
HKTI di bawah Sudaryono kini bersatu setelah dualisme panjang, memperkuat peran sebagai mata telinga dan corong pemerintah di sektor pertanian nasional.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- HKTI di bawah Sudaryono kini bersatu setelah dualisme panjang, memperkuat peran sebagai mata telinga dan corong pemerintah di sektor pertanian nasional.
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) memasuki usia ke-53 dengan semangat baru di bawah kepemimpinan Ketua Umum Sudaryono.
Dalam momentum hari jadi yang digelar di Kantor Kementerian Pertanian, Sudaryono menegaskan, HKTI kini telah bersatu setelah melewati lebih dari satu dekade dualisme organisasi.
Menurutnya, konsolidasi tersebut menjadi titik balik penting bagi HKTI untuk kembali memainkan peran strategis sebagai mitra pemerintah, khususnya dalam sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.
“HKTI hari ini satu. Kita menyatukan kembali kekuatan petani Indonesia, dan siap menjadi mata, telinga, sekaligus corong pemerintah,” ujar Sudaryono dalam sambutannya.
Ia menekankan bahwa dalam 1,5 tahun terakhir pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, HKTI aktif terlibat dalam mendukung berbagai kebijakan strategis di sektor pangan.
Salah satu indikatornya adalah meningkatnya cadangan beras pemerintah yang kini disebut telah menembus lebih dari 5 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Tak hanya itu, Sudaryono yang juga menjabat Wakil Menteri Pertanian menyebut kondisi di lapangan menunjukkan optimisme.
Dari hasil kunjungannya ke sejumlah daerah seperti Purwokerto, OKU Timur, dan Jambi, ia melihat hamparan padi siap panen yang menandakan produksi pangan nasional masih kuat.
“Panen raya masih akan berlangsung hingga pertengahan Mei. Ini sinyal positif bahwa produksi kita terjaga,” katanya.
Sudaryono juga menyoroti kedekatan historis Presiden Prabowo dengan HKTI.
Sebelum menjadi Presiden, Prabowo diketahui pernah menjabat sebagai Ketua Umum HKTI selama dua periode.
Hal ini, menurut Sudaryono, membuat kebijakan pemerintah saat ini sangat berpihak kepada petani.
Ia mengungkapkan bahwa dalam waktu relatif singkat, pemerintah telah menerbitkan lebih dari 20 regulasi terkait pangan, mulai dari Peraturan Presiden hingga Instruksi Presiden.
“Tidak ada petani yang kita tinggalkan. Semua persoalan kita cari solusi bersama,” tegasnya.
Di bawah kepemimpinannya, Sudaryono menargetkan HKTI menjadi organisasi yang lebih aktif dan responsif terhadap persoalan petani di lapangan.
Selain menjadi mitra strategis pemerintah, HKTI juga akan memperkuat jaringan penyuluh swadaya hingga ke desa-desa.
Menurutnya, keberadaan penyuluh dari kalangan petani sendiri menjadi kekuatan tambahan dalam menyebarkan informasi dan program pemerintah.
“HKTI akan terus hadir di tengah petani, memastikan kebijakan sampai ke akar rumput,” pungkasnya.
Dengan semangat persatuan yang kembali terbangun, HKTI di era Sudaryono kini menegaskan perannya sebagai penghubung utama antara petani dan pemerintah, sebuah langkah yang diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional ke depan.