Friday, 07 May 2021


Jangan Sampai yang Kecil Mengusung yang Besar

02 May 2021, 17:10 WIBEditor : Ahmad Soim

Antara yang kaya dan yang miskin | Sumber Foto:Repro

 

 

 

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Dunia usaha semakin menunjukkan perubahan, mereka tidak lagi mengedepankan persaingan dengan tujuan menguasai pasar, tetapi lebih pada kerjasama untuk saling mendukung, saling menghidupi dan saling membesarkan. Interdependency lebih menonjol, sehingga usaha besar bermitra dengan usaha kecil, dan yang sudah maju membantu yang masih tertinggal. Produsen skala besar bekerjasama dengan pemasok bahan baku dan pemasar skala kecil, atau sebaliknya.

Keseimbangan peran dan manfaat ekonomi para pelaku dalam kegiatan ekonomi mulai dari bahan baku-produksi-pemasaran-konsumsi merupakan syarat untuk berlangsungnya proses kerjasama yang saling menguntungkan dalam jangka panjang. Kerjasama antara usaha besar dengan usaha kecil, dan bahkan antar daerah menunjukkan bahwa bisnis itu membangun sinergi dalam kondisi saling ketergantungan. 

Pertumbuhan usaha ekonomi pada sekelompok masyarakat atau wilayah, yang menurut teori Trickle-Down Effect  akan dengan sendirinya menciptakan pemerataan melalui penciptaan lapangan kerja dan usaha ekonomi ternyata perjalanannya sangat lambat. Bahkan dengan menciptakan kutub pertumbuhan berpotensi meningkatkan kesenjangan. Lalu bagaimana perjalanan usaha besar dan kecil di Indonesia?

Semangat untuk mendukung UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) dengan memberikan kemudahan dalam menyediakan berbagai fasilitas semakin menguat. Mulai dari kemudahan akses ke permodalan, perijinan, dan penyederhanaan sampai pada pemasaran melalui kemitraan dengan perusahaan besar. Penyimpangan di sana-sini bolehlah diabaikan, tetapi semangatnya sudah dalam alur yang benar.

Usaha kecil, apalagi kalau lemah memang ada dalam posisi kurang menguntungkan dibandingkan yang besar. Dia mempunyai keterbatasan dalam melakukan aktivitas usaha, apalagi jika bergerak sendiri-sendiri secara individual. Secara umum yang besar lebih kuat dalam manajemen, mampu membangun jaringan, melakukan komunikasi, memperoleh informasi, melakukan promosi, memperoleh kredit, menakar peluang pasar, adopsi teknologi baru dan akhirnya tentu meraup keuntungan.

BACA JUGA:

Pantas kalau pemerintah memberi perlindungan dan program khusus dalam membantu mengembangkan usaha kecil. Usaha kecil mempunyai banyak kendala walaupun daya tahannya terkenal die hard, terbukti warung makan kaki lima lebih mampu bertahan dibanding restoran besar, dikabarkan juga hotel melati lebih bertahan dari pada hotel bintang lima, dan pertanian yang didominasi usaha kecil masih bisa hidup ketika resesi katimbang usaha kelas raksasa.

Di mana titik lemah usahatani skala kecil setelah mendapat bantuan sarana produksi, penyuluhan, penyediaan kredit dan pemasaran? Titik lemahnya ada di pemasaran. Petani pertanian rakyat adalah pelaku usaha kecil yang biasa menjual di pasar berskala kecil dan jangkauannya terbatas. Di kelas pasar becek pun posisi petani masih lemah. Satu pickup sayuran yang datang ke pasar bukanlah milik petani lagi. Transaksi dan harga diatur oleh pembeli atau jelasnya calo yang berseliweran dan konon punya kekuatan di belakangnya. 

Harga bisa sangat rendah, apalagi kalau penjual banyak saingan. Petani tidak berdaya. Kalau dijual harganya rendah, kalau tidak dijual pun tidak mungkin karena sayuran akan membusuk tak berharga lagi. Belum ada aturan yang melindungi sehingga memungkinkan petani punya suara. Take it or leave it adalah buah si malakama yang menjadi aturan tidak tertulis di pasar becek maupun di pasar induk. Proses lelang yang pernah dilakukan pada era tahun 1960-an tidak pernah ada lagi di lapangan.

Bagaimana tentang kualitas produk? Peningkatan kualitas produk tidak masalah bagi petani karena petani tahu teknologinya dan mampu melakukannya. “Ada harga ada rupa” adalah istilah umum yang mereka pegang. Tetapi penjualannya masih mengalami kesulitan karena umumnya tidak bisa menjangkau pasar atau konsumen yang mampu membeli kualitas, bukan hanya kuantitas. Jangankan petani individual, petani dalam kelompok atau koperasi, tidak jarang mengalami kesulitan dalam menjual hasilnya di pasar moderen.

Kerjasama koperasi atau kelompok tani dengan supermarket sebagai contoh, tidak serta merta merupakan solusi yang memberikan mereka kemudahan. Ada biaya yang harus dibayar sebagai uang lapak untuk masing-masing jenis produk, kesepakatan untuk pembayaran tunda yang bisa mencapai satu bulan atau lebih, dan penerapan sistem konsinyasi yang menambah beban resiko bagi petani. Secara kasar dapat dikatakan bahwa produk di pasar moderen menjadi jualan tanpa modal karena barangnya diisi oleh petani dengan semua resiko ditanggung petani, semetara harganya bisa berlipat-lipat dari harga yang diterima petani. Semua ini tampaknya masih luput dari perhatian sehingga tidak mendapatkan perlindungan dari pemerintah. 

Bagaimana dengan usaha di sektor non pertanian? Banyak kasus yang merugikan usaha kecil karena mereka tidak terlindungi hukum. Kerjasama, interdependensi, saling membesarkan itu masih merupakan barang mewah. Pemasok bahan baku atau usaha konstruksi kecil yang bermodal kecil itu bersaing untuk mendapatkan pekerjaan sub kontrak kedua atau ketiga. Keuntungannya kecil, pembayarannya ditunda-tunda bahkan banyak kejadian dicicil, sampai si kecil ini kehabisan modal. Jika ada pekerjaan tambahan di luar kontrak dengan alasan komplain, akan  terpaksa dilakukan karena ada ancaman tidak akan diberikan kontrak baru jika tidak dikerjakan. Tentu ini sangat merugikan. Tetapi semua itu bisa terjadi dan tidak ada perlindungan hukum. Mau mengadu kepada siapa?

Upaya besar dengan biaya besar telah dilakukan tetapi perlindungan hukum bagi mereka masih belum memadai. Pengusaha kecil ini saling bersaing di antara mereka sendiri, sehingga terpaksa menerima kondisi yang tidak menguntungkan dalam tekanan sekedar agar usahanya bisa berlangsung.

Tepat sekali apabila para pelaku usaha kecil itu bisa membentuk korporasi sehingga mereka mempunyai posisi tawar yang tinggi dan bisa bersuara membela nasib anggotanya. Selain aturan yang jelas untuk melindunginya.

   === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018