Monday, 10 August 2020


Inilah Cara Poktan Karya Sumberberas Dukung Gaya Hidup Sehat

17 May 2020, 09:53 WIBEditor : Yulianto

Pembuatan pupuk organik | Sumber Foto:Eva E.

TABLOIDSINARTANI.COM, Banyuwangi---Untuk mendukung program pertanian organik, Kelompok Tani (Poktan) Karya Sumberberas, Banyuwangi, memproduksi pupuk organik dan agens hayati. Dengan pertanian organik diharapkan produktivitas tanaman meningkat dan produk yang dihasilkan aman dan layak dikonsumsi.

 “Selain produktivitas yang tinggi, petani berupaya bagaimana bisa menghasilkan produk pertanian yang aman dan layak dikonsumsi yaitu melalui pertanian organik,” kata Ketua Seksi Pengolahan Pupuk Organik, Poktan Karya Sumberberas, Sumadi.

Poktan yang berlokasi Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar ini membentuk Unit Pelayanan Pembuatan Pupuk Organik dan PPAH Swadaya. Poktan Sumberberas mengolah pupuk organik yang berasal dari kotoran sapi, abu sekam, katul kasar, dekomposer, serbuk gergaji, 1 sak (selain kelapa dan jati), dolomit dan tetes tebu.

Sumadi mengatakan, untuk mengetahui pupuk organik tersebut telah jadi bisa dengan memasukkan tangan ke dalam adonan. Jika  suhunya telah dingin, warnanya coklat kehitaman, berbau menyerupai tanah. Ketika dipegang berbentuk halus atau remah. “Itu tandanya pupuk organik tersebut siap digunakan,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Poktan Karya Sumberberas, Sugiyanto menambahkan, pihaknya juga memperbanyak agens hayati seperti Beaveria bassiana, ferticilium, trichodherma, Pseudomonas fluorescens dan bakteri merah. Untuk teknisnya, pihaknya dilatih petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi dan POPT.

Dikatakan, dalam 1 tahun Poktan Karya Sumberberas mampu mengolah pupuk organik sekitar 50 ton. Sedangkan untuk perbanyakan agens hayati, sekali produksi bisa sampai 100 liter.

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan agens hayati,  Sugiyanto menjelaskan, Poktan Karya Sumberberas terlebih dahulu mengirimkam contoh hasil perbanyakan ke laboratorium TPHPHT Tanggul–Jember. Jika sudah diperoleh hasil laboratoriumnya, maka pihaknya siap mengaplikasikan di lahan anggota maupun di pasarkan ke petani sekitarnya.

Gaya Hidup Sehat

Pertanian organik kini menjadi salah satu metode yang banyak diadopsi petani seiring makin banyaknya permintaan produk pertanian organik. Apalagi saat pandemi Covid-19 yang memaksa perubahan prilaku hidup manusia untuk hidup lebih sehat, baik pola hidup maupun mengonsumsi makanan yang sehat.

Produk pertanian organik menjadi salah satu alternatifnya. Seperti diketahui, untuk mendapatkan makanan bergizi, selain proses pengolahan, kandungan bahan baku dan residu bahan kimia menentukan apakah produk pertanian itu layak dikonsumsi atau tidak.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan, pertanian ramah lingkungan memiliki berbagai pilar, yaitu lingkungan, sosial termasuk didalamnya masalah kesehatan dan ekonomi. Lingkungan menjadi alasan utama dalam bertani organik.

Organik dianggap cara bertani yang ramah lingkungan, karena menggunakan bahan-bahan alami dan tidak menggunakan bahan kimia sintetis, khususnya pupuk dan pestisida, sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan," kata Dedi.

Karena itu Dedi menganjurkan agar petani senantiasa membuat secara mandiri input produksinya, seperti pupuk organik padat, pupuk organik cair dan pestisida nabati. Karena dampak positif pertanian organik dalam jangka panjang sangat menguntungkan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, pertanian harus menggunakan cara-cara baru untuk bisa menghadirkan efektivitas atau kemampuan yang lebih banyak lagi. Sebab, pertanian bukan hanya menumbuhkan tanaman, tapi menghadirkan hati, pikiran dan gerakan agar hidup bisa lebih baik. Pastikan pertaniannya bisa hadir, serta massif gerakannya.

"Kalau begitu, pertanian harus menjadi kekuatan bangsa ini dengan menggunakan teknologi yang lebih baik, memanfaatkan sains dan riset yang lebih kuat sehingga bisa menghadirkan kemampuan-kemampuan kita," tegas mantan Gubernur Sulsel itu.

Karenanya, Syahrul meminta kepada pelaku pertanian di seluruh Indonesia untuk membantu dirinya membangun pertanian. Kementan mendorong petani bertani secara mandiri, modern dan maju.

 

 

 

Reporter : Eva Ermawati/Yeniarta (BBPP KETINDAN)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018