Tuesday, 16 June 2026


Buktikan Stok Beras Berlimpah, Pengamat Tengok Gudang Filial Bulog

23 Apr 2026, 17:52 WIBEditor : Yulianto

Pengamat Ekonomi, Ichsanuddin Noorsy bersama Mentan Andi Amaran Sulaiman saat mengecek gudang filial Bulog

TABLOIDSINARTANI.COM, Karawang---Untuk membuktikan kebenaran stok beras pemerintah, kalangan pengamat berkunjung ke gudang filial (sewaan) Bulog yang berada di Karawang. Bahkan Perum Bulog membuka pintu semua kalangan, baik pengamat, media massa dan lembaga masyarakat untuk membuktikan sendiri.

Saat kunjungan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yang didampingi Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani beberapa pengamat dan pimpinan redaksi media massa hadir melihat kebenaran stok beras pemerintah.

Saat kunjung ke gudang filial di Karawang, nampak pengamat komunikasi publik, Hendri Satrio, pengamat ekonomi Ichanuddin Noorsy dan Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin.

Pada kesempatan itu, Mentan Amran Sulaiman mengumumkan pencapain stok beras pemerintah atau kerap disebut sebagai Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang mencapai 5 juta ton.

“Alhamdulillah hari ini tanggal 23 April 2026, sekarang jam 8.55, stok beras seluruh Indonesia 5.000.198 ton. Ini adalah pertama, tidak pernah terjadi sepanjang sejarah. Ini sejarah pertama. Inilah hasil kerja keras kita semua,” ujar Amran.

Menanggapi pencapaian itu, Hendri  menyampaikan dukungan penuh terhadap upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan beras nasional. Bahkan dirinya tidak pernah meragukan komitmen pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, khususnya komoditas beras yang menjadi kebutuhan pokok.

“Saya tidak pernah meragukan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan beras rakyat. Terima kasih karena pemerintah sudah menyediakan beras untuk masyarakat,” ujar Hendri.

Ia juga mengapresiasi capaian stok beras nasional yang kini disebut mencapai 5 Juta ton. Bahkan menilai sebagai salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah. Capaian tersebut menjadi indikator positif dalam menjaga stabilitas pangan nasional di tengah berbagai tantangan global. “Stok yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya.

Ujang juga memberikan apresiasi sikap pemerintah yang tidak menutup-nutupi kondisi di lapangan. Apalagi memberikan akses luas kepada media, akademisi, dan masyarakat untuk melihat langsung ketersediaan pangan.

“Ini kegiatan yang positif, objektif, dan tidak direkayasa. Kementerian Pertanian terbuka untuk dinilai, dikritik, dan diberi masukan. Semua bisa melihat langsung kondisi stok beras yang ada,” ujarnya.

Menurutnya, keterbukaan akses terhadap gudang penyimpanan beras, termasuk milik Bulog, menjadi indikator penting bahwa pengelolaan pangan nasional dilakukan secara transparan dan akuntabel. Dari hasil pemantauan di lapangan, terlihat stok beras dalam jumlah besar yang dinilai mencukupi untuk kebutuhan dalam jangka panjang.

Ujang menilai capaian tersebut merupakan bagian dari konsistensi pemerintah dalam mendorong swasembada pangan, khususnya beras. “Yang kita saksikan hari ini adalah bukti nyata. Stok beras melimpah, tidak ada manipulasi, dan semuanya ditampilkan secara terbuka. Ini sekaligus membantah berbagai keraguan yang berkembang di masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu Ichsanuddin Noorsy menilai, saat ini masih ada perbedaan istilah ketahanan dengan kemandirian pangan. Dengan gambaran stok beras pemerintah sebanyak 5 juta ton, dirinya  sepakat Indonesia mendekati kemandirian pangan. "Saya sepakat ini," ujarnya.

Namun untuk komoditas pangan lain, Ichsanuddin menyatakan, belum sepakat kondisi belum mencapai kemandirian. Pasalnya, ada beberapa komoditas yang hingga kini Indonesia masih ketergantungan impor.

"Pertanyaan saya sesungguhnya kita hari ini sepakat terjadi kemandirian beras, tapi kita tidak sepakat terjadi kemandirian pangan. Jadi bagaimana kita melihat kedua hal tersebut," tegasnya

Sementara itu, Dirut Bulog, Ahmad Rizal mengatakan, pencapaian angka 5 juta ton ini menurutnya, adalah wujud komitmen BULOG dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga beras. Bahkan menjadi fondasi kuat untuk menghadapi berbagai tantangan ke depan, sekaligus memastikan masyarakat tetap memperoleh akses pangan yang cukup dan terjangkau.

"Saat ini saya sampai bukan hanya gudang Bulog yang penuh, tapi juga gudang swasta yang kita sewa juga penuh dengan beras yang petani kita produksi," katanya. Hal ini lanjut Rizal menunjukan negara Indonesia swasembada pangan. 

Bahkan ia menegaskan, kondisi tersebut bukan rekayasa. Pemerintah membuka pintu untuk masyarakat, termasuk media massa untuk melihat langsung kondisi gudang beras di seluruh Tanah Air, baik gudang Bulog maupun swasta.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018