Friday, 07 August 2020


Prospek Cerah si Pedas, Kuncinya Penerapan Inovasi

07 Jun 2020, 16:06 WIBEditor : Yulianto

Cabai olahan memiliki prospek cerah untuk usaha. Siapa berminat? | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjen Hortikultura

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Pengembangan industri komoditas hortikultura cukup menjanjikan. Pasalnya, buah-buahan maupun sayuran dikonsumsi setiap hari oleh jutaan masyarakat. Begitu juga prospek komoditas cabai sangat menggiurkan.

Tak hanya menjadi bahan bumbu utama masyarakat Indonesia, cabai juga bisa dikreasikan menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi. Ini yang kemudian menjadi tantangan petani, pelaku agrobisnis hingga agro industri.

Demikian intisari webinar bertajuk 'Gedor Horti (Gerakan Mendorong Produksi, Daya Saing dan Ramah Lingkungan Hortikultura)' in Action, yang diselengarakan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Sabtu (6/6).

Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Retno Sri Hartati Mulyandari mengatakan, produksi cabai nasional amat melimpah. Berdasar data yang dilansir Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, kebutuhan konsumsi cabai besar saja mencapai 254.670 ton/bulan dengan produksi 281.712 ton atau surplus 27.042 ton.

"Artinya stok cabai selalu mencukupi. Persoalannya sekarang adalah bagaimana mengoptimalkan pola distribusinya. Bagaimana satu daerah yang surplus, bisa menyuplai daerah yang minus dari sisi produksi," ujar Retno.

Menurut Retno, ketika aspek distribusi bisa benar-benar optimal, maka stok dan harga terjaga stabilitasnya. Ini sebagaimana arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Tinggal kemudian digenjot untuk skala agrobisnis dan agro industri. “Maka dari itu dengan keberadaan Early Warning System (EWS) yakni sistem informasi mengenai ketersediaan stok komoditas hortikultura jelas sangat membantu," lanjutnya.

Sementara Kepala Balai Besar Penelitian Pengembangan Pascapanen, Prayudi Syamsuri mengatakan, pengolahan, inovasi teknologi pasca panen cabai penting dilakukan. Tak melulu meningkatkan sektor ekonomi, tetapi juga meminimalisir nilai kehilangan hasil panen (food losses).

Prayudi lantas mengungkapkan, kehilangan pasca panen komoditas cabai sekitar 18,8 persen. Sementara untuk produksi cabai nasional sendiri mencapai 2.559.000 ton/tahun. Artinya kehilangan potensi konsumsinya sekitar 276.000 ton/tahun.

Karena itu, inovasi teknologi pascapanen pertanian pada cabai menjadi sebuah keniscayaan. "Untuk cabai kita punya teknologi ozonisasi, CAS, modified atmospher storage. Untuk teknologi pengolahan cabai, ada juga minyak cabai, cabai kering, hingga cabai in brine," sambung Prayudi.

Dia menambahkan, potensi ekonomi cabai amat besar. Tak hanya buahnya, cabai memiliki banyak sekali bagian yang diolah. Mulai dari daun, batang, akar hingga biji atau cabai segar.

"Lebih dari 20 varian produk dengan nilai tambah cukup baik yang bisa diolah dari cabai. Pupuk hayati, bubuk cabai, abon cabai, pasta cabai, minyak cabai, farmasi, dan masih banyak lagi," kata Prayudi.

Prayudi optimis prospek industri pengolahan cabai nasional bakal melejit. Namun demikian perlu sinergi semua pihak agar implementasi penerapan teknologi pascabudidaya semakin masif. “Balai Besa Penelitian Pengembangan Pascapanen membuka diri bagi siapapun yang ingin belajar. Silakan datang, kami siap sharing hasil-hasil penelitian kami,” katanya.

Pekerjaan Rumah

Sementara itu Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Bambang Sugiharto mengatakan, pengembangan olahan cabai adalah salah satu perhatian Kementerian Pertanian. "Kami siap mendampingi dari sisi bimteknya termasuk stimulan kelengkapan usahanya. Petani dapat berkomunikasi dengan dinas pertanian setempat. Poin pentingnya adalah komitmen petani untuk terus berproduksi. Jangan sampai nanti permintaan banyak, produksinya turun atau barangnya tidak ada karena petani berganti komoditas. Jadi ayo bertani karena bertani itu keren," jelas Bambang.

Adapun Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayantie Yusuf mengingatkan agar petani menerapkan budidaya ramah lingkungan. Misalnya, menggunakan biopestisida agar hasil tanaman berkualitas dan aman konsumsi.

"Cabai belum bisa ekspor karena penggunaan pestisida. Maka kami arahkan petani untuk menggunakan biopestisida agar hasil tanaman berkualitas dan aman konsumsi tentunya," ujarnya.

Sementara itu Bupati Tegal, Umi Azizah mengatakan, fluktuasi harga cabai segar memang menjadi PR yang tiada hentinya. Utamanya saat pandemi Covid 19 di mana banyak horeka yang tidak beroperasi termasuk penerapan PSBB yang mempersulit distribusi cabai.

"Meskipun demikian, hal ini tidak akan menyurutkan semangat tanam para petani. Petani memiliki mental pejuang. Ketika harga hari ini turun, petani tetap semangat dengan keyakinan di masa depan harga akan membaik," ujarnya.

Penyelenggaraan bimtek olahan cabai online yang menyedot perhatian hampir 1200 peserta yang menginput daftar absensi dan dengan angka tertinggi di ruang virtual sebanyak hampir 800 node ini membuktikan besarnya animo masyarakat, pengusaha, penyuluh, dan petani untuk mengembangkan bisnis cabai olahan. “Saya kira pasarnya luas ya, tidak hanya ibu - ibu muda. Jaman sekarang orang lebih suka yang praktis. Ini prospek bisnis menjanjikan," tambahnya.

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018