
Alat tanam padi inovasi PPL Kaltara
TABLOIDSINARTANI.COM, Nunukan -- Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Bina Lawan Kecamatan Sebatik Barat Kabupaten Nunukan, Saharuddin, melakukan inovasi dengan membuat alat tanam padi manual yang bisa dimanfaatkan anggota kelompok tani untuk membantu petani yang kesulitan menanam padi terutama menghadapi musim tanam padi.
Menurut Saharuddin, alat tanam padi manual rancangannya ini kelebihannya jika dibandingkan dengan mesin tanam rice transplanter biasa adalah bisa digunakan pada kondisi lahan sawah berlumpur baik yang dalam maupun dangkal tidak ada istilahnya tenggelam, karena bobotnya hanya 19 kg.
“Untuk penggunaan benih padi juga tidak mesti disemai dengan menggunakan talam, cukup disemai di atas mulsa lalu dipotong dengan pisau cutter kemudian disesuaikan dengan lebar talam alat tanamnya,” katanya.
Selain itu alat ini juga mudah dibawa kemana-mana, dalam sistem pengoperasiannya cara kerja alat ini adalah ditarik.
“Sebenarnya awal mulanya itu di kelompok tani yang saya bina ada memiliki mesin tanam padi (rice transplanter) tapi kondisinya sekarang rusak tidak bisa digunakan lagi, karena sudah lama dan sering tenggelam di areal sawah yang berlumpur agak dalam, dari situ kita berfikir bagaimana caranya memodifikasi alat tanam padi menjadi lebih fleksibel, bisa digunakan sesuai dengan berbagai kondisi lahan sawah,” ungkap Saharuddin.
BACA JUGA:
Alat tanam padi manual ini awalnya kita buat untuk model jajar legowo 2:1 tapi dirasa agak ribet, karena dalam proses tanam kita dibuatnya bolak balik sehingga kurang efisien, akhirnya dimodifikasi lagi menjadi 5:1, meskipun demikian alat ini masih bisa digunakan untuk jajar legowo 2:1 tinggal diatur saja pemakaiannya.
“Kalau di pasaran mesin tanam padi manual seperti ini harganya mencapai Rp 4 jutaan ditambah lagi ongkos kirim, ada juga yang buatan luar negeri seperti vietnam tapi harganya jauh lebih mahal, proses pembuatan alat tanam manual ini kita kerjakan bekerjasama dengan sebuah bengkel,” bebernya.
Saharuddin menambahkan, bahan utama pembuatan alat ini adalah besi galvanis, sudah kita uji cobakan pada musim tanam padi tahun ini di Kecamatan Sebatik Barat hasilnya cukup memuaskan, dengan menggunakan alat tanam manual ini untuk luas lahan 1 hektar diperlukan waktu kerja sekitar 3 hari dengan jumlah pekerja 2 orang.
Sedangkan umur semai padi sudah bisa dipakai dengan menggunakan alat ini sekitar 15 hari, praktisnya alat tanam padi manual ini kalau ada barisan kosong yang belum tertanami padi, itu menjadi menjadi lebih mudah untuk diulangi.
Saharuddin mengakui, kelemahannya alat ini ada pada bagian bawahnya yang menggunakan alas dari bahan yang tipis dan terkadang mudah lepas, kalau kita gunakan bahan yang lebih tebal otomatis bobot alatnya akan bertambah juga, selain itu juga tidak memiliki Standart Nasional Indonesia (SNI), tapi sebenarnya alat seperti ini bisa praktis dan sangat membantu bagi petani di lapangan.
“Selain bisa mengatasi kurangnya tenaga kerja tanam, alat seperti ini juga menghemat biaya bahan bakar minyak (BBM) karena tanpa mesin, selain itu penggunaan bibit juga hemat, 1 lubang tanam bisa 3-4 benih tergantung cara penyetelannya,” tandasnya.
____
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/