Kamis, 18 Juli 2024


Singkong, Potensi yang Dipinggirkan

05 Jul 2024, 12:04 WIBEditor : Yulianto

Petani singking di lahan food estate | Sumber Foto:dok. sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Sejumlah literatur menyebutkan singkong berasal dari Amerika Latin (Amerika Selatan), seperti Brasil, Peru dan Paraguay. Sejak dibudidayakan serius oleh Suku Indian Maya, komoditas ini menjadi salah satu penopang pangan, lalu menyebar ke seantero dunia, termasuk Indonesia. Menurut Haryono Rinardi dalam buku Politik Singkong Zaman Kolonial, singkong masuk ke Indonesia dibawa Portugis ke Maluku sekitar abad ke-16.

Singkong atau ubi kayu memiliki segudang manfaat yang sebenarnya lebih banyak dibandingkan komoditas pangan lainnya. Aneka ragam produk olahannya dinikmati lintas kelas, menutup jurang sekat sosial masyarakat. Istilah jajanan, gorengan atau rebusan sudah identik dengan singkong. Praktis dan enak. Bahkan, lebih nikmat dan merakyat dibandingkan French Fries dari kentang yang menghiasi jutaan café dan resto di Indonesia.

 

Pertanyaannya mengapa belum banyak singkong/cassava fries dengan bahan baku singkong lokal? Tentu perlu dipahami bahwa pendekatan yang dilakukan harus komprehensif. Baik dalam konteks usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) maupun dalam skala industri.

Selama ini singkong dianggap sebagai pangan inferior, padahal kaya nutrisi dan serat, kandungan indeks glikemik (IG) jauh lebih rendah dibandingkan kentang dan nasi.  IG singkong sebesar 55 jauh lebih rendah dibandingkan beras di angka 73 dan kentang sebesar 78.

IG adalah angka yang menunjukkan potensi peningkatan gula darah dari karbohidrat yang terdapat pada pangan yang dikonsumsi manusia. Hal ini akan memiliki efek pada peningkatan terhadap kadar glukosa dalam darah. Singkat kata, singkong lebih aman dikonsumsi bagi penderita penyakit diabetes.

Bahan Baku Industri

Selain konsumsi langsung, singkong juga merupakan bahan baku berbagai industri, seperti makanan/minuman, tekstil, hingga minyak dan gas bumi (migas), serta beberapa industri lainnya. Salah satunya adalah tapioka yang merupakan pati dari singkong. Ampas-nya yang biasa disebut onggok, bisa menjadi campuran tepung roti, saus, hingga pakan ternak.

Kebutuhan singkong untuk industri ini sangat besar. Ironisnya, dengan potensi yang cukup besar di Indonesia, olahan singkong untuk memenuhi bahan baku industri ini terkadang jadi polemik. Sering kita dengar impor singkong dalam jumlah cukup banyak. Sebenarnya yang diimpor bukan singkong mentah, tapi dalam bentuk tapioka atau olahan lainnya.

Saat ini Indonesia merupakan negara penghasil singkong terbanyak keempat dunia. Satu dekade silam, posisi Indonsia masih masuk dalam tiga besar.  Berturut-turut adalah Nigeria sebanyak 57 juta ton, Thailand 30 juta ton, Brasil 23 juta ton dan Indonesia 19-20 juta ton.

Sentra produksi singkong tersebar di 13 provinsi dengan lima besar adalah Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan DI Yogyakarta. Data Kementerian Pertanian menyebutkan luas areal penanaman singkong tahun 2019 sebesar 628.305 ha dan produksi sebanyak 16,35 juta ton.

Singkong sebenarnya bisa sebagai alternatif dari beras, dan jagung sehingga menjadi penyangga stabilitas ekonomi dan pangan karena dapat tumbuh di lahan kering maupun tandus. Kondisi ini sangat cocok dengan situasi iklim global, perubahan cuaca ekstrim, hingga tanaman yang adaptif agar bisa memenuhi kebutuhan pangan. Kekhawatiran pada El Nino, La Nina hingga berbagai situasi lainnya seharusnya menguatkan kita bahwa singkong menjadi solusinya.

Dari sisi transaksi ekonomi juga perlu dilihat secara khusus. Data BPS 2012 lalu, menunjukkan nilai pedagangan bahan baku singkong saja mencapai Rp 20 triliun/tahun. Sedangkan nilai total dengan berbagai produk turunan dan ekspor produk turunan sekitar satu dekade lalu mencapai Rp 100 triliun. Angka tersebut semakin meningkat jika tapioka atau tepung turunan dari singkong didorong untuk mengisi 5%-10% pangsa pasar terigu.

Bagaimana nasib petani singkong? Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : Heri Soba (Sekjen MSI)
Sumber : MSI
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018