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2025 hanya sebesar 4,87 persen, lebih rendah dari harapan.
Lemahnya investasi, ketidakpastian global akibat perang dagang AS-China, dan kehati-hatian masyarakat dalam belanja non-esensial, seperti kurban, memperjelas tren penurunan ini.
Tira menyebut bahwa indikator awal dari perlambatan ini sudah terlihat sejak momen mudik Lebaran 2025.
“Denyut perputaran ekonomi selama Lebaran tahun ini terasa lesu. Ini menjadi sinyal bahwa kelas menengah bawah dan atas mulai menahan konsumsi di luar kebutuhan rumah tangga,” tambahnya.
Meskipun potensi kurban menurun, momen Iduladha tetap menyimpan harapan besar untuk sektor peternakan nasional.
Dari total 1,92 juta pekurban tahun ini, kebutuhan hewan kurban diproyeksikan mencapai 1,1 juta ekor domba/kambing dan 503 ribu ekor sapi.
Potensi ini, bila dikelola dengan ekosistem yang tepat, bisa menjadi pendorong kebangkitan peternakan lokal.
Sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo dalam Asta Cita, sektor peternakan mendapat perhatian khusus.
Selain menyuplai protein hewani untuk ketahanan pangan, sektor ini juga menopang perekonomian pedesaan dan membuka lapangan kerja baru.
“Karena itu, meskipun ada penurunan dalam nilai ekonomi kurban, momen ini perlu dimanfaatkan secara optimal dengan memperkuat mata rantai peternakan, mulai dari hulu ke hilir,” kata Tira.