Senin, 15 Desember 2025


Jadi Penerima Pupuk Bersubsidi, Gapoktan perlu Direvitalisasi

03 Sep 2025, 10:54 WIBEditor : Yulianto

Petani sedang memberikan pupuk

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Penyaluran pupuk bersubsidi di Indonesia memasuki babak baru dengan keterlibatan Gapoktan dan Koperasi Desa Merah Putih sebagai titik serah. Langkah ini tidak hanya menjadi strategi pemerintah meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga sebagai upaya memperkuat peran kelembagaan petani di tingkat lokal.

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) secara aktif mendorong penguatan Gapoktan agar mampu menyalurkan pupuk bersubsidi kepada anggota dan pembudidaya pertanian yang membutuhkan.

Tedy Dirhamsyah, saat masih menjadi Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP mengatakan, hasil identifikasi tidak semua Gapoktan siap menjadi titik serah pupuk bersubsidi. Fenomena ini menjadi tantangan utama karena hanya Gapoktan yang siap secara kelembagaan dan finansial yang dapat menjadi titik serah yang efektif.

Ada sejumlah kendala yang harus dihadapi. Dari data BPPSDMP, tercatat terdapat sekitar 45.000 Gapoktan di seluruh Indonesia, tetapi persoalan permodalan masih menjadi kendala utama. Banyak Gapoktan yang belum memiliki modal cukup untuk menyimpan pupuk dalam jumlah besar, sementara penyimpanan yang memadai merupakan salah satu syarat penting agar pupuk dapat tersalurkan dengan baik dan aman.

“Permodalan belum memadai, keterbatasan gudang, keterbatasan SDM manajerial, persyaratan belum lengkap, dan ada keraguan terutama banyak kios yang berdekatan,” ujarnya saat webinar Penguatan Titik Serah Pupuk Bersubsidi dan Peran Koperasi Desa Merah Putih yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (28/8).

Keterbatasan SDM manajerial juga menjadi masalah, karena pengelolaan pupuk bersubsidi membutuhkan sistem pencatatan, pelaporan, dan kontrol yang baik agar distribusi tepat sasaran. Untuk itu, peran penyuluh menjadi sangat krusial.

“Penyuluh tidak hanya mendampingi Gapoktan dalam kegiatan sehari-hari, tetapi juga berfungsi sebagai pembimbing dalam mengakses fasilitas keuangan, mengelola logistik, dan membangun kapasitas SDM,” tuturnya.

Tedy menekankan penyuluh berperan memberikan edukasi mengenai persyaratan menjadi titik serah pupuk, manfaatnya, serta prosedur operasional agar Gapoktan bisa berfungsi optimal. “Penyuluh menjadi pembimbing dan pendamping yang memastikan Gapoktan mampu menjalankan tugasnya,” ujarnya.

Identifikasi Gapoktan

Tedy yang kini menjadi Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, BPPSDMP mengatakan, pengembangan Gapoktan diawali dengan identifikasi petani potensial yang layak menjadi anggota kelompok tani. “Kemudian kita melihat dan mengetahui banyak Poktan yang kurang aktif, sehingga perlu revitalisasi. Kita dorong penataan Poktan yang tidak aktif tersebut agar bisa kembali berfungsi secara optimal,” katanya

Langkah revitalisasi ini menjadi penting karena banyak Poktan yang selama ini hanya tercatat secara administratif, tetapi tidak aktif melakukan kegiatan produktif. Dengan pendataan dan penataan kembali, Gapoktan dapat menjadi tulang punggung penyaluran pupuk bersubsidi, sekaligus memperkuat posisi tawar petani di hadapan stakeholder lainnya.

Selain revitalisasi, pemerintah mendorong pengembangan gabungan kelompok tani. Tujuannya agar Gapoktan lebih kuat, baik secara kelembagaan maupun dalam kemampuan finansial, sehingga mampu mengelola distribusi pupuk bersubsidi dengan lebih efisien.

“Jadi bagaimana Poktan dinaikkan dan ditingkatkan kelasnya, baik dari kemampuan, maupun penumbuhan pengembangan unit-unit kegiatan lainnya,” tambah Tedy. Dengan demikian, Gapoktan tidak hanya menjadi titik serah pupuk, tetapi juga pusat pengembangan usaha pertanian yang berkelanjutan.

Tak kalah penting, pemerintah juga mendorong pengembangan jejaring dan kemitraan usaha dari Gapoktan. Dengan jaringan yang lebih luas, Gapoktan bisa memperluas akses pembiayaan, memperoleh teknologi pertanian, dan memperkuat kolaborasi dengan pihak swasta maupun pemerintah.

Hal ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan, sehingga petani tidak lagi bekerja sendiri, tetapi dalam jaringan yang solid dan terstruktur.

Pemeritah ungkap Tedy, juga memanfaatkan sistem digital untuk mendukung tata kelola pupuk bersubsidi. Pendataan anggota dan kebutuhan pupuk dilakukan melalui platform digital yang memungkinkan alokasi pupuk lebih tepat sasaran.

Hal ini juga mempermudah monitoring distribusi dan penebusan pupuk, sehingga pemerintah dapat memastikan subsidi benar-benar sampai ke petani yang berhak. Dengan sistem digital, Gapoktan dapat mengelola stok pupuk secara lebih transparan dan efisien.

Selain Gapoktan, keterlibatan Koperasi Desa Merah Putih menjadi langkah strategis tambahan. Koperasi ini berperan sebagai mitra dalam penyaluran pupuk bersubsidi, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan akses Gapoktan.

Reporter : Gsh
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018