Kamis, 18 Juli 2024


Mendekatkan Anak Muda dengan Pertanian

26 Jun 2024, 15:04 WIBEditor : Yulianto

Generasi muda pertanian | Sumber Foto:dok. sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Pertanian, profesi manusia di dunia paling tua itu kini hanya digeluti kelompok manusia berumur tua. Bagi yang muda "ogah" menjadi petani. Ini terjadi di seluruh dunia. Di Indonesia petani muda yang tinggal di pertanian hanya 21 persen dari total petani yang tercatat sebanyak 40 juta orang.

Tidak hanya alasan ekonomi, generasi muda juga mempunyai gaya hidup berbeda dibandinngkan para pendahulunya. Kota dan non pertanian memberikan daya tarik luar biasa, sehingga mereka keluar dari desa dan pertanian. Desa dan pertanian dianggap tidak menjanjikan masa depan yang cerah karena lahan sudah sedemikian sempit dan belajar dari orangtuanya, hasil pertanian dan harganya tidak menjamin kehidupan yang layak.

Kota dan industri juga berkembang cepat sehingga daya tariknya menggerus kaum muda dari pertanian. Pertanian kehilangan tenaga muda dan yang tinggal adalah petani tua yang secara fisik maupun pemikiran dan kreativitas makin terbatas. 

Perpindahan ke sektor non pertanian bisa jadi keputusan terbaik bagi individual karena mengharapkan kehidupan yang lebih baik, tapi bagaimana dampaknya bagi sebuah bangsa? Inilah yang sedang terjadi di seluruh dunia. Pertanian sebagai sumber pangan terancam. Maka setiap negara memberi insentif kepada generasi muda agar berkiprah di sektor pertanian.

Kehidupan kota moderen memang jauh dari pertanian. Generasi muda tidak mengenal dengan baik pertanian karena produk pertanian yang mereka kenal dan tersedia di pasar/supermarket adalah yang siap dimasak atau dikonsumsi yang bentukanya sudah jauh berbeda dari kondisi aslinya.  Mereka mungkin kenal buah dan daging, tapi tidak tahun pohon dan hewan ternaknya.  Secara gradual generasi muda semakin jauh dari pertanian dan alam.

Kembali ke Alam

Seakan ada kelelahan kehidupan perkotaan yang penuh dengan rutinitas, muncul kegiatan kembali ke alam, back to nature di kalangan generasi muda. Fenomena yang mulai tumbuh akhir-akhir ini sangat bisa dijadikan momentum untuk mengenal pertanian.

Bisnis pun merespon dengan cepat. Wisata alam atau ecotourism yang berkembang di seluruh dunia mengubah arah wisata dari yang semula berat ke obyek hasil tangan manusia seperti kota besar dengan segala latar belakang sejarahnya, ke ecotourism, keunikan alam beserta segala tantangannya. Ecotourism berkembang bahkan di kota-kota besar Indonesia dan menjadi bisnis besar yang menguntungkan.

Pengenalam alam harus dimulai sejak kecil saat masih di bangku sekolah. Ini juga membuka kesempatan usaha baru di pedesaan. Dengan modal yang tidak begitu besar dan menjadi bagian dari kegiatan produksi pertanian, ecotourism cepat berkembang dan disukai.

Memetik buah, menanam sayuran, hidroponik, membajak sawah, naik kerbau, makan di sawah dan sebagainya, selain bertujuan mengenal alam juga merupakan kegiatan yang mengurangi stres yang sehari-hari dihadapi dalam kehidupan kota. Arung jeram, menyusuri sungai dan hutan atau perkebunan menjadi populer di kalangan anak muda.

Pengalaman di beberapa negara, dukungan permodalan dan ketersediaan lahan pertanian serta kerjasama masyarakat merupakan upaya yang efektif untuk menarik anak muda di pertanian dan pedesaan. Menjamurnya ecotourism selayaknya mendapat dukungan permodalan dan sentuhan teknologi dan program yang membuat pengunjung anak muda terkesan dan belajar alam dan pertanian.

Pertanian moderen yang dikembangkan di desa atau di kota merupakan kesempatan kerja baru yang terbuka bagi generasi muda yang umumnya berpendidikan dan kreatif untuk mencoba hal yang baru.

Negara-negara yang mengembangkan pertanian moderen mengantisipasi pemuda akan tertarik tinggal di desa. Upaya tersebut termasuk membangun infrastruktur, jaringan pasar dan mendekatkan pengolahan dengan sentra produksi sehingga lebih efisien.

Jepang sebagai contoh, yang dikenal karena adopsi teknologi pertanian yang canggih dan inovatif, telah mengembangkan sistem pertanian berbasis teknologi tinggi, seperti penggunaan robotik, automatisasi, sensor, dan kecerdasan buatan. Kita masih mempunyai banyak cara untuk menarik anak muda berkiprah di pertanian dan pedesaan.

Mengubah image pedesaan adalah strategi lain yang efektif. Pedesaan dan pertanian yang dianggap tradisional, kurang tantangan harus menjadi lokasi moderen yang menawarkan sumber kehidupan yang tenang, sehat dan terhindar dari kehidupan yang keras dan penuh stres.

Pedesaan tidak lagi menjadi wilayah terpencil terpisah dari kehidupan moderen. Apalagi teknologi sudah menghilangkan jarak dan waktu sehingga Work From Home akan menjadi bagian dari solusi menggairahkan kembali kehidupan ekonomi pedesaan.

Meskipun penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani telah berkurang seiring dengan modernisasi, masih banyak tempat untuk dapat melihat pemandangan yang menenangkan hati, seperti hamparan sawah dan ladang atau hutan. Berkat dukungan tersebut, pemuda terpicu untuk tinggal di desa dan bekerja di bidang pertanian. Semoga. 

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018