Saturday, 15 August 2020


Teknologi Resapan Biopori: Untuk Konservasi Tanah dan Air, serta Perbaikan Lingkungan Hidup (4)

27 Jul 2020, 09:34 WIBEditor : Ahmad Soim

Penempatan lubang biopori | Sumber Foto: Kamir R Brata

Kamir R. Brata Innovator dan Motivator Teknologi  Resapan Biopori (e-mail: kamirbrata@gmail.com; HP: 087872381085)

 

TABLOIDSINARTANI.COM

 5. Lokasi Pembuatan LRB

Lokasi harus dipilih di tempat yang sesuai,  baik dari segi fisik, artistik,  maupun keamanan. Dengan diameter lubang cukup kecil, LRB dapat dibuat menyebar pada tempat-tempat dimana air hujan akan terkumpul dengan membuat alur atau cekungan. Lokasi seperti ini biasanya dapat berupa alur atau saluran (Gambar 5). Desain alur atau saluran ini sebaiknya disesuaikan dengan desain taman atau lansekap yang akan direncakan ataupun yang sudah ada. 

BACA JUGA: 

Teknologi Resapan Biopori: Untuk Konservasi Tanah dan Air, serta Perbaikan Lingkungan Hidup (1)

Teknologi Resapan Biopori: Untuk Konservasi Tanah dan Air, serta Perbaikan Lingkungan Hidup (2)

Teknologi Resapan Biopori: Untuk Konservasi Tanah dan Air, serta Perbaikan Lingkungan Hidup (3)

Untuk pertimbangan keamanan, LRB jangan dibuat di tempat lalu lalang manusia, atau di tengah lapangan bermain. Sebaiknya LRB ditempatkan pada dasar alur-alur yang sengaja dibuat untuk mengumpulkan serta mengarahkan air masuk ke dalam LRB.  Dengan ditempatkan pada dasar alur, manusia dan hewan peliharaan tidak akan melewatinya, karena pada umumnya mereka tidak suka berjalan di alur; tetapi air pasti akan lewat menuju alur. Penempatan LRB pada alur di sekitar tanaman di taman juga akan menghindari kaki terperosok, karena tempat-tempat seperti itu bukan merupakan tempat lalu lalang.

Beberapa alternatif penempatan LRB di antaranya adalah pada:

1. Saluran cucuran atap (Gambar 1)

2. Saluran tepi jalan setapak (Gambar 2)

3. Di sekeliling pohon (Gambar 3)

4. Perubahan kontur taman (Gambar 4)

6. Jumlah dan Jarak Antar LRB

Jumlah LRB yang perlu dibuat untuk setiap kapling dapat dihitung berdasarkan luas kapling dan intensitas curah yang menentukan volume air hujan yang jatuh di kapking yang bersangkutan; serta laju peresapan air melalui lubang yang dapat diamati dengan mengukur lamanya waktu yang diperlukan untuk menghabiskan volume air yang dimasukkan ke dalam LRB. Bila LRB dipelihara dengan pengisian sampah organik yang cukup, laju peresapan air ke dalam lubang umumnya meningkat dengan meningkatnya umur lubang. 

Hal ini terjadi karena bertambahnya aktivitas dan populasi keaneka-ragaman hayati yang mengakibatkan peningkatan biopori yang terbentuk.  Pengukuran laju peresapan air pada LRB yang baru dibuat merupakan laju peresapan terendah karena permukaan dinding lubang mengalami pemadatan oleh tekanan dan gesekan mata bor. Jadi bila angka laju peresapan yang terkecil yang digunakan, maka akan didapatkan hasil perhitungan jumlah lubang yang diperlukan terbanyak. 

Adapun jumlah LRB yang perlu dibuat dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

Jumlah LRB=   Intensitas hujan (mm/jam) x Luas bidang kedap (m2) dibagi Laju peresapan air perlubang (liter/jam)

Sebagai contoh, suatu daerah memiliki intensitas hujan 50 mm/jam yang dikategorikan hujan lebat. Kemudian akan dibuat LRB pada luas bidang kedap 100 m2 dan laju peresapan air per lubang 3 liter/menit atau 180 liter/jam. Maka jumlah LRB yang perlu dibuat adalah:

Jumlah LRB   =   50 mm/jam x 100 m2 dibagi 180 liter/jam

Jumlah LRB = 28 lubang

Lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm dapat menampung sekitar 7,8 liter sampah organik. Ini berarti bahwa setiap lubang dapat diisi dengan sampah organik selama 2-3 hari. Dengan demikian, 28 lubang yang tersedia baru dapat dipenuhi dengan sampah organik setelah 56 – 84 hari. 

Dalam selang waktu tersebut lubang-lubang yang diisi diawal sudah akan terdekomposisi menjadi kompos sehingga volumenya telah menyusut. Dengan demikian lubang-lubang ini sudah dapat diisi kembali dengan sampah organik baru dan begitu seterusnya.

Jarak antar lubang dapat ditentukan dengan mengukur panjang alur yang tersedia dan atau dapat dibuat dibagi dengan jumlah lubang yang diperlukan . Sebagai contoh, bila panjang alur air yang dapat dibuat adalah 14 m dan jumlah LRB yang diperlukan 28; maka jarak antar lubang adalah: 14 m : 28 = 0.5 m.

 

7. Merawat/Memanfaatkan LRB/SPB

LRB perlu dirawat agar manfaatnya dapat terus dirasakan. Merawat LRB ini sangat mudah. Cukup dengan menambahkan sampah organik yang dihasilkan sehari-hari ke dalam lubang. Penambahan sampah organik ke dalam LRB perlu dilakukan supaya bahan tanah yang terangkut air tidak sampai masuk lubang karena akan tersaring oleh sampah organik. 

Bila sampah organik yang dihasilkan setiap hari segera dimasukkan kedalam lubang, berarti tidak perlu ada kumpulan sampah menumpuk di dapur atau di pekarangan kita.  Dengan demikian dapat dihindari terjadinya pencemaran oleh bau busuk, dan bersarangnya lalat dan kecoa pada tumpukan sampah. 

Organisme tanah membutuhkan pakannya setiap hari agar dapat beraktivitas dan berkembang biak. Perakaran tanaman juga perlu nutrisi yang terkandung dalam humus. Aktivitas organisme tanah dan perakaran tanaman tersebut yang akan menciptakan liang-liang biopori di dalam tanah. Biopori akan terbentuk tanpa campur tangan langsung dari manusia, begitu pula perawatannya. 

Dengan menambahkan sampah organik secara berkelanjutan, maka pembentukan biopori akan terus berlangsung dan terjaga keberadaannya. Biopori inilah yang nantinya menjadi saluran air untuk meresap ke dalam tanah melalui permukaan dinding dan dasar LRB/SPB . Selain itu, penambahan sampah organik juga dapat menjaga dinding lubang tidak longsor. Dengan demikian, LRB/SPB akan dapat meresapkan air hujan dengan efektif. 

Bila sampah organik sudah dimanfaatkan untuk mengisi LRB/SPB, berarti sampah non-organik seperti plastik dan kaleng tidak tercampur dengan sampah organiknya.  Sampah non-organik yang terpisah ini akan memudahkan penggunaannya untuk didaur-ulang menjadi bahan kerajinan tangan atau bahan industri.  

Bila tidak dimanfaatkan sendiri, tentu dapat disumbangkan kepada pengumpul barang bekas (pemulung). Dengan demikian akan terjadi kerjasama saling membantu (simbiose mutualistik). Pemilik sampah membantu mempermudah pemulung tidak perlu mengais campuran sampah yang kotor, dan pemulung membantu mengangkut dan menggunakan sampah untuk daur ulang.  Bila semua jenis sampah yang dihasilkan oleh setiap rumah tangga, tentu masalah lingkungan yang diakibatkan oleh makin beratnya permasalahan dalam penanganan sampah akan dapat dihindari. Dinas kebersihan akan menangani sampah yang dihasilkan di pasar dan fasilitas umum lainnya. Jadi perawatan LRB/SPB sesungguhnya merupakan upaya pemanfaatan LRB/SPB yang sudah dibuat untuk memudahkan pelaksanaan program 3 R (reduce, reuse, dan recycle) lebih efektif dan efisien.

Sampah organik yang dimasukkan ke dalam LRB/SPB akan mengalami pelapukan dengan bantuan beraneka ragam organisme tanah. Hasil pelapukan tersebut berupa kompos. Sampah organik yang telah menjadi kompos ditandai dengan perubahan warna menjadi lebih gelap, sifatnya mudah hancur, dan beraroma seperti tanah. Ketika proses pelapukan benar-benar selesai, kompos akan berwarna coklat kehitaman dan menjadi rapuh mudan dihancurkan, yang disebut humus. Memanen kompos sebaiknya dilakukan di akhir musim kemarau, dan jika perlu hanya dilakukan setiap satu tahun sekali, tergantung kebutuhan.

Kompos bisa digunakan sebagai pupuk organik untuk berbagai jenis tanaman, seperti tanaman hias, tanaman buah, sayur-sayuran, dan jenis tanaman lain. Kompos dapat meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki kondisi fisik tanah, meningkatkan aktivitas organisme tanah, dan menambah bahan organik dalam tanah. Bahan organik mampu mengikat partikel tanah menjadi agregat tanah yang mantap, tidak mudah hancur oleh air. 

Bahan organik juga dapat menjerap air dan unsur hara sehingga tidak mudah hilang tercuci, tetapi mudah diserap oleh akar tanaman. Hal ini berguna dalam meningkatkan penyerapan akar tanaman terhadap air, mempermudah penetrasi akar ke dalam tanah, dan memperbaiki pertukaran udara dalam tanah, sehingga dapat mempercepat dan menyehatkan pertumbuhan tanaman.

(Tamat)

 

Daftar Pustaka

Brata, K. R. 1990.  The Effects of Plant Residue Addition on the Aggregation of a Hardsetting Western Australian Wheatbelts Soil.  M.Sc. Thesis. Department of Soil Science and Plant Nutrition, Faculty of Agriculture, The University of Western Australia, Nedlands.

Brata, K. R. 2004. Modifikasi Sistem Microcatchment Untuk Konservasi Tanah dan Air Pada Pertanian Lahan Kering. Makalah disampaikan pada Kolokium Hasil Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air.  Bandung, 5-6 Oktober 2004.

Brata, K. R. 2008. Implementasi Sistem Peresapan Biopori Untuk Konservasi Sumber Daya Air. Makalah disampaikan pada Paparan Sistem Peresapan Biopori di Ruang Rapat Dit. Bina Pengelolaan Sumberdaya Air, Ditjen. SDA, Jl. Pattimura 20, Jakarta Selatan, tanggal 19 Februari 2008.

Dexter, A.R. 1988. Soil amelioration by natrual processes. Proc. Symp. Soil Management, Toowoomba. pp 433-448.

Lavelle, P. 1988.  Earthworm activities and the soil system.  Biol. Fertil. Soils 6:237-251.

Lee, K.E. 1985.  Earthworms : Their Ecology and Relationships with Soils and Land Use.  Academic Press.  London.

Marinissen, J.C.Y. and A.R. Dexter.  1990.  Mechanisms of stabilization of earthworm casts and artificial casts.  Biol. Fertil. Soils  9:163-167.

McKenzie, B.M. and A.R. Dexter.  1987.  Physical properties of casts of the earthworm Aporrectodea rosea.  Biol. Fertil. Soils 5:152-157.

Shipitalo, M.J. and R. Protz. 1989.  Chemistry and micromorphology of aggregation in earthworm casts.  Geoderma  45:357-374.

 

Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018