Kamis, 23 Mei 2019


Kambing Samosir, Plasma Nutfah Tano Batak

03 Mei 2019, 17:52 WIBEditor : Gesha

Kambing Samosir jadi plasma nutfah dari Sumatera Utara | Sumber Foto:Gunawan

Secara genetik dibandingkan dengan rumpun kambing di Indonesia, kambing panorusan samosir memiliki kedekatan jarak genetik (phenogram tree) secara berurutan dengan kambing marica, kambing benggala, kambing jawarandu, kambing kacang dan kambing muara.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Samosir --- Kabar gembira bagi insan peternakan. Pemerintah telah menetapkan rumpun kambing panorusan samosir sebagai kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia. Ini merupakan penetapan/pelepasan ternak ke-66 dari 74 ternak yang telah ditetapkan/dilepas, dan ternak ke-9 dari 10 rumpun/galur untuk jenis kambing.

Kambing Panorusan Samosir ditetapkan oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 40 Tahun 2017. Penetapan ini berdasarkan usulan Bupati Samosir Rapidin Simbolon.

Usulan penetapan Kambing Panorusan Samosir dikaji dan dinilai oleh Komisi Penilaian Penetapan dan Pelepasan Rumpun atau Galur Ternak (KP3RGT). KP3RGT beranggotakan para pakar dan ahli peternakan dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

Hasil kajian dan penilaian KP3RGT tersebut menjadi pertimbangan Menteri Pertanian untuk menetapkan Kambing Panorusan Samosir. Persyaratan dan tata cara penetapan rumpun atau galur ternak diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 117 Tahun 2014 tentang Penetapan dan Pelepasan Rumpun atau Galur Hewan.

Berdasarkan informasi dari peternak dan pemuka adat, Kambing Panorusan Samosir sudah ada semenjak adanya kehidupan awal mula Suku Batak yang berada di daerah Sianjur Mula-Mula di Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara dan telah dibudidayakan secara turun-temurun oleh masyarakat.

Terdapat beberapa nama untuk kambing ini antara lain kambing samosir, kambing putih dan kambing batak. Namun, pada saat penetapan disepakati namanya menjadi kambing panorusan samosir. Kata panorusan, diambil dari bahasa batak yang artinya titisan.

Sebaran asli geografis kambing panorusan samosir berada di Kabupaten Samosir yang berada di tengah-tengah Danau Toba. Kambing panorusan samosir menyebar merata di semua kecamatan (Harian, Nainggolan, Onan Runggu, Palipi, Pangururan, Ronggur Nihuta, Sianjur Mulamula, Simanindo, Sitiotio) di Kabupaten Samosir. Tahun 2015, populasi kambing panorusan samosir sebanyak 9.733 ekor (646 ekor jantan dan 9.087 ekor betina).

Kebijakan penetapan kambing panorusan samosir harus disertai upaya tindak lanjut.

Pertama, pendaftaran. Kambing panorusan samosir didaftarkan ke Organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization) dalam basis data Domestic Animal Diversity Information System (DAD-IS).

Pendaftaran disertai data yang memuat asal-usul, wilayah sebaran, karakteristik, informasi genetik, populasi dan foto. Pendaftaran dan pencatatan dalam basis data FAO dimaksudkan agar diakui dunia internasional dan mencegah diklaim negara lain.

Kedua, pembinaan. Pembinaan dilakukan kepada peternak melalui pendampingan, pelatihan dan pemberdayaan kelompok peternak agar menerapkan pembibitan ternak yang baik (Good Breeding Practices), budidaya ternak yang baik (Good Farming Practices), pakan ternak yang baik (Good Feeding Practices) dan kesehatan hewan.

Selain itu, pembinaan dapat dilakukan dengan pembiayaan pengadaan sarana pendukung utama usaha ternak. Pembinaan dilakukan secara terencana dan berkelanjutan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai kewenangan masing-masing.

Diharapkan peternak akan tumbuh dan berkembang sehingga lahir peternak dan kelompok peternak pembibit dan budidaya sebagai produsen bibit dan daging kambing.

Ciri Kambing Samosir

Kambing Panorusan Samosir memiliki bulu berwarna putih dan kombinasi belang putih hitam, tanduk berwarna kecokelatan, bentuk kepala kecil dan ramping dengan profil lurus, telinga berbentuk sedang tipe tegak mengarah ke samping, tanduk ke atas, janggut tumbuh dengan baik pada jantan dan tidak begitu lebat pada betina, punggung lurus dan pada beberapa kasus terlihat agak melengkung dan semakin ke belakang semakin tinggi sampai pinggul, bulu pendek halus dan lembut, garis muka lurus, ekor pendek, kecil dan tegak.

Adapun sifat kuantitatif kambing panorusan samosir yaitu bobot badan 28 kg (jantan) dan 21 kg (betina), tinggi pundak 48 cm (jantan) dan 50 cm (betina), panjang badan 52 cm (jantan) dan 57 cm (betina), lingkar dada 51 cm (jantan) dan 57 cm (betina), serta panjang telinga 10 cm (jantan) dan 9 cm (betina).

Karakteristik sifat reproduksi Kambing Panorusan Samosir antara lain jumlah anak sekelahiran 1 sampai 2 ekor per tahun, jumlah anak sapih 1,25 ekor, selang beranak 283 hari, laju reproduksi induk 1,6 ekor per tahun, dan produktivitas induk 13 kg per ekor per tahun.

Secara genetik dibandingkan dengan rumpun kambing di Indonesia, kambing panorusan samosir memiliki kedekatan jarak genetik (phenogram tree) secara berurutan dengan kambing marica, kambing benggala, kambing jawarandu, kambing kacang dan kambing muara.

Kambing panorusan samosir berperan penting dalam acara adat seperti pernikahan, pembangunan rumah, pembangunan makam/tugu, pengobatan orang sakit dan ritual tolak bala.

Kambing yang digunakan untuk acara adat tersebut adalah kambing jantan berwarna putih (mulai dari kepala, tubuh, kaki, tanduk sampai kuku). Jadi, kambing jantan memiliki nilai jual lebih tinggi dari betina. Rumpun kambing ini dapat berkembangbiak dengan baik pada kondisi dataran tinggi berbukit dan berbatuan.

 

Reporter : Gunawan Sitanggang
Sumber : Pengawas Bibit Ternak
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018