
Margin fee penyalur pupuk bersubsidi bakal disesuaikan! Setelah 15 tahun tak berubah, pemerintah akhirnya buka peluang revisi agar penyalur tetap semangat dan distribusi makin tepat sasaran.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Transformasi tata kelola pupuk bersubsidi terus digulirkan PT Pupuk Indonesia (Persero). Tahun ini, perusahaan pelat merah itu mulai mengimplementasikan regulasi terbaru Peraturan Presiden No 6 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 15 Tahun 2025 dengan mengakselerasi peran Gapoktan sebagai titik serah dalam penyaluran pupuk bersubsidi.
SPV Penjualan dan Pelayanan Pelanggan PT Pupuk Indonesia Deni Dwiguna Sulaeman mengatakan, untuk mendukung tata kelola pupuk subsidi sesuai regulasi terbaru, Pupuk Indonesia membuka kesempatan luas bagi koperasi, dan Gapoktan untuk berperan aktif sebagai kios atau penyalur pupuk bersubsidi.
"Dalam dua tahun terakhir, Pupuk Indonesia terus mendorong penambahan titik serah baru agar petani semakin mudah mengakses pupuk bersubsidi," katanya saat Sosialisasi Gapoktan sebagai Titik Serah Pupuk Subsidi yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PIHC di Jakarta, Selasa (22/7).
Berdasarkan data yang dihimpun hingga Juli 2025, jumlah pengecer atau kios meningkat dari 26.164 pada 2023 menjadi 27.319 di 2025, termasuk tambahan dari Gapoktan yang siap ditetapkan sebagai titik serah. ”Kami sudah mendapatkan usulan titik serah pupuk bersubsidi dari Pusat Penyuluh Pertanian,” ujarnya.
Pada tahap I ada 10 usulan koperasi berdasarkan SIMLUHTAN (Sistem Penyuluh Pertanian) per 20 Februari 2025. Dari ususlan tersebut 7 koperasi dinyatakan layak sebagai calon penyalur, 4 koperasi dinyatakan ditunjuk sebagai calon penyalur.
Kemudian pada tahap II ada 142 Gapoktan yang siap sebagai penyalur, 80 Gapoktan dinyatakan layak sebagai calon penyalur. Pada tahap III ada 214 Gapoktan yang siap sebagai penyalur, dari sana 129 Gapoktan dinyatakan layak sebagai calon penyalur.
Dengan demikian dari tahap II dan III, total ada 209 Gapoktan dinyatakan layak sebagai calon penyalur. Namun hanya 132 gapoktan yang ditunjuk sebagai calon penyalur, sedangkan 77 Gapoktan tidak ditunjuk sebagai calon penyalur.
Sedangkan pada tahap IV ada 481 Gapoktan yang siap sebagai penyalur dan tahap V ada 1.165 Gapoktan yang siap sebagai penyalur. “Saat ini sedang berjalan verifikasi kesiapan Gapoktan menjadi titik serah tahap IV dan tahap V oleh Tim Penjualan Wilayah PT Pupuk Indonesia,” tambahnya.
Pada kesempatan itu, Deni menegaskan, pihaknya terus berkomitmen memastikan penyaluran pupuk bersubsidi berjalan optimal sesuai dengan amanat pemerintah. Hingga 21 Juli 2025, penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai 4,19 juta ton atau 43,9 persen dari total alokasi berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian.
”Capaian ini dinilai lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun angka tersebut masih di bawah 50%,” kata Deni saat Sosialisasi Gapoktan sebagai Titik Serah Pupuk Bersubsidi dan Peretanian Modern yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Selasa (22/7).
Kondisi penyaluran yang belum mencapai setengah dari alokasi tersebut menurut Deni menjadi perhatian serius. Karena itu, diperlukan upaya bersama di lapangan agar pupuk bersubsidi yang dialokasikan benar-benar diterima petani.
Secara nasional, Deni mengungkapkan, ketersediaan stok pupuk berada dalam kondisi aman. Saat ini stok urea mencapai 618.270 ton dan NPK sebanyak 630.380 ton. Jumlah tersebut, cukup untuk memenuhi kebutuhan dua bulan ke depan. Produksi juga terus dilakukan oleh anak perusahaan PI demi menjaga ketersediaan pasokan.