Kamis, 18 Juli 2019


Tanda Jempol untuk UPJA Berkinerja Apik

19 Mar 2019, 11:25 WIBEditor : Yul

Penambahan alsintan sangat relevan untuk pengembangan usaha UPJA.

TABLOIDSINARTANI.COM, DEMAK -- Modernisasi pertanian melalui mekanisasi pertanian dalam kurun empat tahun tak hanya berdampak postif terhadap peningkatan produksi pertanian. Mekanisasi pertanian juga mendorong sejumlah kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) untuk membentuk unit pelayanan jasa alsintan (UPJA).

Terbentuknya UPJA menjadi motor baru penggerak ekonomi pedesaan. Bukan sekadar mendorong pergerakan pembangunan pertanian, keberadaan UPJA menjadi kegiatan usaha lain bagi petani, khususnya Poktan dan Gapoktan. Jika mungkin sebelumnya Poktan dan Gapoktan sebatas organisasi petani dalam usaha tani (on farm), maka kini juga sebagai kegiatan lainnya hingga off farm.

Salah satunya UPJA Karya Bersama yang berada di Desa Megoten, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak. Bahkan untuk membantu petani, kini UPJA yang dikelola Gapoktan Karya Bersama berupaya menambah jumlah alsintan untuk optimalisasi dan pengembangan usahanya.

Apalagi kini mulai sadarnya petani menggunakan alsintan membuat makin banyak menerima pesanan sewa alsintan saat musim tanam dan panen tiba. “Karena yang meminjam atau menyewa alsintan cukup banyak, beberapa petani terpaksa antri untuk mendapatkannya,” ujar Manajer UPJA Karya Bersama, Muhson.

Muhson mengungkapkan, untuk mengantisipasi antrian petani yang akan menyewa alsintan, manajemen UPJA tahun ini berencana akan menambah jumlah alsintan. Alsintan yang akan ditambah itu di antaranya rice transplanter yang semula hanya dua unit, saat ini sudah bertambah 1 unit. “Kami juga berencana membeli alsintan lainnya, seperti combine harvester sebanyak satu unit supaya UPJA yang kami kembangkan ini usahanya bisa lebih optimal lagi,” katanya.

Muhson berpendapat dengan penambahan jumlah alsintan seperti traktor dan combine harvester sangat relevan untuk pengembangan usaha UPJA. Saat ini UPJA Karya Bersama memiliki traktor roda 4 (TR 4) 1 unit, traktor roda 2 (TR 2) 4 unit, dan combine harvester (CH) 2 unit. Khususnya combine harvester ini kami harapkan tahun ini bisa nambah satu lagi,” ujarnya.

Harapan Muhson, dengan penambahan CH membantu manajemen UPJA berekspansi ke daerah lain. Selama ini menurutnya, daerah lain mengalami kekurangan alsintan, bahkan ada yang sempat datang untuk menyewa alsintan ke UPJA Karya Bersama. Di antara daerah yang akan menjadi sasaran sewa CH itu adalah petani di Kecamatan Gajahan dan Karanganyar, Kabupaten Demak bagian utara.

“Kalau di desa kami sedang panen, CH ini akan kami fokuskan untuk petani anggota Gapoktan terlebih dahulu. Nah, kalau di desa kami sedang tak ada panen, CH ini bisa kami sewakan ke daerah lain,” papar Muhson.

Kendati alsintannya sudah merambah ke daerah lain, manajemen UPJA Karya Bersama yang berada di bawah naungan Gapoktan Karya Bersama tetap komitmen memberi kemudahan sewa alsintan ke anggotanya yang berjumlah 125 orang (5 kelompok tani). Pastinya, manajemen UPJA akan memprioritaskan sewa alsintan ke anggotanya.

Muhson mengatakan, ongkos sewa alsintan ke anggota Gapoktan Karya Bersama pun dipatok dengan harga yang terjangkau. Contohnya, petani yang sewa traktor roda 4 dan 2 hanya dikenakan ongkos sewa Rp 450 ribu/bahu atau Rp 680 ribu/ha. Sedangkan petani yang berada di wilayah kerja UPJA hanya dikenakan sewa combine harvester dengan harga Rp 1 juta/ha. Kemudian, untuk sewa rice transplanter dipatok dengan harga Rp 1,5 juta/bahu, atau sekitar Rp 2 juta/ha.

Tercatat, pendapatan UPJA pada tahun 2018 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Apabila pendapatan UPJA pada tahun 2017 sebesar Rp 100 juta, maka target pendapatan UPJA tahun 2018 sebesar Rp 120 juta sudah tercapai. Manajemen UPJA menargetkan pendapatan UPJA pada tahun 2019 bisa meningkat sebesar 10% dibanding tahun 2018.

 

Reporter : Idt
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018