Rabu, 28 September 2022


Ingin Ayam Sehat, Ini Saran Sugeng Wahyudi  

16 Sep 2022, 11:07 WIBEditor : Yulianto

Peternak ayam | Sumber Foto:ILUSTRASI

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Harga ayam (live bird) yang berada dibawah biaya pokok produksi membuat peternak, khususnya skala UKM merugi. Karena itu, berbagai faktor produksi mulai kendang, bibit ternak, pakan hingga SDM harus menjadi perhatian peternak agar produksi lebih efektif dan efisien.

Kandang menjadi salah satu faktor utama dalam produksi ayam yang efektif. Ada tiga jenis kandang yang biasa digunakan peternak mulai dari open house, semi closed house (modifikasi) dan closed house.

“Dari ketiga jenis kendang tersebut, kendang jenis close house lebih baik dari yang lain, namun biaya yang dibutuhkan jauh lebih besar,” kata Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan), Sugeng Wahyudi saat Webinar “Ayam Sehat Dimulai Dari Kandang” yang diselenggarakan Tabloid Sinartani, Kamis (15/9).

Sugeng menjelaskan, besaran biaya untuk membuat kandang close house mencapai Rp 100 ribu –120 ribu per ekor. Kalkulasinya, untuk memproduksi sekitar 20.000 ekor ayam, diperlukan biaya hingga Rp 2 miliar. Artinya tidak mudah bagi peternak membuat kandang closed house. Karena nilainya sangat tinggi.

Dengan keterbatasan modal, Sugeng mengatakan, peternak bisa memodifikasi kandang open house menjadi semi closed house. Namun tanpa mengurangi tingkat kenyamanan ayam seperti kendang close house. Bahkan untuk membangun kendang semi closed house ini, peternak hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp 40 ribu - 50 ribu per ekor. Jauh lebih murah.

Sugeng menilai, kandang sendiri memiliki fungsi yang sangat vital dalam proses produksi, mulai dari melindungi dari perubahan cuaca hingga melindungi ayam dari gangguan binatang. Jadi fungsi kandang harus mampu memanipulasi lingkungan sesuai kebutuhan ayam. Ini menjadi sangat penting. 

“Memastikan bahwa kandang nyaman bagi ayam mulai dari sekam, suhu ideal, penerangan, makan dan minum jelas dan tercukupi hingga chickguard (area brooding) harus dilakukan peternak,” tambahnya.

Sugeng yang juga Ketua Koperasi Wira Sakti Utama ini mengatakan, faktor lain yang menjadi perhatian adalah Day Old Chick (DOC). DOC yang baik harus memenuhi syarat kualitatif dan kuantitatif seperti berat badan 37 gram, lincah, mata cerah, kaki normal, berdiri tegak dan bersih bagian pusar.

“Tentunya ditunjukkan dengan surat keterangan dari perusahaan serta surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) yang biasanya melekat bersamaan dengan pengiriman DOC,” katanya.

Penanganan DOC

Namun lanjut Sugeng, persiapan dan penanganan DOC dalam kandang pada fase awal pemeliharaan juga sangat penting. Fase ini menentukan apakah ayam mampu menyesuaikan dengan lingkungan atau tidak. “Peternak harus memastikan kandang dalam kondisi bersih karena ini adalah masa-masa yang krusial yang akan menentukan ayam selanjutnya,” ujarnya.

Lepas dari umur 14 hari yang merupakan fase lanjutan, peternak harus rutin melakukan kontrol keadaan di dalam kendang. Mulai dari memastikan ketercukupan air dan pakan, keadaan comfort (nyaman), suhu, kualitas sekam, kecepatan angin, dan lain-lain hingga kontrol gejala penyakit dan penyakit yang menyerang ayam.

“Yang tidak kalah penting adalah kontrol berat badan baik itu per dua hari maupun mingguan, dari sana kita akan bisa memposisikan bahwa kualitas dari pakan yang kita berikan benar-benar jadi daging atau hilang,” ujarnya.

Peternak bisa menentukan pakan ayam sesuai kebutuhan dengan kualifikasi bentuk (crumble mesh), kandungan nutrien hingga aspek bisnis. Pemilihan pakan menurut Sugeng, hal yang strategis, karena hampir 70 persen biaya pokok produksi dihasilkan pakan.

Sumber Daya Manusia juga yang menjadi faktor krusial dalam peternakan ayam karena merupakan ujung tombak di kandang. Karena itu, peternak harus rutin mengontrol untuk mendampingi petugas atau anak kandang yang setiap hari di kandang. “Kontrol, kontrol dan kontrol. Itu kuncinya,” kata Sugeng.

Reporter : Herman/Ni'matun
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018