
Peningkatan konsumsi pangan singkong
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Singkong menjadi salah satu pangan lokal tinggi karbohidrat yang bisa menjadi subtitusi selain beras. Selama ini stigma yang berkembang di masyarakat memposisikan singkong sebagai bahan pangan kasta kedua, di bawah beras (inferior).
Bahkan ada anggapan orang yang mengonsumsi singkong sebagai makanan sehari-hari dianggap kurang makmur alias miskin, sehingga memberikan pengaruh pada menurunnya jumlah konsumsi. Padahal sejatinya sebelum beras masuk wilayah Nusantara, masyarakat kita terbiasa untuk mengonsumsi umbi-umbian termasuk singkong.
Posisi singkong dulu menjadi pangan utama yang dikonsumsi sehari-hari. Beras, sebagai bahan pangan yang masuk belakangan, hanya dimakan kalangan atas saja, para raja dan pemimpin daerah. Karena itulah, beras kemudian dianggap sebagai bahan pangan lambang kemakmuran.
Pergeseran singkong menjadi beras untuk konsumsi terjadi ketika pertanian masyarakat kita mulai besar, maju dan modern. Untuk mengembalikan posisi pangan lokal, termasuk singkong, salah satu kebijakan dan strategi peningkatan ketahanan pangan yang didorong Kementrian Pertanian adalah Cara Bertindak2 (CB2) yaitu diversifikasi pangan lokal.
Kebijakan ini adalah upaya mendorong peningkatan ketersediaan dan konsumsi pangan lokal. Pemanfaatan pangan lokal secara massif seperti ubi kayu, jagung, pisang, kentang dan talas untuk konsumsi berbasis pada kearifan lokal yang fokus pada komoditas utama.
Gerakkan Masif
Sebagai satu sumber karbohidrat non beras, ubi kayu atau singkong mencatatkan tingkat konsumsi yang cenderung turun dari tahun ke tahun. Data Badan Ketahanan Pangan menyebutkan, tingkat konsumsi singkong pada tahun 2017 sempat mencapai angka tertinggi yaitu 12,40 kg/kapita/tahun, namun tahun 2020 turun menjadi 8,59 kg/kapita/tahun saja.
“Perlu gerakan yang massif untuk mengkampanyekan peningkatan konsumsi singkong sebagai subtitusi beras,” kata Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan, Yasid Taufik saat webinar: Makan Singkong bikin Sehat yang digelar Tabloid Sinar Tani, Kamis (12/8)
Harapannya pada tahun 2021 konsumsi bisa naik mencapai 12,4 kg/kapita/tahun. Kemudian dengan berbagai upaya sistematis target konsumsi pada tahun 2024 mencapai 18,1 kg/kapita/tahun.
Kekinian singkong hanya diolah sesekali menjadi camilan atau snack seperti getuk, combro serta singkong goreng dan dinikmati sebagai teman minum teh atau kopi saja. “Sudah waktunya singkong di reposisi kembali menjadi makanan utama di meja makan sebagai pengganti nasi,” kata Yasid.
Selain mengenyangkan, menurut Yasid, sebenarnya singkong sebagai sumber karbohidrat lebih menyehatkan dibanding beras dan kentang. Indeks Glikemik (IG) singkong sebesar 55 jauh lebih rendah dibandingkan beras di angka 73 dan kentang di 78.
IG adalah angka yang menunjukkan potensi peningkatan gula darah dari karbohidrat yang terdapat pada pangan yang dikonsumsi manusia. Hal ini akan memiliki efek pada peningkatan terhadap kadar glukosa dalam darah. Singkat kata, singkong lebih aman dikonsumsi bagi penderita penyakit diabetes.
Dari sisi ekonomi, menurut Yasid, singkong memiliki keunggulan. Harga singkong dipasaran jauh lebih murah ketimbang beras dan kentang. Perbandingannya harga beras sebesar Rp. 8.000-10.000/kg, harga kentang Rp 10.000-13.000/kg, sedangkan singkong hanya diangka Rp 2.000-3.000/kg.
“Dengan tingkat kekenyangan yang sama, harga singkong lebih murah. Sedangkan untuk pengolahannya lebih simple dengan hanya dikukus atau direbus, singkong sudah bisa di konsumsi,” tuturnya.