Kamis, 30 Mei 2024


Luki Lumanulhakim, Petani Inovator Hasilkan Jagung Pelangi

07 Mar 2024, 09:16 WIBEditor : Gesha

Luki memperlihatkan jagung Pelangi miliknya | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Cianjur -- Sosok Luki Lukmanulhakim sedang menjadi sorotan publik berkat prestasinya dalam mengembangkan variasi warna pada jagung jenis glass gem corn rainbow.

Petani yang berasal dari Kampung Lebak Saat, Desa Cirumput, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini berhasil menciptakan 12 variasi warna baru dari empat jenis warna jagung yang ditanamnya.

Luki adalah seorang petani yang senang mengoleksi plasma nutfah, memiliki minat yang besar dalam melestarikan keanekaragaman genetik tanaman.

Salah satu koleksinya adalah jagung jenis glass gem corn rainbow, yang menghasilkan warna-warna yang mencolok, mulai dari kuning corak kehitam-hitaman, biru tua, hingga motif mirip batik. Selain itu, Luki juga menyukai rekayasa genetik untuk menghasilkan varietas baru.

Menurut Luki, koleksi plasma nutfah tersebut telah dimulai sejak tahun 2000-an, ketika ia terjun menjadi petani.

Baginya, hal ini lebih dari sekadar hobi; ini juga merupakan sebuah idealisme untuk ikut serta dalam melestarikan keberagaman genetik sebagai sumber daya yang berharga.

Ia percaya bahwa tanaman lokal memiliki kualitas yang tidak kalah bagus, terutama dalam hal rasa dan kandungan gizi.

Selain keunikan jagung dengan berbagai warna hasil inovasi Luki, jagung tersebut juga memiliki keunggulan yang sangat menguntungkan.

Luki memutuskan untuk menanam jenis jagung tersebut karena banyak referensi yang menyebutkan manfaat kesehatan dari kandungan warna jagung.

Salah satu contohnya adalah jagung bulir hitam yang dikenal baik untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes.

Selain manfaat kesehatan, jenis jagung ini juga memiliki waktu tanam yang relatif singkat dan perawatan yang tidak rumit.

Sementara jagung pada umumnya memerlukan waktu 120 hari atau tiga sampai empat bulan untuk dipanen, jagung yang ditanam oleh Luki dapat dipanen sekali dalam sebulan saja.

Walaupun memiliki masa panen yang relatif cepat, jagung pelangi memiliki nilai jual yang tinggi. Berbeda dengan jagung biasa yang umumnya hanya mencapai harga jual sekitar Rp 2.000 per kilogram, jagung pelangi bisa mencapai harga hingga Rp 9.000 per kilogram. Bahkan, harga jual per butirnya pun dapat mencapai Rp 500.

Selain berhasil mengembangkan varietas jagung, sarjana pertanian ini juga telah melakukan rekayasa genetik pada berbagai jenis tanaman seperti buncis, labu, cabai, tomat, wortel, bunga matahari, kenikir, aster, dan banyak lagi sayuran lainnya.

Melalui pengalaman dan konsepnya dalam mengelola lahan pertanian, Luki telah membangun kebun di berbagai lokasi di Jawa Barat dan juga di daerah-daerah lain seperti Tuban, Gorontalo, Halmahera, dan Pulau Seram.

Dia juga terbuka untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan petani lain serta mengajak mereka untuk mengembangkan mindset yang lebih baik dalam mengelola bisnis pertanian.

Setiap kebun yang dibangun oleh Luki bukan hanya sebagai tempat produksi, tetapi juga sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi bagi para petani, terutama petani sekitar.

Tujuannya adalah untuk berbagi informasi dan pengetahuan tentang teknik pertanian yang baik dan manajemen yang efektif, sehingga usaha pertanian bisa menjadi bisnis yang berkelanjutan dan menyejahterakan masyarakat setempat

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018