
Joni rahmat ditempat membudidayakan jamur
Joni menjelaskan, untuk media tanam jamur bisa menggunakan serbuk gergaji kayu, kecuali serbuk kayu pinus. Paling mudah didapatkan biasanya kayu sengon laut. Kemudian bisa dikombinasikan dengan bekatul dan tepung jagung. Perbandingannya 80 persen serbuk kayu, 15 persen bekatul dam 5 persen bahan lain. “Ada juga yang menggunakan tambahan gula tetes atau molase,” ujarnya.
Langkah selanjutnya bahan tersebut dicampurkan dan dikemas dalam baglog dari bahan plastik. Lalu, disteam untuk disterilkan dalam mesin boiler dalam keadaan tertutup menggunakan uap. “Awalnya dulu saya hanya menggunakan drum. Penataannya ditumpuk 2 lapis yang hanya bisa menampung sekitar 100 baglog dengan suhu sekitar 90 derajat celsius selama 4 jam,” tuturnya.
Namun saat ini Joni menggunakan mesin dengan suhu sekitar 100 derajat celsius dan membutuhkan waktu maksimal 7 jam dengan kapasitas 1.000 baglog. Penataan harys dilakukan secara hati-hati agar uap bisa menyebar ke semua bagian secara merata dalam keadaan tertutup agar tidak terkontaminasi bakteri. “Proses selanjutnya setelah sterilisasi adalah inokulasi yaitu memasukkan bibit dalam media pengembangan. Setelah 2 minggu biasanya sudah terlihat pertumbuhannya,” ungkapnya.
Joni mengatakan, pembuatan bibit bisa dengan cara kultur jaringan atau menggunakan spora. Sebaiknya memilih calon bakal bibitnya yang bagus sebelum dipanen. Batang dan tudung jamur merupakan bagian terbaik untuk dijadikan bibit. Tentunya dengan proses pencucian agar bibit steril, kemudian batang dan tudung jamur dikupas dan dipotong kecil-kecil dalam tempat tertutup yang terbuat dari kaca.
Pengembangannya menggunakan media cairan dari bahan jus kecambah, kacang ijo atau kentang yang biasa dikenal potato dextrose agar (PDA) yang dimasukkan dalam botol terbuat dari gelas. “Semua media sudah dilakukan proses pemanasan menggunakan steril autoclave agar terhindar dari bakteri yang merugikan selama 20 hari,” tuturnya.
Jika baglog dari bahan plastik yang ujungnya terdapat penutup berupa ring yang dapat dibuka, maka tutup inilah untuk memasukkan bibit hasil okulasi dengan cara ditusuk sedalam 5-7 cm atau ditaburkan sebanyak satu sendok makan. Dapat juga menggunakan alat stik dari bahan stenlis yang dapat dipanaskan dan dicuci dengan bahan alkohol agar tetap steril.
Kemudian plastik tutupnya diganti menggunakan bahan dari koran atau kertas. Dapat juga berupa kapas. “Pada bagian inilah nantinya tempat awal tumbuh jamur tiramnya,” katanya.

Joni mengatakan, sesudah bibit diinokulasi selanjutnya dilakukan inkubasi menunggu proses perkembangan. Biasanya akan kelihatan mulai tumbuh pada ujung media tanam. Lama waktu sekitar 30 hari. Biasanya dalam 2 minggu sudah kelihatan apakah media yang digunakan layak untuk dipindahkan di tempat pertumbuhan atau dibuang untuk diproses ulang.
Sesudah inkubasi selanjutnya ke pertumbuhan. Joni menyusun pada rak bertingkat. Pada bagian depan media terdapat semacam ring penutup yang sudah diganti dengan koran atau kertas. Setelah 90 persen pertumbuhannya bisa dilubangi bagian yang belakang sampai tumbuh maksimal.
“Karena tanaman ini juga ada hamanya, kalau tutupnya dibuka dulu akan terserang penyakit. Jadi jangan dibuka sampai pertumbuhannya sudah terlihat sempurna menembus kertas atau koran pelindungnya,” katanya. Proses pertumbuhannya bisa mencapai 30-35 hari tergantung jenis bibit yang ditanam, bahkan ada yang sampai 60 hari.
Joni mengingatkan, bagi yang tertarik budidaya jamur tiram agar menjaga kelembaban. Caranya dengan penyiraman dan pengabutan, karena bisa menimbulkan oksigen terlarut yang sangat membantu terbentuknya tudung jamur dengan sempurna.
Bagi pemula Joni juga menyarankan agar sanitasi dan kebersihan lingkungan budidaya atau kumbung dibuat tidak terlalu besar. Hal ini agar mudah dalam pengendalian hama dan bisa terputus perkembangbiakannya, sehingga bisa meminimalisir kegagalan.
Selain itu, bagian bawah lantainya dapat berupa tanah lansung. Namun Joni menyarankan menggunakan bata merah, sehingga bisa menyimpan kelembaban. Kumbung yang diatur tidak rapat dan sirkulasi yang baik akan menunjang keberhasilannya. “Sterilisasi kumbung sebelum pemakaian sangat dianjurkan agar pertumbuhan jamur menjadi sempurna,” kata Joni.