Sabtu, 24 Agustus 2019


Turunkan Kemiskinan Sumedang dengan Pemberdayaan Buruh Tani

27 Mar 2019, 23:54 WIBEditor : Gesha

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menekankan jika lokomotif penurunan kemiskinan bisa dilakukan dengan membangun pertanian | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

Melalui serangkaian program pemberdayaan petani, khususnya buruh tani, diyakini mampu menurunkan angka kemiskinan hingga 1 persen.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sumedang --- Target penurunan angka kemiskinan sudah seharusnya memperhatikan potensi pembangunan yang bisa mendongkrak. Untuk di Kabupaten Sumedang misalnya, tanaman hortikultura bisa menjadi leading pemberdayaan petani untuk menurunkan kemiskinan.

"Kabupaten Sumedang merupakan salah satu sentra hortikultura di Jawa Barat. Terdapat tananan sayuran 5.675 hektar, sawo 670 hektar, mangga 7.500 hektar, manggis 1.500 ha, dan alpukat 3.200 hektar serta terdapat juga salak," bebernya ketika menemani Menteri Pertanian, Amran Sulaiman di Kantor Bupati Sumedang, Rabu (27/3).

Melihat potensi demikian besarnya, Ditjen Hortikultura menggelontorkan sejumlah bantuan khusus untuk subsektor hortikultura tersebut. "Guna mendorong peningkatan produksi disalurkan bantuan 2019 ke Sumedang total Rp 5,5 miliar untuk pengembangan bawang merah, bawang putih, cabai, paria, timun, terong, mangga 90 hektar, dan lainnya. Bahkan disiapkan untuk membuka pasar lelang sayuran, bangsal pasca panen dan sarananya," ungkap Suwandi.

Aneka bantuan yang diterima Kabupaten Sumedang diapresiasi oleh Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir. Bahkan dirinya sangat paham dengan potensi hortikultura yang dimiliki Sumedang bisa didorong untuk menjadi faktor penurun kemiskinan di daerah yang dijuluki Kota Tahu ini.

Melalui serangkaian program pemberdayaan petani, khususnya buruh tani, diyakini mampu menurunkan angka kemiskinan hingga 1 persen. "Ini fokus saya. Saya akan mengurangi angka kemiskinan 0,8 - 1 persen angka kemiskinan di Sumedang. Ini jauh dari angka rata-rata yang hanya 0,5 persen. Kita ingin progressif angkanya dan kami sudah komunikasikan dengan seluruh SKPD dan stakeholders terkait,"jelasnya.

Dony menguraikan hal terpeting dalam upaya penuntasan kemiskinan adalah memperhatikan buruh tani. Kemiskinan itu ada di kantong-kantong desa yang rata-rata berprofesi sebagai buruh tani. Dirinya menyatakan kalau ingin mengentaskan kemiskinan, maka buruh tani harus diberdayakan.

Untuk itu Pemda Sumedang berencana memberdayakan buruh tani sehingga pertanian itu betul-betul sebuah  mata pencaharian yang prospektif.

"Sumedang memiliki potensi hortikultura yang bagus, utamanya mangga, sawo dan jeruk. Untuk mangga gedong gincu sudah ada ada 15 ribu hektare yang sudah berproduksi. Total ada 30 ribu hektare potensi pengembangan mangga gedong gincu di Kabupaten Sumedang ini," ucap Dony.

Dalam waktu dekat kawasan gedong gincu ini akan dijadikan areal agrowisata. "Kami akan bangun agrowisata gedong gincu, jadi orang kalau mau gedong gincu bisa petik sendiri. Kita siapkan lahannya. kita akan kerjasamakan dengan perhutani," ucapnya.

Serangkaian persiapan mulai dari mengumpulkan kelompok tani dan asosiasi, Pemda Sumedang juga telah membuat MoU dengan perusahaan terkait.

Sementara itu jeruk juga dinilai potensial. Bersama dengan dinas pertanian, usaha peningkatan produksi menjadi target berikutnya. "Saya coba tingkatkan produksinya. Kami coba perluas dengan tanah kas negara, tanah perhutani. Luasan lahan harus ditambah kemudian mekanisasinya, pertaniannya ditingkatkan. Luasan bertambah, mekanisasinya bagus, produksinya bagus. Kalau produksinya tinggi butuh pasar yang terjamin, termasuk akses pasar yang baru kita buka selebar-lebarnya termasuk digital marketing," jelasnya.

Dirinya bersyukur sinergi Pemda dengan Kementerian Pertanian selama ini diwujudkan dengan koordinasi yang baik. "Iya selama ini kami tidak lepas dari Kementerian Pertanian. Terbukti dengan komunikasi yang baik, Kementerian Pertanian membantu dalam hal peningkatan produksi hortikultura, baik dalam bentuk benihnya, sarana produksi pertanian dan alat mesin pertanian," bebernya.

Pelatihan

Upaya mengurangi angka kemiskinan dari jalur pertanian juga diwujudkan melakukan serangkai pelatihan keterampilan. Tidak tanggung-tanggung, untuk tahun ini menargetkan 1000 orang siap pakai.

"Kami buat kelompok - kelompoknya. Kami menyewakan lahan untuk mereka, kemudian kami bantu modalnya, benihnya, pupuk hingga alat mesin pertanian. Termasuk pelatihan pemberdayaan petaninya kemudian pelatihan untuk digital marketing. Kami rekrut sebanyak 1000 orang tahun ini. Setelah dia menghasilkan produksinya, dia bisa langsung tawarkan secara online. Kalau online ini berhasil maka akan memotong mata rantai pasar sehingga akan mendapatkan harga yang bagus," jelasnya.

Setidaknya ada 1160 paket pelatihan kewirausahaan, pelatihan, keterampilan lainnya. "Saya tekankan agar tidak sekedar formalitas saja. nanti kerja sama modalnya dengan bank yang ada. kemudian kita jadikan one village one product. satu desa menghasilkan apa dengan bekerja sama dengan BUMDes yang terdapat dalam kampung-kampung itu," tutupnya.

 

 

Reporter : Dessy Puspitasari
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018