
Kampung Florikultura dipersiapkan untuk komoditas Florikultura tembus ekspor
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --Trend meningkatnya permintaan tanaman hias di pasar internasional saat pandemi Covid-19 disikapi pemerintah dengan lebih fokus mendukung upaya penumbuhan Kampung Florikultura berorientasi ekspor di berbagai wilayah potensial.
"Disamping untuk menangkap peluang pasar luar negeri, Penumbuhan kampung Florikultura berorientasi ekspor juga sebagai upaya kami bisa meraih peningkatan ekspor Florikultura tiga kali lipat sebagaimana yang diprogramkan Kementerian Pertanian," kata Direktur Buah dan Florikultura Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian , Liferdi Lukman, saat menjadi narasumber di acara FGD yang digelar Tabloid Sinar Tani, Rabu (16/06).
Sebagaimana diketahui, Kementerian Pertanian belakangan gencar menggaungkan Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks), disamping bertekad meningkatkan produksi pertanian 7 persen dan menurunkan impor 30 persen, penyerapan tenaga kerja serta peningkatan kesejahteraan petani.

"Peningkatan ekspor produk Florikultura tiga kali lipat tentu juga menjadi tantangan bagi kami. Tapi kami yakin bosa tercapai bila seluruh stakeholder bersatu padu untuk bisa mencapai target besar ini," tutur Liferdi.
Ia melihat sesungguhnya saat ini momen yang tepat untuk menggenjot peningkatan ekspor produk Florikultura Karena faktanya justru di masa pandemi covid-19 dimana orang dituntut lebih banyak berdiam di rumah hobi berbudidaya tanaman hias kian menjadi tren diikuti peningkatan demand tanaman hias di berbagai negara termasuk di negara Eropa yang permintaan khusus tanaman hias daun naik signifikan.

Seiring peningkatan minat masyarakat internasional untuk mengembangkan usaha budidaya tanaman hias maka, menurut Liferdi, Ditjen Hortikultura saat ini tengah terus fokus melaksanakan pengembangan program Kampung Florikultura berbasis ekspor.
Dana KUR
Bekerja sama dengan pihak eksportir yang telah mendapatkan kontrak pemesanan tanaman hias senilai Rp 2,3 triliun kampung Florikultura berorientasi ekspor akan dikembangkan di empat provinsi dengan target melibatkan sebanyak 1.000 petani.
Baca Juga
Inilah Strategi Rebut Pasar Florikultura di Jepang
Eksportir Florikultura, Taatilah Peraturan Karantina
Penyebab Florikultura Gagal Menghias Pasar Luar Negeri
Gara-Gara Anthurium Berparasit, Kunyit Jahe Indonesia Ditolak Masuk Jepang
Petani dalam hal ini akan mendapat modal sebanyak Rp 50 juta per petani dimana modal ini berupa pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan melalui satu bank pemerintah. " Dana KUR untuk Petani di kawasan Jawa Barat sudah cair. Semoga disusul petani di tiga wilayah lainnya," jelasnya.
Mengutip data BPS , Liferdi mengemukakan ekspor florikultura sempat menurun di tahun 2016 namun di tahun 2019 mengalami peningkatan dari volume nya 4 juta kg menjadi 7 juta kg. Nilai ekspornya juga meningkat dari 13 juta dolar AS menjadi 19,9 juta dolar AS.
Belakangan kian banyak juga yang berminat berinvestasi di bidang Florikultura."Tantangan ke depan adalah bagaimana peneliti kita bisa mengembangkan inovasi teknologi agar produk Florikultura Indonesia bisa berdaya saing tinggi di pasar dunia," tandas Direktur Buah dan Florikultura.